5 Hal yang Dipikirkan Para Calon Ayah ini Ternyata Hanya Mitos

Salah satu hal yang mungkin ditakuti kaum Adam adalah menjadi seorang ayah. Ketakutan tersebut akhirnya memicu pemikiran-pemikiran salah tentang dunia pengasuhan anak atau hal-hal yang berkaitan dengan menjadi orang tua.

Tidak bisa dipungkiri, hidupmu pasti akan mengalami perubahan setelah menyandang status sebagai seorang ayah. Namun, hal tersebut tidak seburuk yang kamu pikirkan, kok. Hilangkan juga pemikiran-pemikiran salah yang justru bisa menjauhkan dirimu dari Si Kecil.

5 Hal yang Dipikirkan Para Calon Ayah ini Ternyata Hanya Mitos

Berikut penjelasan mengenai pemikiran-pemikiran salah yang mungkin muncul di benakmu:

Bayi hanya membutuhkan sosok ibu. Kamu mungkin berpikir bahwa bayi lebih butuh sentuhan hangat seorang ibu karena keduanya telah memiliki kedekatan batin lebih dulu di dalam kandungan. Padahal tidak begitu adanya. Dia juga memiliki kedekatan denganmu karena biar bagaimanapun juga, makhluk kecil ini merupakan darah dagingmu.

Peranmu juga sangat penting dalam kehidupannya. Menurut penelitian, anak yang memiliki kedekatan dengan sang ayah lebih mungkin menjadi pribadi yang lebih baik.

Nah, untuk membangun kedekatan dengan Si Kecil, kamu bisa membantu memberikan susu botol selagi istrimu memerah ASI, mengajaknya bermain, membacakan dongeng, atau hal lain yang bisa membuat kalian bersama.

Yang perlu diingat adalah kamu itu seorang ayah, jadi kamu tidak harus melakukan hal yang dilakukan seorang ibu agar dekat dengan anaknya. Lakukanlah dengan caramu sendiri serta ikuti insting kebapaanmu.

Pria tidak bisa mengasuh bayi. Hanya ada satu hal yang tidak bisa kamu lakukan, yakni menyusui bayimu. Selain hal tersebut, kamu bisa, kok, mempelajari segala hal yang berkaitan dengan pengasuhan bayi seperti menggantikan popok, memandikan bayi, memberinya makan, menidurkannya, serta menenangkannya saat menangis.

Tidak bisa lagi berprestasi. Dengan memiliki anak, kamu mungkin berpikir bahwa kariermu dapat terhambat atau tidak bisa lagi menuai prestasi. Tapi pemikiran tersebut salah. Coba kamu lihat di luar sana, masih banyak, kok, pria sukses yang menyandang status sebagai ayah. Semua itu tergantung dari bagaimana kamu bisa menyeimbangkan antara kehidupan karier dan keluarga.

Lagipula, menjadi ayah yang baik merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa, lho!

Kehilangan waktu bergaul dengan teman. Ya, ketika baru memiliki anak, kamu memang sudah tidak bisa bermain seleluasa sebelumnya. Namun, kamu tetap bisa, kok, bergaul dengan teman-temanmu, meski waktunya tidak sesering biasanya. Misalnya bertemu hanya sebulan sekali atau kamu bisa mengajak teman-temanmu berkumpul di rumahmu, sehingga kamu tetap bisa siaga ketika Si Kecil membutuhkanmu.

Intinya, ketika menjadi seorang ayah, kamu sudah harus lebih bijak memakai waktumu.

Oia, kamu tidak perlu takut bahwa kamu akan kehilangan teman-temanmu karena jarang bertemu. Ingat, pertemanan sejati tidak akan rusak hanya karena hal tersebut.

Takut tidak bisa menjadi ayah yang baik. Sebenarnya apa, sih, yang terlintas di pikiran ketika mendengar ‘ayah yang baik’? Apakah menurutmu menjadi ayah yang baik itu harus sempurna dalam mengasuh anak? Jawabannya adalah tidak. Menjadi ayah yang baik tidak selalu berkaitan dengan bagaimana pintarnya kamu menggendong bayi atau betapa hebatnya kamu memandikannya. Intinya, menjadi ayah yang baik bermula dengan menjadi suami yang baik, di mana kamu selalu ada untuk istrimu selagi dia hamil. Kamu juga berusaha untuk menciptakan sebuah keluarga yang dipenuhi kehangatan cinta

Lagipula, tidak tidak ada manusia di dunia ini yang bisa menjadi ayah yang sempurna. Yang terpenting adalah bagaimana kamu mau mempelajari dan benar-benar mempraktikkannya.

Jadi, intinya adalah tidak perlu memikirkan hal-hal yang bisa membuatmu takut menjadi seorang ayah. Jalani saja dengan santai, namun penuh tanggung jawab.