5 Hal Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Kehamilan Sungsang

Selama di dalam kandungan, janin akan berputar dan mengubah posisi. Namun, keadaan ini tidak akan berlangsung terus karena pada akhirnya janin akan menetap dalam posisi kepala di bawah setelah usia kehamilan 36 minggu. Ini adalah posisi janin yang normal dan paling aman untuk dilahirkan.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan juga bahwa janin berada pada posisi yang tidak normal mendekati waktu persalinan, misalnya berbaring melintang. Selain itu, bayi juga bisa berposisi vertikal dengan kaki di bawah atau disebut sungsang.

5 Hal Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Kehamilan Sungsang - Alodokter

Berikut adalah beberapa hal yang perlu Bunda ketahui tentang posisi janin yang tidak normal untuk membantu mengambil keputusan penanganan terbaik.

Apa yang Menjadi Tanda-tanda Posisi Janin Tidak Normal?

Bunda kemungkinan baru bisa merasakan bahwa bayi dalam posisi sungsang ketika kehamilan sudah mencapai usia di atas 36 minggu. Jika Bunda merasakan kepala bayi menekan bagian perut atas atau Bunda merasa Si Kecil menendang-nendang di bagian perut bawah, upayakan untuk memeriksakannya ke dokter kandungan untuk mendapatkan kepastian posisi janin.

Saat memeriksa kondisi kehamilan Bunda, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi di dalam rahim. Di situlah akan tampak jelas apabila ternyata bayi berada di posisi sungsang. Dokter juga akan memastikan apakah posisi janin sungsang pada pemeriksaan dalam vagina (vaginal touche).

Apa yang Menjadi Penyebab Posisi Janin Tidak normal?

Pada sebagian besar kasus yang pernah terjadi, penyebab posisi bayi sungsang belum diketahui secara jelas. Namun satu kondisi yang bisa memicu kelahiran sungsang adalah kadar cairan ketuban yang abnormal di sepanjang kehamilan. Selain itu, bayi yang lahir prematur dan bayi kembar lebih rentan untuk mengalami posisi sungsang.

Apakah Ada Prosedur Medis untuk Mengubah Posisi Janin?

Bila setelah pemeriksaan dengan USG diketahui bahwa posisi janin sungsang, dokter bisa merekomendasikan Bunda untuk menjalani senam khusus di rumah guna membantu mengubah bayi ke posisi normal, yaitu posisi kepala bayi di bawah perut Bunda.

Selain senam, dokter berupaya mengubah posisi janin melalui prosedur versi luar (External Cephalic Version/EVC). Perlu diperhatikan bahwa prosedur ini hanya boleh Bunda jalani pada usia kehamilan 37 minggu ke atas. Dokter akan menggunakan kedua tangannya pada perut Bunda untuk mengubah posisi bayi. Jika prosedur ini berhasil dan kepala bayi bisa berada di bawah dan kaki bayi di atas, maka persalinan normal melalui vagina menjadi pilihan utama.

Namun, prosedur ini tidak menggaransi bahwa bayi dapat berubah ke posisi normal, di mana kemungkinan keberhasilan adalah 50-58 persen. Selain itu, perhatikan pula bahwa walaupun bayi  bisa berubah ke posisi normal melalui prosedur ini, tetap tidak menutup kemungkinan bahwa Si Kecil bisa kembali ke posisi sungsang. Di samping itu, prosedur EVC ini memiliki beberapa risiko, antara lain:

  • Pecah ketuban dini.
  • Memicu kelahiran.
  • Kehilangan sejumlah kecil darah, baik pada ibu maupun bayi.
  • Kondisi gawat janin yang memicu persalinan secara caesar.
Walaupun risiko tersebut kecil, namun sebagian dokter memilih untuk tidak mencoba prosedur EVC atas alasan berisiko bagi keamanan ibu dan janin. Ditambah lagi, tidak semua ibu dapat menjalani prosedur EVC. Seperti apa kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk menjalani prosedur EVC?
  • Mengandung bayi kembar.
  • Detak jantung bayi abnormal.
  • Pecah ketuban dini.
  • Adanya perdarahan vagina.
  • Jumlah air ketuban di rahim sedikit.
  • Plasenta berada dekat atau menutupi mulut rahim (plasenta previa).

Apakah Ada Komplikasi dari Kehamilan dan Persalinan Sungsang?

Secara umum, kehamilan sungsang sendiri bukanlah merupakan suatu kondisi yang berbahaya, hingga pada akhirnya tiba saatnya waktu persalinan.  Ketika janin yang sungsang ini tetap dilahirkan secara normal melalui vagina, maka bayi lebih mungkin terluka selama proses persalinan atau setelah dilahirkan jika dibandingkan dengan posisi janin normal. Bayi sungsang yang dilahirkan melalui vagina juga lebih mungkin mengalami cedera lahir, misalnya terpisahnya sendi pinggul dan tulang paha.

Komplikasi lainnya berkaitan dengan tali pusar. Serupa dengan kondisi sebelumnya, komplikasi ini lebih cenderung menimpa bayi sungsang yang tetap dilahirkan secara normal melalui vagina. Komplikasinya, tali pusar akan terjepit selama proses persalinan sehingga berisiko menyebabkan kerusakan saraf dan otak bayi akibat kekurangan oksigen.

Lahir Secara Caesar

Pada sebagian besar kasus, cara paling aman untuk melahirkan bayi sungsang adalah dengan operasi caesar. Apabila bayi masih berada pada posisi sungsang hingga mendekati hari persalinan, maka dokter kemungkinan akan merencanakan operasi caesar pada Bunda.

Namun pada beberapa kasus, operasi caesar bukanlah pilihan yang terbaik. Contohnya, bila proses persalinan berjalan terlalu cepat, persalinan normal melalui vagina menjadi pilihan satu-satunya. Selain itu, pada kasus bayi kembar di mana bayi yang lahir pertama posisinya normal dan yang kedua posisinya sungsang, pilihan yang terbaik adalah melahirkan kedua bayi secara normal melalui vagina.

Walaupun operasi caesar merupakan cara yang lebih aman untuk sebagian besar kasus bayi sungsang, namun tetap ada risiko yang akan dihadapi Bunda, seperti perdarahan, infeksi, termasuk kemungkinan bahwa ibu dan bayi perlu dirawat di rumah sakit lebih lama.

Terlepas dari apa pun posisi janin Bunda, yakinlah bahwa tiap persalinan adalah unik. Bunda tidak perlu membanding-bandingkan kondisi Bunda dengan ibu lainnya. Di samping itu, meskipun Bunda dan dokter telah membuat rencana persalinan, namun rencana tersebut tetap bisa berubah pada hari pelaksanaan. Jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, dokter akan mengambil keputusan cepat demi menjaga keamanan Bunda dan bayi.