5 Komplikasi Kehamilan yang Paling Sering Terjadi

Pada dasarnya, kebanyakan kehamilan berlangsung normal-normal saja. Namun, ada juga kondisi kehamilan yang memerlukan perawatan atau pengobatan khusus. Komplikasi kehamilan mungkin saja terjadi pada ibu hamil, tanpa memandang usia kehamilan. Karena itu, Anda perlu mengetahui masalah medis yang serius agar memahami cara menanganinya jika diperlukan.

Seorang wanita yang telah memiliki masalah kesehatan sebelum hamil lebih berkemungkinan untuk mengalami komplikasi kehamilan pada saat dirinya hamil nanti. Pada kasus yang berbeda, ada sebagian wanita yang mengalami komplikasi kehamilan ketika tengah mengandung.

komplikasi kehamilan - alodokter

Komplikasi kehamilan dapat berupa gangguan pada fisik dan mental. Hal ini juga bisa terjadi baik pada ibu maupun bayi di dalam kandungan. Gejalanya pun bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Pada kasus-kasus yang parah, komplikasi kehamilan dapat mengancam jiwa.

Agar Anda lebih paham dan waspada, berikut ini informasi mengenai 7 komplikasi kehamilan yang umum terjadi dan harus diantisipasi.

Morning sickness

Mual dan muntah selama awal kehamilan tampaknya menjadi hal yang biasa dijumpai pada ibu hamil. Ibu hamil juga menjadi lebih sensitif terhadap bau-bauan tertentu. Mual dan muntah umumnya terjadi pada pagi hari dan mereda pada siang dan malam hari. Meski begitu, ada juga yang mengalaminya sepanjang hari.

Morning sickness paling cepat dimulai ketika kehamilan berusia empat minggu, namun kebanyakan ibu hamil mulai merasakannya pada usia kehamilan enam minggu. Kondisi ini akan berangsur-angsur mereda seiring bertambahnya usia kehamilan. Kondisi ini pun berbeda-beda pada tiap orang karena ada morning sickness yang hilang sama sekali pada usia kehamilan 14 minggu, namun ada juga yang masih mengalaminya hingga menjelang hari kelahiran.

Penyebab morning sickness belum diketahui dengan pasti, namun keberadaan hormon kehamilan hCG (human chorionic gonadotropin) dan estrogen yang meningkat diduga menjadi penyebabnya.

Keguguran

Keguguran diartikan sebagai kematian janin di dalam kandungan saat usianya belum mencapai 20 minggu. Tanda-tanda terjadinya keguguran adalah perdarahan di vagina, perut terasa sakit tidak tertahankan, keram, sakit pada punggung, tubuh lemah, dan demam tinggi.

Sebagian besar keguguran terjadi akibat kelainan genetis yang berat. Sementara, hal lain yang juga bisa menyebabkan keguguran adalah masalah hormon, respons kekebalan tubuh, adanya kelainan rahim, dan/atau kondisi fisik dan medis pada ibu. Keguguran juga bisa terjadi jika leher rahim lemah dan rahim tidak dapat menahan bobot kehamilan. Keguguran yang disebabkan oleh kondisi ini biasa terjadi pada trimester kedua. Ibu yang mengidap diabetes juga menjadi faktor risiko keguguran.

Anemia

Tubuh memerlukan zat besi untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein yang terdapat di dalam sel darah merah yang fungsinya mengantarkan oksigen ke jaringan-jaringan di seluruh tubuh. Ketika sedang hamil, kebutuhan akan pasokan darah pun meningkat sebagaimana janin juga membutuhkan pasokan darah dan oksigen. Dengan kata lain, kebutuhan zat besi pada saat hamil menjadi meningkat dua kali lipat. Jadi, jika ibu hamil mengalami defisiensi zat besi, maka akan mengalami anemia.

Jangan pernah menganggap remeh kekurangan zat besi, apalagi ketika sedang mengandung. Defisiensi zat besi berisiko menjadikan berat bayi lahir rendah (BBLR) dan/atau bayi lahir prematur. Risiko ini dapat meningkat jika Anda sering mengalami morning sickness dan mengandung janin kembar.

Perdarahan

Sekitar 25-40 persen wanita hamil mengalami perdarahan di trimester pertama. Walau demikian, sebagian besar kasus berakhir tanpa masalah yang berarti pada kehamilan. Perdarahan ini dapat terjadi akibat beberapa kondisi, yaitu adanya perubahan hormon yang drastis, adanya sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim, setelah melakukan hubungan seksual, baru saja menjalani pemeriksaan internal oleh tim medis, atau mengalami infeksi.

Perdarahan bisa menjadi kondisi yang serius bila terjadi di sekitar plasenta (perdarahan subkorionik), perdarahan yang menjadi gejala-gejala keguguran yang biasanya disertai gejala sakit perut berat, perdarahan karena kehamilan di luar kandungan (kehamilan ektopik), atau kehamilan dengan pertumbuhan janin abnormal (kehamilan molar/hamil anggur). Meskipun terlihat hanya berupa bercak-bercak darah, tetap tidak boleh diremehkan karena bisa berisiko berbahaya. Disarankan untuk memeriksakan diri kepada dokter jika mengalami perdarahan saat sedang mengandung.

Kurang cairan ketuban

Di dalam rahim, bayi berdiam di kantong empuk berisi cairan ketuban (kantung amnion). Fungsi cairan ketuban adalah melindungi bayi dari efek benturan dari luar tubuh ibu, melindungi bayi dari infeksi, dan membantu paru-paru serta sistem pencernaan bayi untuk berkembang sesuai usia.

Kantong ketuban memiliki dua selaput atau membran, yaitu korion dan amnion. Di sepanjang masa-masa kehamilan, kedua selaput ini bertugas memastikan bayi terlindungi di dalam cairan ketuban dan pecah ketika bayi akan dilahirkan.

Pada awal masa kehamilan, kadar cairan ketuban hanya beberapa mililiter saja, namun terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Di usia kehamilan 36 minggu, kadar cairan ketuban mencapai kisaran 800-1000 ml. Sebaliknya, saat mencapai usia kehamilan 38 minggu, kadar cairan ketuban akan terus berkurang hingga di hari kelahiran.

Kekurangan cairan ketuban dapat menyebabkan komplikasi persalinan, misalnya posisi bayi sungsang karena tidak memiliki cukup ruangan untuk mengubah posisi kepala ke bawah. Namun, langkah pemeriksaan kandungan secara rutin memungkinkan dokter untuk memberikan penanganan yang tepat begitu hal ini diketahui.

Anda tidak perlu cemas berlebihan akan terserang penyakit atau gangguan medis ketika sedang hamil. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan diri sendiri dan bayi, selain memeriksakan kondisi kehamilan kepada ahli medis secara rutin. Tujuannya tidak lain untuk menghindari terjadinya komplikasi kehamilan dengan mengenali gejala-gejala kepada kondisi tersebut.