6 Hal Ini Membuat Anak Stres, Bagaimana Mengatasinya?

Stres bukan hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga bisa menimpa anak. Terpisah dari orang tua bisa membuat anak kecil merasa stres. Apalagi setelah memasuki usia sekolah, tekanan sosial dan tuntutan nilai akademis menjadi salah satu pemicu tambahan stres bagi anak.

Gejala stres pada anak memang tidak mudah dikenali, namun secara umum, gejalanya bisa dikenali dari perubahan pola tidurnya, perubahan kuantitas makannya yang menjadi lebih banyak atau justru tidak nafsu makan, perubahan emosi secara cepat, menjadi sering mengompol, sulit berkonsentrasi saat belajar, atau kesulitan mengerjakan tugas sekolah. Selain itu, gejala fisik juga bisa menyertai, seperti sakit perut atau sakit kepala, tetapi tidak semua anak mengalami gejala yang serupa.

6 Hal Ini Membuat Anak Stres Bagaimana Mengatasinya - Alodokter

Inilah penyebab stres pada anak:

  • Aktivitas Usai Sekolah

Terkadang kita, sebagai orang tua, tidak menyadari bahwa aktivitas anak di sekolah telah menyedot sebagian besar tenaganya. Niat kita yang ingin memberinya pengetahuan tambahan setelah jam sekolah, misalnya les atau kursus, justru berisiko membuatnya kelelahan. Kesibukan setelah jam sekolah menjadikan mereka tidak memiliki waktu untuk bersantai atau bermain dengan kreatif. Hal ini berisiko membuat anak menjadi stres.

Berikanlah anak kesempatan untuk bersantai. Bahkan mungkin beberapa jadwal kegiatannya usai sekolah bisa dikurangi. Namun, bila aktivitas tersebut tidak dapat dihentikan atau dikurangi, tanyakan bagaimana perasaannya tentang aktivitasnya. Sesi curhat mungkin bisa meringankan stres anak

  • Paparan konten dewasa

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai informasi bisa didapat dengan mudah. Anak bisa terpapar konten atau informasi untuk orang dewasa, seperti berita yang menyeramkan, video kekerasan atau porno. Hal ini berisiko membuat anak merasa tertekan. Orang tua dianjurkan untuk memilah konten yang sesuai untuk anak serta mendampingi dan memberikan pemahaman informasi kepadanya.

  • Kurang tidur

Anak memerlukan istirahat yang cukup, terutama saat kelelahan setelah beraktivitas di sekolah. Pastikan anak mendapatkan cukup waktu istirahat karena jangan sampai dia mengalami kurang tidur. Kondisi kurang tidur bisa berdampak kepada mood, kemampuan  menilai, serta memorinya. Saat waktunya untuk istirahat, jauhkan anak dari gadget atau televisi

  • Intimidasi

Intimidasi atau bullying yang menimpa anak, baik verbal maupun nonverbal, juga berisiko membuatnya merasa tertekan. Berikan dukungan pada anak agar dia bisa lebih percaya diri dalam menjalani hari-harinya di sekolah atau lingkungannya. Jangan lupa untuk berkomunikasi dengan guru guna memantau kondisi yang dialami anak.

  • Penyakit kronis

Anak bisa merasa stres jika mengalami hal berat, seperti ketika orang tuanya menderita penyakit serius atau anak sendiri yang mengalaminya. Kondisi serius pada anak yang bisa membuatnya stres antara lain bila ia menderita  HIV (Human Immunodeficiency Virus), down syndrome, obesitas, asma, serta ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Bila anak mengalami kondisi tersebut, anak bisa terasing dari pergaulannya atau kegiatan sekolahnya karena harus menjalani pengobatan.

Bicaralah dari hati ke hati dengan anak untuk menguatkan mental anak dengan dukungan yang positif dalam melewati masa-masa sulitnya

Sistem keamanan yang mendasar bagi anak adalah keluarganya. Ketika orang tua bercerai, anak menghadapi perubahan besar dalam hidupnya. Jelaskanlah secara baik dan mudah dipahami oleh anak mengenai alasan Anda bercerai. Jelaskan pula kepadanya bahwa bercerai bukan berarti berpisah sama sekali. Selain itu, orang tua dianjurkan untuk tidak menempatkan anak pada posisi harus memilih salah seorang orang tua karena pilihan tersebut berpotensi membuatnya menderita dan kecewa.

Sebelum anak merasa menderita karena stres, ada langkah-langkah yang bisa diambil orang tua untuk mencegahnya, antara lain:
  • Luangkan waktu bersama si Buah Hati. Tanyakan mengenai aktivitasnya sehari-hari dan bagaimana perasaannya. Hal ini bisa membantu kedua pihak untuk saling memahami dan mendukung.
  • Ciptakan suasana rumah yang nyaman dan stabil dengan menyepakati beberapa aturan dan konsekuensi jika melanggarnya.
  • Perhatikan kebiasaan makan anak.
  • Ketika anak melakukan kesalahan atau berperilaku nakal, jangan langsung memarahi atau menghukumnya. Komunikasikan terlebih dahulu apa yang terjadi dan membuatnya berperilaku demikian.
  • Bentuklah kebiasaan waktu tidur dan waktu bangun tidur, serta waktu mandi yang teratur. Dengan begini, selanjutnya anak tidak perlu dimarahi dahulu hanya untuk mandi atau tidur.
Dengan menjadi pendengar yang baik, orang tua bisa memahami apa yang dialami dan dirasakan oleh anak, sehingga bisa memberikan jalan keluar dari tekanan yang dihadapi olehnya. Anak pun bisa tumbuh dengan lebih sehat dan kreatif.