Benarkah Menyusui Dapat Mencegah Kehamilan?

Bagi Bunda yang menyusui setelah melahirkan, kemungkinan akan mengalami keterlambatan haid. Ini dikarenakan ibu menyusui memiliki hormon prolaktin. Hormon pembuat Air Susu Ibu (ASI) ini juga berperan menekan pelepasan hormon yang bertugas mematangkan dan menyuburkan sel telur serta membentuk lapisan rahim untuk memelihara sel telur yang subur.

Penundaan haid alamiah ini disebut amenore laktasi (lactational amenorrhea – LAM). Dengan begini, selama Bunda menyusui bayi baru lahir hingga beberapa bulan, Bunda dapat tidak hamil atau dengan kata lain Bunda sedang tidak subur. Ini mungkin merupakan cara alami tubuh memberitahukan bahwa seluruh kapasitas tubuh Bunda hanya mampu untuk menangani satu bayi baru lahir dan belum siap untuk memiliki bayi lagi. LAM diketahui efektif dalam mencegah kehamilan bila Bunda memenuhi beberapa syarat.

Benarkah Menyusui Dapat Mencegah Kehamilan - Alodokter

Berikut adalah beberapa kondisi yang bisa membuat pemberian ASI dapat mencegah kehamilan berikutnya.

Bunda belum haid setelah melahirkan atau setelah nifas

Bila bunda sudah mengalami haid, artinya sudah tidak bisa lagi mengandalkan periode menyusui sebagai kontrasepsi alami dan bisa hamil kapan pun. Namun, ada juga sekitar lima persen dari para ibu menyusui yang bisa hamil sebelum mereka haid pasca melahirkan. Ini karena fase subur perempuan berada di sekitar waktu ovulasi, yaitu 12-16 hari sebelum haid.

Bayi harus berusia maksimal enam bulan

Bunda perlu menggunakan metode kontrasepsi lain untuk mencegah kehamilan setelah bayi berusia enam bulan. Pada saat ini, Bunda sudah menjadi lebih mungkin untuk hamil lagi.

Bunda harus memberikan ASI secara eksklusif

Ini artinya bayi hanya menerima ASI secara langsung dan bukan dari botol. Berikan ASI tiap 2-3 jam pada siang hari atau sesering kebutuhan bayi. Selain itu, berikan pula ASI pada malam hari dengan jarak waktu antar menyusui tidak lebih dari enam jam. Ini karena kadar hormon kesuburan Bunda cenderung tertinggi selama jam tidur, sehingga Bunda perlu menyusui di malam hari agar hormon prolaktin menekan hormon kesuburan. Bila bayi sudah mulai bisa tidur sepanjang malam tanpa minta ASI, hormon kesuburan bisa kembali bekerja seperti biasa, artinya Bunda sudah tidak dalam fase LAM.

Sementara untuk pengenalan makanan padat, tunggulah sampai bayi setidaknya berusia enam bulan. Atur pemberian makanan padat sebagai tambahan, bukan pengganti ASI. Bila bayi yang diberi makanan padat mulai mengurangi konsumsi ASI, berarti Bunda harus mengurangi pemberian makanan padat agar dia bisa kembali meningkatkan asupan ASI. Penelitian telah menunjukkan bahwa ibu menyusui yang berlatih melakukan langkah ini dapat memiliki periode LAM rata-rata selama 14 bulan sebelum haid dan subur kembali.

Namun LAM bisa menjadi tidak efektif lagi bila bayi sudah bisa tidur lebih lama di malam hari dan secara natural memberi jarak pada ASI, selain dari Bunda meningkatkan pemberian makanan padat seiring perkembangan usia bayi. Lalu, bagaimana jadinya jika Bunda sudah tidak dalam periode LAM dan telah dinyatakan positif hamil lagi?

Bunda Dinyatakan Aman untuk Menyusui saat Hamil

Bunda dapat melanjutkan menyusui saat sedang hamil. Tidak perlu khawatir akan kekurangan nutrisi untuk menghasilkan ASI yang cukup sekaligus menyehatkan bayi yang tumbuh dalam kandungan. Dengan mengonsumsi makanan sehat dan seimbang serta konsisten dalam memenuhi asupan cairan, Bunda dapat memenuhi semua kebutuhan itu. Namun, menyusui ketika hamil memang berbeda dengan kondisi menyusui ketika tidak hamil. Bunda akan mendapati beberapa perubahan berikut.

  • Menyusui menjadi kurang nyaman. Selama kehamilan, nyeri puting dan payudara umum terjadi, ditambah dengan kelelahan yang berhubungan dengan hormon kehamilan membuat ketidaknyamanan ibu hamil yang menyusui menjadi lebih terasa.
  • Balita menjadi kurang berselera mengonsumsi ASI. Bila bayi sudah bisa bicara, dia mungkin akan mengungkapkan bahwa rasa ASI menjadi berbeda. Pada nyatanya, rasa ASI akan berbeda karena menjelang akhir masa kehamilan, Bunda memproduksi kolostrum, yaitu susu kental berwarna kekuningan.
  • Terjadi kontraksi ringan. Terkadang Bunda mengalami beberapa kontraksi ringan, tapi tidak perlu khawatir karena ini normal sebagai akibat stimulasi pada payudara yang memicu pelepasan hormon oksitosin. Namun dalam kondisi kehamilan yang normal, kadar hormon ini tidak sampai memicu persalinan dini. Meskipun kontraksi ini tidak menjadi perhatian selama kehamilan tanpa komplikasi, dokter kemungkinan tetap akan mencegah menyusui saat hamil jika Bunda berisiko menjalani persalinan prematur.
Pada dasarnya, lamanya LAM bervariasi pada tiap wanita dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, untuk mencegah kehamilan setelah melahirkan bayi, Bunda dapat menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom, pil KB yang hanya mengandung progestin, suntikan Depo-Provera, atau alat kontrasepsi yang ditanam di dalam rahim (IUD).