Ego VS Cinta, Apa Efek terhadap Kesehatanmu?

Menjalin hubungan cinta dengan seseorang yang memiliki ego besar dapat membuatmu sengsara secara psikis. Pasangan yang menjalin komitmen dengan didasari egoisme cenderung untuk kurang memiliki rasa empati, sehingga salah satu pihak bisa merasakan kesepian dan tidak dicintai.

Padahal, di dalam hubungan asmara sudah selayaknya terdapat dinamika dalam memberi dan menerima. Bila hanya salah seorang saja yang terus memberi dan yang lainnya hanya menuntut, maka dapat terjadi hubungan yang dangkal dan dapat membuatmu lelah secara psikis bila kamu berada di posisi si Pemberi. Sementara itu, pasangan yang selalu menuntut dan hanya mementingkan diri sendiri merupakan kekasih yang egois.

Ego VS Cinta, Apa Efek terhadap Kesehatanmu - Alodokter

Keegoisan dan kesombongan pasanganmu bisa mengganggu dan menyakitimu. Carilah bantuan bila kamu berada di dalam hubungan dengan seseorang yang sangat mengontrol, memanipulasi, bahkan hingga melakukan kekerasan atas nama cinta. Bila kamu merupakan seorang korban dari hubungan yang tidak sehat, kamu memiliki kemungkinan untuk mengalami dampak-dampak kekerasan seperti berikut:

  • Kondisi kesehatan yang buruk secara umum.
  • Harga diri yang rendah.
  • Kecemasan atau depresi.
  • Kehilangan banyak kesempatan, seperti pekerjaan, hobi, maupun pengalaman.
  • Kehilangan hubungan dengan anak-anak, keluarga maupun teman.
  • Cedera fisik.
  • Keguguran selama kehamilan. Kekerasan cenderung meningkat ketika wanita sedang hamil. Ini bisa membahayakan kesehatanmu dan janin.
  • Menjadi tunawisma.
  • Kematian.

Mengenali Ciri-ciri si Dia sebagai Orang Egois

Segera kenali apakah si Dia adalah kekasih egois yang hanya bisa menuntut. Untuk menanggapi lebih lanjut, kita harus proaktif dalam menyikapi ciri-ciri orang-orang semacam itu. Apa saja kriterianya, kita simak berikut.
  • Hanya mementingkan diri sendiri agar merasa puas dan bahagia tanpa memikirkan bagaimana perasaan pasangan atau keluarga. Bila pasanganmu berlaku demikian, pada akhirnya kamu akan merasa diabaikan seolah-olah kamu tidak dianggap ada di dunia ini.
  • Suka menyalahkan orang lain. Ketika terjadi masalah, reaksi orang egois adalah langsung menyalahkan orang lain. Tipikal orang-orang dengan watak seperti ini merasa yakin bahwa dirinya tidak mungkin berbuat salah.
  • Bila dikritik, si Dia tidak bisa menerima atau bahkan langsung marah.
  • Cemburu atau marah bila orang lain mendapat pujian atau pengakuan.
  • Orang egois tidak benar-benar peduli pada orang lain. Hal ini bisa terlihat, misalnya ketika terjadi percakapan. Orang egois biasanya lebih mendominasi percakapan serta lebih banyak bicara dan mengarahkan.
  • Dia bukan pendengar yang baik, bahkan bisa dibilang tidak peduli dengan keluh kesah orang lain. Bukannya menghargai orang lain yang sedang bicara padanya dan mendengarkan, si Egois lebih suka menyelak pembicaraan untuk kembali membahas tentang dirinya sendiri.
  • Lebih peduli untuk menang dalam perdebatan. Tiap kali terlibat dalam percakapan, si Egois merasa bahwa itu adalah pertarungan yang harus dimenangi. Bahkan, dia bisa murung dan merajuk bila merasa belum memenangi perdebatan.

Tanda Hubunganmu Lampu Merah

Hubungan asmaramu dengan si Dia dapat menyakitimu secara psikis maupun fisik bila dia melakukan beberapa hal seperti berikut.
  • Dia mengontrolmu, seperti sering menelepon atau mengirim pesan singkat (SMS) untuk mengecek. Dia bahkan akan melarangmu bergaul dengan orang-orang tertentu, melarang atau menyuruhmu memakai pakaian tertentu, dan sebagainya.
  • Dia suka memaksamu menuruti keinginannya, bahkan hingga melakukan pelecehan seksual, seperti memaksa berhubungan seksual, berciuman, menyentuhmu, dan perilaku seks lainnya yang tidak kamu kehendaki.
  • Bila tidak mendapat apa yang diinginkan, dia melecehkanmu secara verbal dan emosional, seperti memaki, menjatuhkan harga dirimu, bahkan mengancam untuk menyakitimu atau keluargamu bila keinginannya tidak terpenuhi.

Lalu Apa yang Kita Bisa Lakukan?

Yakinlah bahwa kamu memiliki hak untuk diperlakukan secara terhormat dan tidak seorang pun yang berhak menyakitimu, baik secara psikis maupun fisik. Kamu juga harus menyadari bahwa apa yang kamu lakukan atau katakan tidak lantas membuat dia berhak untuk berlaku kasar, menyakiti, serta mengintimidasimu. Ketika pasanganmu memulai sikap egoisnya, katakan dengan tenang bahwa kamu memahami betapa pasanganmu sangat antusias dengan pendapatnya dan kamu paham, tapi kamu juga ingin dia memahamimu.

Bangunlah citra diri yang positif, seperti memiliki harga diri yang tinggi dan kepercayaan diri yang tinggi. Orang dengan citra diri yang positif cenderung tidak terlibat ke dalam hubungan yang penuh kekerasan. Melalui citra diri yang positif juga, kamu bisa memperlakukan pasanganmu secara setara, bukan seolah-olah dia majikanmu.

Selain itu, penting bagimu untuk memelihara hubungan sosial, baik dengan keluarga maupun teman-temanmu. Jangan ragu meminta bantuan mereka untuk menyelamatkanmu dari hubungan yang tidak sehat. Ceritakanlah kepada orang yang kamu percayai tentang apa yang kamu alami bersama si Dia, jangan menyimpan semuanya sendiri. Dengan begitu, kamu juga bisa membantu pasangan untuk menjadi lebih baik dengan membawanya konseling bersama kepada psikolog.

Meski begitu, kita harus siap menghadapi situasi terburuk, yaitu ketika segala cara tidak membuahkan hasil positif. Karena bila dia tidak juga berubah dan tetap menyakitimu, maka tidak ada cara lain selain meninggalkannya. Ubah cara pandangmu bahwa kamu tidak perlu berhubungan dengan orang seperti dia. Ingatkan dirimu bahwa hubungan yang sehat seharusnya berjalan beriringan dengan saling menghormati, memercayai, dan saling memikirkan perasaan pasangan.