Ada Berbagai Penyebab Nyeri pada Testis

Testis adalah bagian penting dalam organ reproduksi dan seks pria. Namun ada kalanya pasangan testis ini terasa nyeri, bengkak, atau berubah bentuk. Mari cari tahu apakah rasa nyeri pada testis ini dapat menjadi gejala penyakit serius.

Testikel atau testis berasal dari bahasa Latin testiculus yang berarti ’saksi’ kejantanan. Organ ini berperan dalam sistem reproduksi dan endokrin. Testis bertugas memproduksi sperma dan hormon  seks, yaitu testosteron. Testis terdapat dalam kantong longgar yang bernama skrotum, yang tergantung pada bagian belakang penis. Sementara pada bagian belakang testikel terdapat saluran halus bernama epididimis.

Ada Berbagai Penyebab Nyeri pada Testis

Pada umumnya ukuran testikel rata-rata pria adalah sama, dengan ukuran yang satu sisi cenderung lebih besar dibanding yang lain. Selain itu, testikel yang satu sisi biasanya akan tergantung lebih rendah dibandingkan sebelahnya.

Mengenali Penyebab di Balik Nyeri pada Testis

Testis yang sehat seharusnya akan terasa halus tanpa tonjolan atau pembengkakan. Namun karena sifatnya yang sangat sensitif, maka sedikit gangguan saja dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri pada testis. Rasa sakit umumnya dapat bermula dari dalam testikel itu sendiri atau dari jaringan di belakang testikel.

Penyebab nyeri testis sendiri dapat beragam dan berasal dari berbagai sumber:

  • Kista epididimal: tonjolan akibat mengumpulnya cairan dalam saluran epididimis.
  • Epididimitis: infeksi klamidia pada epididimis yang dapat menyebabkan peradangan dan pembengkakan di dalam skrotum. Kondisi ini menyebabkan seluruh skrotum menjadi berwarna merah.
  • Diabetic neuropathy: kerusakan saraf akibat diabetes.
  • Hydrocele: penumpukan cairan yang menyebabkan pembengkakan pada skrotum.
  • Hernia inguinalis: penonjolan jaringan lunak, seperti usus, melalui bagian yang lemah atau robek di bagian bawah dinding perut di lipatan paha, sehingga menyebabkan skrotum menjadi membesar.
  • Batu ginjal.
  • Kanker testikular.
  • Testikel yang tertarik ke area di antara perut dan paha.
  • Peradangan testikel atau orchitis.
  • Massa skrotal: kelainan isi skrotum yang mengakibatkan bagian luar kulitnya bergantung pada bagian belakang penis.
  • Spermatocele: pengumpulan cairan pada testikel.
  • Testikel terpelintir: nyeri yang datang tiba-tiba pada testikel dapat menjadi gejala terjadinya testikel yang terpelintir. Kondisi ini dapat mengakibatkan terputusnya aliran darah sehingga memerlukan penanganan darurat.
  • Cedera pada testikel.
  • Infeksi saluran kencing.
  • Testis yang tidak turun (cryptorchidism).
  • Vasektomi atau sterilisasi pada pria.
  • Varikokel: pembengkakan akibat pembesaran pembuluh pada skrotum.
  • Benjolan dan pembengkakan pada testis: umumnya disebabkan oleh kondisi yang tidak bersifat kanker dan sebagian besar tidak memerlukan perawatan khusus.
Umumnya nyeri yang tidak begitu parah dapat ditangani untuk sementara dengan obat bebas, seperti ibuprofen, aspirin, atau parasetamol. Namun jika nyeri tidak kunjung reda atau terus berulang, sebaiknya jadwalkan untuk memeriksakan diri ke dokter, terutama jika Anda mengalami:
  • Pembengkakan pada testikel atau area sekitarnya.
  • Nyeri pada testikel yang tidak kunjung reda hingga hitungan hari.
Yang terpenting, Anda wajib segera ke dokter jika mengalami nyeri yang muncul tiba-tiba dan parah pada testikel, selain itu jika muncul nyeri testikel yang disertai demam, mual, atau adanya darah pada urine.

Melindungi Testis

Untuk melindungi testis dari cedera, gunakan pelindung skrotum saat Anda berolahraga atau saat melakukan aktivitas keras lain. Selain itu, sebagai tindakan antisipasi, Anda dapat memeriksakan testis sendiri secara berkala dengan berdiri di depan cermin dan memperhatikan apakah ada perubahan pada bentuknya. Berikut tahapan yang dapat dilakukan:
  • Pegang penis Anda dan periksa apakah terdapat benjolan tidak biasa pada kulit skrotum.
  • Raba tiap testikel dengan ujung jari tangan Anda. Lihat dan rasakan apakah ada perbedaan ukuran, bentuk, terdapat benjolan atau tidak.
  • Periksa juga bagian atas dan ujung tiap testikel untuk mendeteksi epididimis.
  • Periksakan diri ke dokter jika Anda menemukan kelainan, seperti benjolan pada testis. Setelah pemeriksaan, jika dirasa perlu, dokter akan merekomendasikan Anda untuk melakukan cek darah, biopsi, atau USG.
Sebagian kasus pembengkakan testis akan membaik seiring waktu dengan mengonsumsi obat bebas pereda nyeri. Namun ada kalanya jika kondisi memburuk, diperlukan operasi membuang cairan atau menghilangkan benjolan padat. Sementara itu pada kondisi tertentu, seperti testis yang terpelintir, akan memerlukan pembedahan darurat untuk mengembalikan aliran darah agar jaringan testikel tidak mati.

Terutama bagi pria, jaga kesehatan dengan melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap organ reproduksi ini. Karena dengan mengenali berbagai penyebab nyeri pada testis, Anda dapat lebih mampu dan lebih cepat mengantisipasi kemungkinan penyakit yang lebih serius.