Anak Tunagrahita Tidak Perlu Diperlakukan secara Berbeda

Tunagrahita adalah sebutan bagi orang-orang dengan kemampuan intelektual yang berada di bawah rata-rata. Bagi anak-anak tunagrahita, hal ini menyebabkan gangguan pada kecerdasan anak dalam mempelajari dan mengembangkan kemampuan sehari-hari. Awal mulanya dapat terjadi pada bayi setelah dilahirkan, sejak bayi berada di dalam kandungan, atau selama proses persalinan.

Penyandang tunagrahita umumnya dapat dikenali dari proses berpikir dan belajar yang lebih lambat dibandingkan anak-anak sehat pada umumnya, misalnya seorang anak berusia 8 tahun yang masih belum bisa berkomunikasi ataupun menulis. Umumnya mereka juga kurang memiliki ketrampilan hidup untuk menjalani kegiatan sehari-hari secara normal. Sebelumnya, para penyandang kondisi ini disebut memiliki keterbelakangan mental, tetapi istilah ini tidak lagi digunakan karena dianggap kurang bermakna positif.

tunagrahita-alodokter

Sebagian anak penyandang autisme, cerebral palsy (lumpuh otak), dan sindrom Down turut memiliki kecenderungan gangguan mental. Walau demikian, sebagian dari mereka masih memiliki kemampuan untuk belajar hingga menjadi anak yang cakap. Sindrom Down menjadi salah satu penyebab paling sering selain sindrom velocariofacial dan sindrom spektrum alkohol pada janin.

Penyebab Tunagrahita Kadang Tidak Diketahui

Pada dasarnya, anak tunagrahita dikenali memiliki keterbatasan dalam dua hal utama berikut.

  • Keterbatasan fungsi intelektual atau IQ, yaitu kemampuan untuk belajar, membuat keputusan, menemukan alasan, dan memecahkan persoalan. Anak tunagrahita umumnya memiliki kisaran IQ 70-75.
  • Keterbatasan pada kemampuan beradaptasi, seperti kesulitan berkomunikasi secara efektif, menjaga diri, dan berinteraksi.

Kondisi di atas umumnya dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti:

  • Infeksi otak yang terjadi setelah bayi lahir.
  • Cedera pada otak karena kecelakaan atau jatuh.
  • Adanya kelainan pada gen bayi. Gen yang diturunkan dari orang tua berkemungkinan tidak normal atau berkembang menjadi tidak normal seiring bayi tumbuh.
  • Bayi tidak mendapatkan cukup oksigen selama proses persalinan.
  • Ibu mengonsumsi, melakukan hal-hal tertentu, ataupun terkena infeksi (penyakit) ketika hamil yang ternyata juga berdampak kepada bayi, seperti mengonsumsi minuman keras, obat-obatan terlarang atau obat-obatan tertentu saat hamil.
  • Bayi lahir prematur.
  • Bayi terpajan merkuri atau penyakit tertentu, seperti meningitis atau batuk rejan yang jika tidak ditangani dengan tepat, dapat berdampak kepada kemampuan mental.
  • Malanutrisi dapat menjadi penyebab tunagrahita, terutama di negara-negara miskin.

Meski begitu, penyakit kelainan mental ini masih perlu diteliti lebih lanjut karena nyatanya penyebab dari dua pertiga kasus tunagrahita lainnya masih belum diketahui secara pasti.

Mengenali Tanda-tanda Tunagrahita Sejak Dini

Tanda-tanda anak tunagrahita dapat dikenali sejak dari dalam kandungan hingga saat memasuki masa sekolah. Beberapa tanda yang paling sering muncul adalah:

  • Terlambat bicara.
  • Terlambat untuk duduk, merangkak, maupun berguling.
  • Sulit mengingat.
  • Lambat menguasai kemampuan mendasar, seperti makan sendiri, berpakaian, ataupun buang air di toilet.
  • Gangguan perilaku, seperti sering marah-marah tidak terkendali.
  • Tidak dapat menghubungkan antara tindakan dengan konsekuensi dari tindakan tersebut.
  • Sulit berpikir logis maupun memecahkan persoalan ringan.
  • Lambat dalam menguasai kemampuan menyesuaikan diri, seperti memenuhi kebutuhan sendiri.
  • Sebagian anak yang memiliki kelainan mental berkemungkinan untuk mengalami gangguan kesehatan, seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, autisme, gangguan kemampuan motorik, hingga kejang.

Sebagian besar kasus tunagrahita tidak dapat dicegah, tetapi ibu hamil selalu dapat menghindari aktivitas yang membahayakan, seperti mengonsumsi minuman keras dan mendapat perawatan hingga pascapersalinan. Pada kasus yang disebabkan oleh penyakit turunan, bisa diberlakukan tes untuk mendeteksi kelainan genetik.

Anak dengan tunagrahita memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda, tetapi yang pasti, anak-anak tunagrahita membutuhkan pembelajaran untuk dapat hidup mandiri seperti anak-anak normal pada umumnya. Mereka bisa mempelajari ketrampilan sehari-hari seperti mencoba bepergian menggunakan transportasi umum. Tidak jarang setelah dewasa, mereka juga dapat bekerja seperti orang-orang pada umumnya.

Orang tua juga memiliki pilihan untuk menyekolahkan anaknya di lembaga yang tepat. Saat ini pada sebagian sekolah, terutama di Jakarta, sudah menerapkan metode inklusi, yaitu menempatkan anak berkebutuhan khusus seperti tunagrahita di kelas yang sama dengan anak pada umumnya. Dengan demikian, anak tunagrahita akan lebih terbiasa menyesuaikan diri dan membaur dengan masyarakat umum. Sebaliknya, anak tanpa kebutuhan khusus dapat memahami seperti apa kebutuhan anak-anak tunagrahita.

Secara khusus, beberapa lembaga pendidikan untuk penyandang tunagrahita terdapat di Sekolah Mandiri Surabaya, Yayasan Asih Budi Jakarta Timur, dan Pangudi Luhur Jakarta Barat. Lebih lengkap lagi, bisa diakses di daftar Sekolah Luar Biasa DKI Jakarta.

Orang tua yang memiliki anak tunagrahita diharapkan untuk mencari tahu sebanyak mungkin dan sesering mungkin tentang penyakit yang disandang sang anak, terutama cara penanganan yang tepat. Persepsi dan metode penanganan yang dilakukan orang tua sangat menentukan keberhasilan anak dalam menangani dirinya sendiri. Terus bantu dirinya untuk bisa mandiri dan ajaklah untuk terlibat ke dalam aktivitas berkelompok. Dengan kasih sayang dan dukungan yang tepat, anak tunagrahita tetap dapat hidup mandiri saat dewasa.