Awas, Cacing Penyebab Skistosomiasis Mengintai di Air Tawar

Skistosomiasis adalah penyakit yang disebabkan parasit berupa cacing pipih Schistosoma yang hidup air tawar. Skistosomiasis dapat muncul secara mendadak (akut) atau berlangsung menahun (kronis).

Cacing penyebab skistosomiasis sering dijumpai di daerah-daerah beriklim tropis dan subtropis. Beberapa bagian dari negara-negara di Afrika, Timur Tengah, Amerika Selatan, Kepulauan Karibia dan Asia, termasuk Indonesia, tergolong sebagai area skistosomiasis dapat ditemukan.

Schistosomiasis_compress

Penyebaran Skistosomiasis

Skistosomiasis adalah penyakit parasit urutan ketiga terbanyak di dunia, dan berdasarkan dampaknya pada manusia, skistosomiasis tergolong penyakit tropis nomor dua setelah malaria. Cacing penyebab skistosomiasis dapat berenang dengan bebas di air tawar seperti di kolam, sungai, danau, parit, dan waduk. Parasit Schistosoma ini, dapat masuk ke tubuh manusia melalui kontak langsung, meski pada awalnya tidak menyebabkan gejala.

Schistosoma akan menetap di dalam kulit dan mematangkan dirinya, menuju tahap dewasa. Kemudian akan bergerak menuju ke sejumlah bagian tubuh seperti paru-paru, hati, kandung kemih, usus, anus, limpa dan pembuluh darah yang mengalirkan darah dari usus ke hati, sehingga akan berkembang hingga menjadi bentuk cacing dewasa.

Penderita selanjutnya dapat menyebarkan skistosomiasis ketika urine atau tinja yang mengandung telur cacing mengkontaminasi air tawar.

Waspadai Gejala-gejalanya

Secara umum gejala infeksi skistosomiasis ditandai dengan demam, menggigil, pembengkakan pada kelenjar getah bening, limpa dan hati. Gejala lain bisa berupa batuk, diare, nyeri otot dan sendi, sakit perut dan merasa tidak enak badan.

Cacing yang masuk ke dalam kulit dapat menyebabkan ruam (swimmer's rash) dan gatal. Gejala ini biasanya sebagai bentuk reaksi tubuh terhadap infeksi telur cacing.

Meski demikian, sebagian orang yang terkena skistosomiasis tidak merasakan gejala apa pun selama beberapa bulan pertama bahkan hingga bertahun-tahun. Namun, masih ada efek jangka panjang dari infeksi cacing pipih ini termasuk gangguan pencernaan, saluran kemih, paru-paru dan jantung hingga gangguan sistem saraf.

Skistosomiasis dibagi ke dalam dua jenis, yaitu:

  • Skistosomiasis usus. Disebabkan cacing Schistosoma japonicum yang secara geografis tersebar di Indonesia, Tiongkok, dan Filipina. Skistosomiasis usus juga disebabkan cacing Schistosoma lainnya yaitu Schistoma guineensis, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma mekongi. Gejala skistosomiasis usus ditandai dengan sakit perut, diare, tinja berdarah. Dalam kondisi yang parah dapat menyebabkan pembengkakan hati. Dalam beberapa kasus, pembengkakan limpa juga dapat terjadi.
  • Skistosomiasis urogenital (alat kelamin dan urine) yang disebabkan cacing Schistosoma haematobium. Gejala skistosomiasis urogenital yaitu berupa peningkatan frekuensi buang air kecil, sakit saat berkemih, dan darah di dalam urine (hematuria).

Anda dianjurkan untuk berkonsultasi kepada dokter jika mengalami gejala di atas.

Penanganan dan Pencegahan

Tindakan penanganan skistosomiasis bisa dilakukan dengan pemberian obat cacing yaitu praziquantel. Obat ini efektif melumpuhkan cacing dewasa, namun tidak terhadap telur atau cacing yang masih kecil. Oleh karena itu, perlu pemberian ulang obat setelah beberapa minggu.

Bagi Anda yang menyukai travelling dan bertualang di alam bebas, sebaiknya berhati-hati terkait kebersihan air di tempat yang Anda kunjungi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan:

  • Menyaring dan memasak hingga mendidih air tawar yang diambil dari kolam, sungai, danau atau waduk.
  • Menghindari berenang, mendayung dan mandi di air tawar secara sembarangan atau tidak diketahui sumber airnya.
  • Memakai celana dan sepatu berbahan karet anti air sebelum menyusuri sungai.
  • Menghindari konsumsi obat bebas dari kawasan sekitar, tanpa anjuran dokter.
  • Jangan mudah meyakini informasi pada papan pengumuman di tempat penginapan bahwa air di lokasi tersebut aman. Meski demikian, cacing jenis ini jarang ditemukan di kolam renang mengandung klorin, laut dan tempat penampungan air dengan perawatan yang baik.

Hingga saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah skistosomiasis. Untuk itu, Anda diminta selalu waspada di tempat terbuka atau lokasi yang berhubungan dengan air tawar. Segera konsultasi dengan dokter jika merasakan gejala skistosomiasis atau gejala mencurigakan lain.