Beban Psikologis dan Kesehatan Korban Pemerkosaan

Pemerkosaan atau kekerasan seksual adalah salah satu hal terburuk dan terberat yang dapat dialami manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Selain luka fisik, korban pemerkosaan membawa luka batin yang membutuhkan waktu untuk sembuh.

Kondisi, dampak, dan tantangan yang dihadapi tiap korban pemerkosaan berbeda satu sama lain. Merasa takut, cemas, panik, shock, atau bersalah adalah hal yang wajar. Luka yang mereka rasakan dapat menetap dan berdampak hingga seumur hidup. Banyak korban yang merasa kehilangan kepercayaan diri dan kendali atas hidup mereka sendiri. Hal ini juga dapat membuat mereka kesulitan mengungkapkan yang terjadi pada diri mereka, meski cerita mereka sangat dibutuhkan untuk menindak pelaku. Berbagai perasaan yang campur aduk dan situasi rumit tersebut akan membawa dampak bagi kesehatan dan psikologis mereka.

Beban Psikologis dan Kesehatan Korban Pemerkosaan, Alodokter

Beban Psikologis

Tindak pemerkosaan pasti mendatangkan trauma bagi yang mengalaminya. Respons tiap orang terhadap pemerkosaan yang menimpanya pasti berbeda dengan munculnya berbagai perasaan yang menjadi satu dan bahkan dapat baru terlihat lama setelah peristiwa tersebut terjadi. Berikut ini adalah beberapa perubahan psikologis yang umumnya dialami korban.

Menyalahkan diri sendiri

Sikap menyalahkan diri sendiri adalah kondisi yang paling umum dialami korban pemerkosaan. Sikap inilah yang paling menghambat proses penyembuhan.

Korban pemerkosaan dapat berisiko menyalahkan diri sendiri karena dua hal:

  • Menyalahkan diri karena perilaku. Mereka menganggap ada yang salah dalam tindakan mereka sehingga akhirnya mengalami tindakan pemerkosaan. Mereka akan terus merasa untuk seharusnya berperilaku berbeda sehingga tidak diperkosa.
  • Menyalahkan diri karena merasa ada sesuatu yang salah di dalam diri mereka sendiri sehingga mereka pantas mendapatkan perlakuan kasar.

Sayangnya orang-orang terdekat, seperti pasangan, belum tentu dapat mendukung pulihnya kondisi pasien. Sebagian kerabat korban mungkin merasa tidak dapat menerima kenyataan atau justru menyalahkan sehingga korban makin berada dalam posisi yang sulit.

Kebanyakan korban pemerkosaan juga tidak dapat dengan mudah diyakinkan bahwa ini bukanlah salah mereka. Rasa malu ini kemudian berhubungan erat dengan gangguan lain, seperti pola makan, kecemasan, depresi, mengonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang, serta gangguan mental lain. Kondisi ini dapat diatasi dengan terapi perilaku kognitif dalam melakukan reka ulang proses penyusunan fakta dan logika dalam pikiran.

Bunuh diri

Kondisi stres pascatrauma membuat korban pemerkosaan lebih berisiko untuk memutuskan bunuh diri. Tindakan ini terutama dipicu oleh rasa malu dan merasa tidak berharga.

Kriminalisasi korban pemerkosaan

Pada budaya dan kelompok masyarakat tertentu, korban pemerkosaan dapat menjadi korban untuk kedua kalinya karena dianggap telah berdosa dan tidak layak hidup. Mereka diasingkan dari masyarakat, tidak diperbolehkan menikah, atau diceraikan (jika telah menikah). Dalam kelompok masyarakat lain, kriminalisasi pun dapat terjadi ketika korban disalahkan karena dianggap perilaku atau cara berpakaiannya yang menjadi penyebab diperkosa.

Selain itu, korban berisiko mengalami hal-hal lain seperti depresi, merasa seakan-akan peristiwa tersebut terulang terus-menerus, sering merasa cemas dan panik, mengalami gangguan tidur dan sering bermimpi buruk, sering menangis, menyendiri, menghindari pertemuan dengan orang lain, atau sebaliknya tidak mau ditinggal sendiri. Ada kalanya mereka menarik diri dan menjadi pendiam, atau justru menjadi pemarah.

Efek terhadap Fisik Korban

Selain luka psikologis, korban pemerkosaan membawa luka pada tubuhnya. Sebagian mungkin terlihat, namun sebagian lagi barangkali baru dapat dideteksi beberapa waktu kemudian.

Sementara secara fisik mereka dapat terlihat mengalami perubahan pola makan atau gangguan pola makan. Tubuh mereka bisa terlihat tidak terawat, berat badan turun, dan luka pada tubuh seperti memar atau cedera pada vagina.

Berikut beberapa kondisi yang umum terjadi pada korban pemerkosaan:

Penyakit menular seksual (PMS)

Penetrasi vagina yang dipaksakan membuat terjadinya luka yang membuat virus dapat masuk melalui mukosa vagina. Kondisi ini lebih rawan terjadi pada anak atau remaja yang lapisan mukosa vaginanya belum terbentuk dengan kuat.

Meski belum ada tanda-tanda yang terasa, namun korban pemerkosaan sebaiknya memeriksakan diri untuk mendeteksi kemungkinan terkena penyakit menular seksual. Infeksi seperti HIV (virus yang menyebabkan AIDS) dapat ditangani dengan post-exposure prophylaxis (PEP), yaitu perawatan profilaksis setelah tubuh terpapar penyakit. Namun perawatan ini harus dilakukan sesegera mungkin.

Penyakit lain

Selain penyakit menular seksual, korban perkosaan umumnya menderita konsekuensi yang berpengaruh pada kesehatan mereka:

  • Peradangan pada vagina atau vaginitis.
  • Infeksi atau pendarahan pada vagina atau anus.
  • Gangguan hasrat seksual hipoaktif (hypoactive sexual desire disorder/HSDD): keengganan esktrem untuk berhubungan seksual atau justru menghindari semua atau hampir semua kontak seksual.
  • Nyeri saat berhubungan seksual, disebut juga dyspareunia.
  • Vaginismus: kondisi yang memengaruhi kemampuan wanita untuk merespons penetrasi ke vagina akibat otot vagina yang berkontraksi di luar kontrol.
  • Infeksi kantong kemih.
  • Nyeri panggul kronis.

Kehamilan yang tidak diinginkan

Kehamilan adalah salah satu kondisi dan konsekuensi terberat yang mungkin terjadi pada korban pemerkosaan. Belum berhasil menyembuhkan diri sendiri, mereka harus dihadapkan pada kenyataan adanya kehidupan lain di dalam tubuhnya yang sebenarnya tidak mereka harapkan. Kondisi psikologis wanita yang buruk dapat membuat bayi berisiko tinggi mengalami kondisi kelainan atau lahir prematur.

Dampak fisik mungkin dapat sembuh dalam waktu lebih singkat. Namun dampak psikologis dapat membekas lebih lama. Peran keluarga, kerabat, dokter, dan terapis akan menjadi kunci dari kesembuhan dan ketenangan bagi mereka yang menjadi korban pemerkosaan.