Cara Meningkatkan Hormon Serotonin untuk Menghindarkan Depresi

Keseimbangan kadar hormon serotonin ternyata berperan dalam menghindarkan seseorang dari depresi dan bermanfaat dalam mengelola mood positif. Kabar baiknya, ternyata ada cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kadar hormon ini.

Hormon serotonin adalah hasil dari proses konversi biokimia kombinasi tritopan dengan tritopan hidroksilase. Selain dikenal sebagai hormon, serotonin yang diproduksi di usus dan otak ini, dipercaya berperan sebagai pembawa sinyal antarjaringan saraf (neurotransmitter).

hormon serotonin-alodokter

Kadar hormon serotonin pada wanita disebut-sebut lebih sedikit dibandingkan pada pria sehingga menjadi salah satu alasan mengapa wanita lebih berisiko mengalami depresi dibandingkan pria. Perbedaan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan reaksi terhadap berkurangnya kadar serotonin. Beberapa bukti juga menemukan bahwa serotonin akan berinteraksi dengan hormon perempuan sehingga berisiko memperburuk gejala pramenstruasi.

Selain berdampak kepada mood, sebagai neurotransmitter, hormon serotonin juga akan berdampak kepada fungsi organ-organ lain, seperti saluran pencernaan, pembekuan darah, kepadatan tulang, mual, dan fungsi seksual.

Hormon Serotonin Menjauhkan Depresi

Banyak peneliti percaya kepada adanya hubungan antara kadar serotonin dengan depresi. Keseimbangan kadar hormon serotonin akan memengaruhi mood yang selanjutnya berperan memicu atau meredakan depresi. Namun daripada mengonsumsi obat-obatan antidepresan yang dapat mendatangkan efek samping, lebih baik gunakan cara-cara alami untuk mengelola agar kadar hormon ini tetap stabil.

Memang tidak ada makanan yang dapat mendongkrak kadar hormon serotonin secara langsung, tetapi hubungan antara serotonin dan tritopan memberi bukti nyata bahwa makanan ternyata memang dapat memengaruhi mood seseorang. Mengonsumsi makanan berkarbohidrat bisa jadi dapat meningkatkan kadar hormon serotonin. Hal ini dikarenakan tingkat karbohidrat memicu tubuh melepaskan lebih banyak insulin.

Di sisi lain, asam amino dan tritopan bersaing untuk diserap oleh saluran cerna. Ketika insulin tinggi, hal ini akan menyebabkan peningkatan penyerapan asam amino dan meninggalkan tritopan di dalam darah. Akibatnya, tritopan yang membanjiri darah kemungkinan besar akan diserap ke dalam otak. Bisa jadi inilah sebabnya makanan yang kaya karbohidrat sering disebut sebagai comfort foods atau makanan yang menenangkan tubuh.

Memilih makanan sehat yang  tinggi tritopan disertai makanan berkarbohidrat adalah cara terbaik untuk mendapatkan pilihan menu yang sesuai dalam meningkatkan hormon serotonin. Utamakan makanan karbohidrat seperti oatmeal dan roti gandum utuh. Selain makanan berkarbohidrat, di bawah ini adalah makanan-makanan kaya tritopan yang diduga dapat meningkatkan kadar serotonin.

  • Telur. Protein dalam kuning telur dapat meningkatkan kadar plasma darah tritopan sehingga sehat untuk dikonsumsi harian. Tritopan dan tirosin dalam kuning telur juga berperan sebagai antioksidan.
  • Tahu kaya akan tritopan yang juga tepat bagi mereka yang memilih menjadi vegetarian.
  • Salmon dapat diolah menjadi berbagai menu menarik yang juga tinggi akan tritopan.
  • Keju dapat dipadukan ke dalam berbagai makanan ringan maupun makanan utama untuk membantu meningkatkan kadar serotonin tubuh.
  • Selain kaya vitamin, antioksidan, dan vitamin, kacang-kacangan dan biji-bijian turut mengandung tritopan yang dapat membantu menangani gangguan pernapasan serta mengurangi risiko kanker dan penyakit jantung.
  • Meski termasuk jarang dikonsumsi di Indonesia, daging kalkun juga menjadi salah satu sumber tritopan yang baik dikonsumsi.

Di samping konsumsi makanan sehat, penelitian menemukan bahwa berolahraga secara teratur di luar ruangan tidak hanya dapat memperbaiki mood, tetapi juga dapat memberi manfaat seefektif konsumsi obat antidepresan. Membiarkan diri terpajan sinar matahari pagi dapat meningkatkan kadar hormon serotonin. Satu lagi, cara yang unik dalam meningkatkan kadar serotonin adalah dengan membiasakan diri selalu berpikir positif. Siapa yang menyangka, bukan?