Cegah Defisiensi Sel Darah Merah Sejak Usia Dini

Defisiensi sel darah merah yang sehat dapat menyebabkan tubuh mengalami anemia. Kondisi ini dapat menghambat asupan oksigen ke seluruh tubuh dan pembuangan karbondioksida dari dalam sel paru-paru.

Di dalam tubuh, sel darah merah diproduksi secara teratur, tepatnya di dalam sumsum tulang. Sel darah merah mengandung protein yang kaya zat besi. Protein ini disebut hemoglobin. Protein inilah yang memberikan warna merah pada darah.

sel darah merah - alodokter

Produksi sel darah merah yang kurang, rusaknya sel-sel darah merah dalam tingkat yang tinggi, dan kehilangan darah dapat menyebabkan anemia.

Ketika tubuh Anda tidak memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang cukup, ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, Anda telah mewarisi kondisi tubuh yang produksi sel darah merahnya kurang dari gen orang tua sehingga sejak lahir tubuh Anda berkemungkinan memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang kurang. Kondisi ini dinamakan anemia yang ‘diwariskan’ (inherited).

Anemia akan memunculkan kondisi mudah lelah, cepat lelah, lemahnya sistem kekebalan tubuh, sakit kepala, pusing, sesak napas, dan wajah pucat. Agar tubuh tidak mengalami defisiensi sel darah merah, Anda disarankan memenuhi asupan zat-zat berikut ini.

Zat besi

Zat besi adalah bagian penting dari hemoglobin. Selain sel darah, kuku, rambut, dan kulit juga membutuhkan zat besi untuk menjaga kualitas kesehatan sel-selnya.

Berikut kebutuhan zat besi yang harus Anda perhatikan:

  • Wanita berusia 19-50 tahun: 18 mg per hari, terlebih ketika masa menstruasi.
  • Pria dengan usia 19-50 tahun: 8 mg per hari.
  • Anak-anak usia 9-13 tahun:8 mg per hari.
  • Anak-anak usia 4-8 tahun:10 mg per hari.
  • Bayi dan anak usia 1-3 tahun: 7 mg per hari.

Sumber-sumber asupan zat besi bisa didapatkan dari konsumsi kerang, tiram, hati ayam, daging sapi, daging ayam, tuna, salmon, bayam, dan kacang-kacangan.

Vitamin B12

Defisiensi vitamin B12 dapat menyebabkan tubuh mengalami kekurangan darah yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya anemia. Selain berperan dalam pembentukan sel darah merah, vitamin B12 diperlukan untuk perkembangan saraf dan otak. Kebutuhan akan vitamin B12 adalah 1-25 mcg per hari, tergantung kepada usia.

  • Bayi 0-6 bulan butuh 0,4 mcg zat besi.
  • Bayi usia 7-12 bulan butuh 0,5 mcg zat besi.
  • Anak-anak usia 1-3 tahunbutuh 0,9 mcg zat besi.
  • Anak-anak usia 4-8 tahun butuh 1,2 mcg zat besi.
  • Anak-anak usia 9-13 years butuh 1,8 mcg zat besi.
  • Anak-anak di atas usia itu dan orang dewasa butuh 2,4 mcg zat besi.
  • Wanita hamil butuh 2,6 mcgzat besi.
  • Ibu menyusui butuh 2,8 mcg zat besi.

Anda bisa memenuhi kebutuhan asupan vitamin B12 dari sumbernya, yaitu ikan, daging, dan produk olahan susu, seperti keju dan yoghurt.

Folat/Asam folat

Folat atau asam folat adalah vitamin B yang berperan dalam pertumbuhan dan metabolisme sel. Folat adalah vitamin B secara alami yang terdapat di dalam makanan. Sedangkan asam folat sebagai vitamin B sintetis (buatan) didapatkan dari penambahan ke dalam makanan atau sebagai suplemen.

Defisiensi folat dapat diderita oleh penderita gangguan ginjal, gangguan hati, atau gangguan sistem pencernaan. Penanganan defisiensi folat adalah diberikan asam folat bersama dengan vitamin B12.

Kebutuhan asupan akan folat/asam folat berdasarkan usia, yaitu:

  • Bayi usia 0-6 bulan 65 mcg/hari.
  • Bayi usia 7-12 bulan 80 mcg/hari.
  • Anak-anak usia 1-3 tahun 150 mcg/hari.
  • Anak-anak usia 4-8 tahun 200 mcg/hari.
  • Anak-anak usia 9-13 tahun 300 mcg/hari.
  • Usia 14 tahun ke atas 400 mcg/hari.
  • Wanita hamil 600 mcg/hari.
  • Ibu menyusui 500 mcg/hari

Selain dengan suplemen, folat dapat didapatkan dari mengonsumsi brokoli, bayam, roti, jus buah, sereal, kacang-kacangan, melon, pisang, dan lemon.

Pastikan tubuh Anda mendapatkan asupan yang menunjang produksi sel darah merah yang cukup agar Anda tetap sehat dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.