Daerah Berisiko Tinggi DBD

Kasus demam berdarah dengue (DBD) paling banyak terjadi di daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi seperti DKI Jakarta dan Bali.

Mengenali daerah-daerah rawan DBD dapat membuat Anda lebih berhati-hati jika sedang atau berniat menempati suatu daerah, atau bepergian ke daerah-daerah tersebut.

Daerah Berisiko Tinggi DBD-Alodokter

Daerah Rawan DBD di Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.  Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa Angka Kesakitan/Incidence Rate (IRDBD cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data IR DBD per propinsi pada tahun 2013, teridentifikasi propinsi-propinsi dengan angka kasus tertinggi dan terendah.

Lima propinsi dengan IR DBD tertinggi 2013 adalah:

  • Bali (168,48 per 100.000 penduduk)
  • DKI Jakarta (96,18 per 100.000 penduduk)
  • Kalimantan Timur (92,73 per 100.000 penduduk)
  • Sulawesi Tenggara (66,83 per 100.000 penduduk)
  • DI Yogyakarta (65,25 per 100.000 penduduk)
Jika Anda tinggal atau berniat bepergian ke area ini, sebaiknya lebih berhati-hati dalam melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Sementara propinsi dengan IR DBD terendah 2013 adalah:

  • Maluku (2,2 per 100.000 penduduk)
  • Papua (8,47 per 100.000 penduduk)
  • Nusa Tenggara Timur/NTT (9,34 per 100.000 penduduk)
Angka kematian akibat DBD pada tiap daerah berbeda-beda. Meski DKI Jakarta dan Bali memiliki kasus terbanyak, namun laju kematian (Case Fertility Rate/CFR) akibat DBD di dua daerah ini tergolong terendah di Indonesia. Sebagian dari hal ini disebabkan karena tersedianya penanganan medis yang memadai di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Di DKI Jakarta, CFR akibat DBD pada 2013 adalah 0,2 persen dan di Bali adalah 0,1 persen.

Dengan kata lain, dari seluruh kasus demam berdarah yang terjadi di Jakarta dan Bali, sebanyak 0,2 dan 0,1 persen berujung pada kematian. Sebagian kawasan terpencil lain seperti Jambi dan NTT memiliki laju kematian yang lebih tinggi. Di Jambi dan NTT, sekitar 2,8 dan 2,2 persen kasus demam berdarah yang terjadi berujung pada kematian. Sarana kesehatan yang kurang memadai diduga membuat penyembuhan DBD di daerah-daerah ini tidak dapat dilakukan dengan segera.

Faktor Penyebab Endemi

Jumlah kasus penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini cenderung tinggi di tempat-tempat dengan kondisi yang didominasi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

Faktor lingkungan

Populasi nyamuk umumnya meningkat pada musim hujan. Curah hujan tinggi merupakan habitat terbaik nyamuk pembawa DBD. Namun di Indonesia, perkembangbiakan nyamuk terjadi hampir sepanjang tahun. Hal ini dikarenakan perilaku warga yang cenderung kurang menjaga kebersihan tempat tinggalnya, seperti membiarkan tumpukan barang bekas, sehingga menjadi sarang nyamuk untuk berkembang biak. Selain itu, di seluruh Indonesia berkembang empat tipe virus dengue yang terus bersirkulasi sepanjang tahun.

Faktor sosial

Data Ditjen PP & PL Kementerian Kesehatan mengungkap bahwa kasus DBD paling banyak terjadi di kota-kota dengan kepadatan penduduk tinggi seperti di Pulau Jawa. Kepadatan ini diperburuk dengan infrastruktur yang kurang memadai seperti sarana penampungan dan pembuangan sampah, serta penampungan air bersih.

Di samping itu, perilaku warga menampung air dalam bak-bak penampungan tanpa menjaga kebersihannya menjadikan wadah-wadah ini menjadi lokasi ideal bagi jentik-jentik untuk berkembang biak. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan nyamuk dapat berkembang biak sepanjang tahun.

Faktor sarana kesehatan dan tenaga medis

Keberadaan alat fogging atau pengasapan tidak disertai dengan biaya pemeliharaan dan perbaikan sehingga penggunaannya tidak maksimal.

Mengenali faktor-faktor penyebab meningkatnya kasus DBD sekaligus area-area yang berisiko tinggi dapat membuat Anda menjadi lebih waspada terhadap penyakit ini. Melakukan tindakan pencegahan, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari diri dari gigitan nyamuk, sangat bermanfaat dalam mengurangi risiko terjangkit DBD.