Dampak Buruk yang dapat Dialami Penggemar Video Porno

Penelitian menemukan bahwa video porno ternyata memberi dampak kepada banyak aspek di dalam kehidupan manusia. Menonton tayangan yang juga dinamakan film biru ini secara berlebihan dapat membahayakan kesehatan fisik, mental, dan sosial seseorang.

Dahulu, media cetak dan keping DVD menjadi sarana pornografi yang relatif tidak mudah didapat, namun kini sebagian besar orang sudah dapat mengaksesnya dengan mudah, bahkan hanya melalui smartphone di tangannya dengan satu klik saja. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 26 persen pria menggunakan internet untuk menonton video porno, sedangkan wanita hanya 3 persen.

Dampak Buruk yang dapat Dialami Penggemar Video Porno

Terbangkitkannya gairah seseorang oleh video porno terkait dengan beberapa bagian otak. Sebuah teori menyatakan bahwa video porno menegaskan peran neuron cermin (mirror neuron), yaitu sel-sel otak yang menjadi aktif ketika mengamati sebuah aktivitas pemicu, sehingga kemudian membangkitkan gairah seksual pria.

Peneliti memprediksi bahwa alasan sebagian orang menonton video porno, antara lain untuk mewujudkan fantasi mereka menjadi adegan yang dapat mereka lihat atau berharap bisa mempraktikkan apa yang mereka tonton menjadi tindakan nyata. Sementara sebagian orang lain menggunakan video porno sebagai alat bantu untuk masturbasi.

Sebagian ahli berpendapat bahwa kesukaan pria menonton video porno bukan berarti dia sedang bermasalah dengan kehidupan seksual atau pernikahannya. Video porno secara positif diklaim dapat menginspirasi pasangan suami istri untuk melakukan eksperimen dalam berhubungan seksual. Meski begitu, nyatanya video porno sering memuat perilaku seks yang tidak aman atau bahkan menyimpang.

Sebelum berpikir untuk mengakses lebih banyak video porno, lebih baik baca dulu beberapa potensi dampak buruknya sebagai berikut.

  • Sebuah penelitian kecil yang dilakukan dengan pemindaian MRI menemukan bahwa para pria yang sering menonton video porno memiliki substansi abu-abu (jaringan otak yang kompleks) yang lebih sedikit pada otaknya. Substansi abu-abu yang lebih sedikit ini berada pada area otak yang diduga berperan dalam pengolahan reward. Penelitian ini menyimpulkan adanya korelasi antara frekuensi dan durasi menonton video porno per minggu dengan berkurangnya luas area otak yang aktif, sehingga memengaruhi reward dan stimulasi seksual pada pria. Namun di sisi lain, para ahli menyatakan dapat juga yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu para pria ini butuh stimulasi lebih tinggi melalui video porno karena lebih sedikit area yang aktif dalam otak mereka.
  • Video porno mungkin dapat membuat penontonnya cenderung membutuhkan stimulasi seksual yang lebih tinggi dan ingin melakukan hubungan seksual yang lebih ekstrem. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan hal ini.
  • Beberapa ahli menyebut bahwa pornografi serupa dengan racun yang sejajar dengan kokain. Sama seperti kecanduan-kecanduan lain, sebagian terapis beranggapan bahwa pecandu pornografi membutuhkan durasi dan frekuensi yang makin tinggi dengan materi yang makin ekstrem untuk memuaskan diri. Namun sebagian lain menolak anggapan ini.
  • Terlalu sering menonton video porno menghabiskan banyak waktu yang mungkin dapat berujung pada hal lain yang lebih serius, seperti kehilangan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan berkonsekuensi terhadap hilangnya sumber pendapatan.
  • Dalam jangka panjang, kebiasaan menonton video porno dianggap dapat berpotensi menumbuhkan praktik sadomasokistik, yaitu perilaku seksual menyimpang yang melibatkan kekerasan.
  • Meski tidak dapat digeneralisasi, tapi kebiasaan menonton video porno berpotensi menyebabkan penontonnya mengabaikan tanggung jawab, kurang waktu tidur, serta diabaikan oleh pasangan.
  • Beberapa orang menganggap video porno sebagai saluran pengalihan ketika pasangan mereka enggan melakukan hal yang mereka sukai, seperti melakukan seks oral. Pada situasi ini, video porno justru dapat menjadi penghalang intimasi antara suami istri.
  • Relasi sosial orang yang terlalu sering menonton video porno dapat menjadi tidak sehat karena risiko berkurangnya interaksi nyata dengan orang lain. Kurangnya interaksi ini dapat berujung pada potensi gangguan lain, seperti depresi dan merasa terisolasi secara sosial.

Pada akhirnya, remaja adalah golongan usia yang paling berisiko terhadap kebiasaan menonton video porno ini. Generasi remaja masa kini adalah generasi pertama yang hidup dengan berbagai kemudahan mengakses apa pun melalui smartphone, termasuk video porno. Selain kemungkinan dampaknya pada otak, terlalu sering mengakses video porno juga berisiko berdampak pada psikologis remaja, seperti bagaimana pria mempersepsikan tubuh wanita dan yang lebih berbahaya adalah hubungan seksual di luar nikah yang tidak sehat dan tidak aman.

Dalam jangka panjang, menonton video porno memungkinkan berkurangnya penghargaan terhadap hubungan monogami dalam jangka panjang dan pemahaman akan hubungan seks sebagai cara suci mendapatkan keturunan. Hal ini dilatarbelakangi oleh naskah dalam video porno yang menggambarkan hubungan seksual yang mudah terjadi antara dua orang yang baru bertemu, tidak saling berkomitmen, dan tidak akan bertemu lagi. Tidak ada unsur  kebaikan, perhatian, tanggung jawab, dan cinta di dalamnya.

Akibatnya, beberapa orang yang terbiasa menonton video porno, terutama mereka yang di bawah umur, dapat mengundang risiko bertindak kasar terhadap orang lain, terlebih kepada pasangannya, dan bahkan menjadi pelaku pelecehan atau tindak kejahatan seksual.

Oleh karenanya, mulai sekarang lebih disarankan untuk mulai mendiskusikan pertanyaan dan persoalan seksual dengan orang-orang yang dapat kamu percayai, dibandingkan mengakses sumber-sumber yang belum tentu tepat. Selain itu, orang tua juga diharapkan dapat memberikan pendidikan seksual sejak dini kepada anak.