Dasar-dasar Prosedur Memanfaatkan Cairan Infus

Cairan infus yang kita ketahui umumnya diberikan kepada pasien rawat inap di rumah sakit. Bagaimana prosedurnya, mari kita kenali lebih dekat lagi, termasuk mengetahui manfaat dan risiko komplikasinya.

Cairan infus (intravenous fluid) umumnya tersimpan di dalam sebuah kantong atau botol yang akan dialirkan melalui selang menuju pembuluh darah langsung. Cairan infus bisa mengandung gula, elektrolit, maupun obat-obatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Pemberian cairan infus harus berdasarkan rekomendasi dokter.

cairan infus-alodokter

Kuantitas dan kecepatan tetesan cairan infus pun perlu disesuaikan. Ketentuannya akan bergantung kepada usia, kondisi kesehatan, dan ukuran badan pasien. Pemberian cairan infus perlu diatur agar tidak terlalu sedikit ataupun terlalu banyak jika tidak ingin terjadi komplikasi. Inilah mengapa perawat perlu memeriksa kelancaran dan ketepatan pemberian dosis cairan infus ini secara teratur. Sebaliknya, kurangnya pasokan cairan infus yang diberikan dapat membuat pengobatan menjadi tidak efektif.

Dua Metode Pemberian Cairan Infus

Cairan infus ini dapat diberikan menggunakan pompa elektrik ataupun secara manual dengan dua perbedaan teknik sebagai berikut.

  • Manual: perawat mengatur kecepatan tetesan cairan infus dengan cara mengurangi atau meningkatkan tekanan pada katup yang dipasang pada selang. Dengan demikian tetesan cairan per menit dapat dihitung dan disesuaikan dengan kebutuhan.
  • Pompa elektrik: pompa diprogram agar cairan infus menetes pada saat dan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan.

Setelah dokter menentukan jenis infus yang dibutuhkan pasien, maka infus siap dimasukkan melalui kulit. Lokasi yang diutamakan adalah pada kulit tangan ataupun lipatan antara lengan atas dan bawah orang dewasa. Namun pada bayi, pemberian infus dapat disalurkan melalui bagian kaki, tangan, atau kulit kepala. Kateter dimasukkan pada pembuluh darah bagian tubuh tertentu. Pasien mungkin akan merasakan sedikit rasa tidak nyaman saat kateter dimasukkan ke pembuluh vena.

Penyebab dan Komplikasi

Dokter dapat memutuskan memberikan cairan infus karena beberapa alasan seperti berikut, yaitu pasien yang sedang:

  • Menjalani perawatan infeksi dengan antibiotik.
  • Penggunaan obat-obatan kemoterapi untuk menangani kanker.
  • Rehidrasi setelah aktivitas fisik yang melelahkan atau sakit yang menyebabkan dehidrasi.
  • Penggunaan obat-obatan untuk mengelola rasa sakit.

Komplikasi akibat pemberian cairan infus sebenarnya dapat terbilang sangat kecil, meski tetap harus diwaspadai. Di bawah ini adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat kesalahan dalam penggunaan infus.

  • Kateter terlepas.
  • Infeksi pada area yang dimasuki jarum.
  • Penyempitan pembuluh darah (kolaps).
  • Aliran cairan infus yang berlebihan dapat menyebabkan gejala-gejala tertentu, seperti sesak napas, serangan cemas, tekanan darah meningkat, dan sakit kepala. Kondisi ini dapat berbahaya terutama jika pasien mengalami penyakit tertentu.
  • Cairan infus dapat berbahaya bagi pengidap gagal jantung karena berisiko memperparah kondisi.

Pasien sebaiknya juga segera menginformasikan kepada perawat jika pemasangan infus terasa mendatangkan rasa tidak nyaman atau gejala-gejala tertentu. Pemberian cairan infus harus disertai dengan pengawasan keseimbangan cairan. Keseimbangan di sini adalah catatan tentang berapa cairan yang masuk, berapa yang hilang, dan berapa yang dikeluarkan melalui cairan urine.

Sebelum anak diberikan cairan infus, dokter perlu menimbang berat badannya terlebih dahulu tiap hari. Bagi anak yang kondisi kesehatannya lebih parah akan membutuhkan pemeriksaan kadar glukosa dan elektrolit tiap 4-6 jam sekali yang kemudian frekuensinya akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan terakhir.