Demam Kelenjar

Pengertian Demam Kelenjar

Demam kelenjar adalah infeksi virus yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Infeksi ditularkan melalui air liur atau ludah penderita yang mengandung virus tersebut. Sesudah memasuki tubuh penderita, virus ini akan berinkubasi selama 6 minggu sampai penderita menunjukkan gejala yang biasanya ditandai dengan demam dan kelelahan.

Infeksi demam kelenjar dapat ditularkan oleh penderita kepada orang sehat melalui kontak langsung (misalnya berciuman) atau melalui udara yang dihembuskan lewat batuk, serta butiran air liur ketika dirinya bersin. Selain itu, penyebaran juga dapat terjadi lewat perantara barang-barang yang sudah terpapar virus dari penderita, misalnya perlengkapan makan atau mandi.

Demam Kelenjar

Penularan demam kelenjar masih tetap rentan terjadi meskipun penderita telah dinyatakan sembuh, karena virus masih bisa bertahan dalam air liur hingga beberapa tahun. Oleh karena itu, penderita dianjurkan untuk melakukan upaya pencegahan agar virus tidak menyebar pada orang lain.

Demam kelenjar dapat menyerang seseorang pada usia berapa pun, namun umumnya terjadi pada kalangan remaja. Selama terserang infeksi demam kelenjar, sistem imunitas tubuh akan membentuk antibodi yang dapat bertahan seumur hidup, sehingga orang yang pernah terkena infeksi ini jarang menderita infeksi yang sama kembali.

Meski diketahui tidak ada obat yang dapat menyembuhkan demam kelenjar, kombinasi pemberian obat, istirahat, serta asupan cairan yang memadai dapat meredakan gejala. Kondisi penderita demam kelenjar biasanya akan membaik dalam waktu beberapa minggu.

Gejala Demam Kelenjar

Gejala yang umumnya dirasakan oleh penderita demam kelenjar adalah:
  • Pembengkakan kelenjar, terutama di leher dan di bawah ketiak.
  • Gejala seperti flu, yakni demam, pusing, dan nyeri otot.
  • Kelelahan.
  • Nyeri tenggorokan.
Selain itu,  gejala lainnya bisa berupa ruam kulit, kulit menguning, kehilangan selera makan, kedinginan, adenoid dan tonsil (amandel) berwarna merah, dan perut bengkak atau terasa lembek.

Penyebab Demam Kelenjar

Demam kelenjar disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Seperti yang telah disebutkan di atas, EBV dapat menular dari penderita kepada orang yang sehat melalui air liur, baik lewat kontak langsung maupun lewat perantaraan barang-barang yang telah terkontaminasi virus tersebut. Paparan virus ini mengakibatkan infeksi pada sel lapisan tenggorokan. Infeksi ini kemudian menyebar ke dalam sel darah putih melalui sistem limfatik (getah bening) di dalam tubuh.

Meski terjangkiti virus EBV, tidak semua orang akan mengalami gejala demam kelenjar. Orang yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala disebut sebagai pembawa asimtomatik, yang dapat menularkan EBV pada orang lain.

Sebagian besar penderita demam kelenjar umumnya akan pulih dalam waktu 2 atau 3 minggu pasca gejala muncul. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat bertahan hingga lebih dari satu tahun dengan gejala yang kambuh sesekali. Meski demikian, antibodi terhadap virus EBV akan terbentuk untuk seumur hidup pasca infeksi, sehingga penderita demam kelenjar tidak akan mengalami penyakit yang sama kembali setelah benar-benar sembuh.

Diagnosis Demam Kelenjar

Guna mendiagnosis demam kelenjar, dokter perlu menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik selanjutnya akan dilakukan, terutama untuk melihat tanda-tanda demam kelenjar, seperti pembengkakan kelenjar, hati, serta limpa.  Diagnosis akan dikuatkan dengan pemeriksaan darah yang bertujuan untuk memastikan apakah penyebab gejala tersebut merupakan virus EBV dan bukan akibat virus rubella, campak, atau toksoplasmosis yang menimbulkan gejala serupa dengan demam kelenjar. Jika hasil tes negatif, namun dokter tetap mencurigai pasien menderita demam kelenjar, maka tes darah secara berkala akan dianjurkan untuk dilakukan selama beberapa minggu ke depan.

Pengobatan Demam Kelenjar

Demam kelenjar umumnya dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu. Meski belum ditemukan obatnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gejala yang diderita. Cara tersebut antara lain:
  • Memperbanyak asupan cairan guna menghindari dehidrasi. Asupan cairan bisa didapat dari air putih atau jus buah tanpa gula. Selain itu, hindari minum alkohol karena dapat mengganggu kondisi hati yang sudah melemah saat terjadi infeksi virus ini.
  • Banyak beristirahat. Hal ini diperlukan untuk memulihkan kondisi penderita demam kelenjar. Selama bulan pertama, hindari olahraga yang berisi kontak fisik atau kegiatan yang terlalu berat karena kondisi limpa yang melemah selama terserang infeksi virus demam kelenjar.
  • Mencegah penyebaran infeksi. Hindari berciuman dengan orang lain, batuk atau bersin tanpa memakai masker, atau berbagi penggunaan barang. Selain itu, jagalah selalu kebersihan untuk meminimalisasi penyebaran virus.
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri. Beberapa jenis obat ini dapat dibeli secara bebas di pasaran. Contohnya adalah paracetamol dan ibuprofen.
  • Berkumur dengan campuran air hangat dan garam guna meredakan nyeri tenggorokan.
Apabila infeksi virus diikuti dengan infeksi bakteri, dokter akan memberikan antibiotik. Selain itu, obat kortikosteroid juga dapat membantu jika pembengkakan tonsil menyebabkan pasien sulit bernapas, mengalami anemia parah, serta mengalami masalah pada jantung (misalnya perikardirtis) atau otak (misalnya ensefalitis).

Perawatan di rumah sakit juga dibutuhkan jika pasien mengalami kesulitan bernapas atau menelan, serta mengalami nyeri perut hebat. Di rumah sakit, biasanya penderita akan diberi infus antibiotik, suntikan kortikosteroid, atau obat-obat pereda nyeri. Meski langka terjadi, operasi darurat seperti pengangkatan limpa (splenektomi) juga dapat dilakukan jika limpa sudah pecah.

Komplikasi Demam Kelenjar

Beberapa komplikasi yang berisiko muncul akibat penyakit demam kelenjar meliputi:
  • Limpa pecah. Demam kelenjar dapat mengakibatkan limpa membengkak dan berisiko pecah.
  • Penurunan sel darah, misalnya anemia (penurunan sel darah merah) dan neutropenia (penurunan sel darah putih neutrofil).
  • Kelelahan berkepanjangan atau sindrom kelelahan kronis.
  • Komplikasi pada saraf, misalnya ensephalitis (infeksi pada otak), Bell’s palsy (kelumpuhan otot sementara di salah satu sisi wajah), sindrom Guillain-Barre (peradangan saraf), serta meningitis virus.
  • Infeksi Sekunder. Infeksi demam kelenjar yang melemahkan sistem imunitas tubuh akan memungkinkan bakteri untuk Contoh infeksi sekunder adalah pneumonia dan perikarditis.