Dokter Andrologi: Solusi Masalah Reproduksi Pria

Bagi Anda yang sedang mengalami masalah reproduksi pria, dokter spesialis andrologi bisa menjadi jawaban dari kondisi tersebut. Awalnya merupakan bagian dari dermatologi, kini andrologi lebih fokus menangani masalah infertilitas, penuaan dini, serta penyakit-penyakit yang khusus diderita kaum pria.

Andrologi berkembang sebagai bagian dari dermatologi. Sebelumnya, seorang ahli dermatologi wajib memiliki pengalaman dalam mendiagnosis gangguan andrologi dan perawatannya. Kini spesialisasi andrologi yang umumnya dikenal menangani masalah pada pria yang meliputi infertilitas, kontrasepsi, ejakulasi, gangguan hormon, hingga masalah penuaan.

Dokter Andrologi Solusi Masalah Reproduksi Pria

Sejarah Perkembangan Andrologi Modern

Awal sejarah andrologi modern sebagai ilmu kesehatan terjadi pada pertengahan era 1900-an. Istilah andrologi sendiri pertama kali disebut pada tahun 1951. Pada saat itu, para ilmuwan dari berbagai latar belakang, termasuk urologi, endrokrinologi, dan beberapa ahli dermatologi menemukan minat yang sama dalam sistem reproduksi pria yang sebelumnya telah lama diabaikan. Setelah itu, banyak spesialis yang bergabung dengan kelompok yang kemudian menamakan diri sebagai ahli andrologi.

Meski awalnya terdiri dari berbagai bidang ilmu kesehatan, andrologi kini bisa diartikan sebagai satu disiplin kedokteran yang mempelajari patofisiologi sistem reproduksi sepanjang hidup pria, mulai dari perkembangan kedewasaan hingga penuaan. Tidak lama kemudian, WHO menyatakan bahwa andrologi terkait dengan kesehatan reproduksi pria. Hal ini cukup mirip dengan ginekologi pada bidang kesehatan reproduksi wanita.

Keluhan Umum yang Biasa Ditangani Dokter Andrologi

Saat ini, andrologi modern memanfaatkan pencapaian di bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran, meliputi biologi molekular hingga mikroskopis, serta genetika dengan standar kualitas tinggi. Semua hal tadi bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pada seorang pria.

Demi tujuan tadi, dokter andrologi biasanya akan melayani masyarakat terkait masalah yang biasanya meliputi :

  • Infertilitas pada pria

Penyebab infertilitas pada pria bisa disebabkan oleh kurangnya pembentukan, konsentrasi, atau pergerakan sperma. Langkah penanganan awal dari dokter andrologi adalah memeriksa riwayat medis dan urologi pasien. Setelah itu, melakukan pemeriksaan fisik pasien secara menyeluruh yang meliputi pemeriksaan testis, epididimis, saluran sperma, penis, rektum, dan habitus tubuh. Dan dilengkapi dengan pemeriksaan hormon dan analisis air mani. Pada umumnya, pengobatan infertilitas didasari oleh hasil diagnosis riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, perubahan hormon, dan kondisi air mani. Namun, jika dibutuhkan, pemeriksaan yang lebih meluas bisa dilakukan guna menentukan perawatan lebih tepat.

  • Masalah seksual pada pria

Masalah seksual paling umum bagi pria adalah ejakulasi dini.  Kondisi ini ditandai dengan terjadinya ejakulasi sebelum penetrasi atau tidak lama setelah melakukan penetrasi. Masalah seksual lainnya adalah disfungsi ereksi. Gangguan ini dikenal juga dengan impotensi, yaitu tidak bisa mendapatkan atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seksual.

Pada umumnya, kondisi ini disebabkan oleh penyakit yang memengaruhi aliran darah, gangguan saraf, atau faktor psikologi. Selain itu, kehilangan libido atau menurunnya minat berhubungan seksual juga kerap menjadi masalah seksual pada pria. Penurunan libido ini dapat disebabkan oleh masalah psikologi, yaitu kecemasan dan depresi atau penyakit tertentu, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi.

Sebagian besar kasus gangguan seksual pria dapat dipulihkan dengan mengatasi masalah fisik atau psikologi yang menjadi faktor penyebab. Dokter andrologi akan memberi pengobatan fisik, hormon, alat bantu mekanik, terapi psikologi yang dibantu konselor terlatih sesuai dengan penyebabnya

  • Hipogonadisme

Ini terjadi saat kelenjar seksual hanya sedikit memproduksi hormon. Kelenjar ini terletak pada testis. Penyebabnya bisa meliputi gangguan autoimun pada tubuh, gangguan genetik, infeksi, penyakit hati dan ginjal, radiasi, dan efek setelah operasi. Gejala yang ditimbulkan akibat hipogonadisme adalah kehilangan massa otot, dada yang membesar, atau penurunan minat untuk berhubungan seks (libido rendah). Meski begitu sebagian besar bentuk hipogonadisme masih bisa diobati.

Jika kita mencurigai sedang mengalami salah satu masalah reproduksi pria, segera konsultasikan kepada dokter andrologi demi bisa mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.