Dunia Medis Tidak Mengenal Istilah Puber Kedua

Puber kedua sering digunakan untuk menyebut kondisi orang-orang paruh baya yang bertingkah laku seperti remaja. Untuk menjawab tentang puber kedua ini, mari kita bahas apa yang dimaksud dengan makna pubertas yang sebenarnya.

Pubertas adalah masa saat tubuh telah matang secara seksual, ditandai dengan kemampuan organ reproduksi yang dapat berfungsi. Perubahan ini disebabkan pelepasan hormon testosteron oleh testis dan estradiol oleh ovarium.

puber kedua-alodokter

Selain perubahan fisik, pubertas ditandai dengan perubahan tingkah laku dan psikologis. Secara psikologis, remaja yang mengalami pubertas akan cenderung lebih agresif dengan mood yang naik turun. Tingkah laku mereka juga berubah menjadi lebih berani mencoba hal baru yang belum tentu baik seperti seks, mencoba minuman keras, atau merokok. Pada remaja wanita, pubertas umumnya terjadi pada usia 8-14 tahun dan pada remaja pria pada usia 9-14 tahun.

Lalu bagaimana dengan istilah puber kedua yang disebut-sebut dialami sebagian orang paruh baya? Puber kedua sebenarnya tidak ada dalam dunia medis. Istilah ini sering digunakan untuk menyebut orang dewasa yang berperilaku selayaknya remaja yang baru memasuki masa pubertas. Beberapa yang terlihat adalah lebih memperhatikan penampilan, perubahan mood yang lebih fluktuatif, stres, rendah diri atau sebaliknya lebih percaya diri, dan lebih agresif.

Puber Kedua atau Perimenopause?

Seorang ahli psikologi menyatakan pubertas kedua sebagai masa-masa ketika kehidupan seseorang kembali melewati periode ‘badai dan stres’ disertai dorongan gairah yang menggebu-gebu, pada usia sekitar 35-40 tahun.

Sebagian orang mengaitkan pubertas kedua dengan masa perimenopause.  Perimenopause adalah masa transisi beberapa tahun sebelum memasuki masa menopause. Pada wanita, ini adalah masa saat ovarium secara bertahap memproduksi lebih sedikit estrogen. Masa ini akan berlangsung hingga ovarium benar-benar berhenti melepaskan sel telur dan wanita memasuki masa menopause.

Pada sebagian wanita, masa ini dapat bermula pada usia 30-an atau lebih awal, sementara pada sebagian lainnya pada usia 40-an. Masa ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang berbeda-beda pada tiap wanita, yaitu berkisar 4-10 tahun.

Secara fisik, mereka dapat mengalami hot flashes (sensasi panas), kelelahan, haid tidak teratur, jantung berdebar-debar, vertigo, menurunnya tingkat kesuburan, berubahnya hasrat seksual, berkurangnya massa tulang, perubahan kadar kolesterol, payudara kencang, sindrom pramenstruasi yang memburuk, vagina kering, dan lebih sering buang air kecil.

Namun sebagian orang kadang-kadang tidak siap menghadapi perubahan psikologis, seperti beberapa gejala berikut.

  • Mood yang berubah secara mendadak.
  • Sulit tidur.
  • Beban pikiran berlebih.
  • Kecemasan.
  • Serangan panik.
  • Merasa hilang kendali.
  • Tiba-tiba menangis.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Kebingungan.

Tidak semua wanita akan mengalami seluruh gejala di atas. Namun ini adalah ciri-ciri umum yang dialami rata-rata wanita pada masa perimenopause. Perubahan-perubahan yang tidak disangka dan tidak diantisipasi ini dapat membuat seorang wanita yang mengalaminya menjadi bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya. Tidak heran jika terdapat sebagian orang-orang yang berada pada masa ini mengalami perubahan perilaku dan dapat melakukan hal-hal yang tidak diduga.

Apa yang dapat dilakukan untuk meredakan gejala-gejala perimenopause ini? Beberapa cara berikut dapat dicoba.

  • Berhenti merokok dan mengonsumsi minuman keras.
  • Olahraga.
  • Cukupi kebutuhan kalsium harian Anda.
  • Jaga berat badan tetap sehat.
  • Cukupi kebutuhan istirahat Anda dengan berusaha tidur dan bangun di jam yang sama.
  • Konsultasikan kepada dokter apakah Anda perlu mengonsumsi vitamin.

Apakah gejala-gejala di atas perlu dikhawatirkan? Sebagian wanita dapat menoleransi perubahan-perubahan ini sementara sebagian lain bahkan memerlukan bantuan medis. Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami beberapa kondisi berikut.

  • Timbul bercak setelah melakukan hubungan seksual atau di antara periode menstruasi.
  • Masa haid Anda berlangsung lebih lama, lebih banyak, atau mengalami pembekuan darah.
  • Masa menstruasi Anda datang lebih sering.

Hal-hal di atas dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti gangguan hormon, kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi, serta beberapa kondisi lain. Akan tetapi meski tingkat kesuburan dan produksi estrogen pada wanita menurun, tapi di masa-masa ini mereka masih dapat memiliki keturunan. Oleh karenanya disarankan untuk tetap menggunakan alat kontrasepsi jika tidak berencana untuk memiliki anak.