Efek Buruk yang Mungkin Terjadi Jika Ibu Hamil Mengidap Demam Dengue

Ketika ibu hamil mengidap demam dengue, efek buruk tak hanya dirasakan olehnya sendiri. Janin dalam kandungan mungkin juga bisa menerima dampak negatif dari kondisi tersebut.

Demam dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue . Virus ini disebarkan melalui gigitan  nyamuk Aedes aegypti. Demam dengue akan menjadi sangat berbahaya jika terjadi pada saat kehamilan. Virus dengue yang berada di dalam tubuh ibu hamil mungkin dapat diteruskan kepada  bayi yang  sedang di kandung.

Efek Buruk yang Mungkin Terjadi Jika Ibu Hamil Mengidap Demam Dengue

Jika kamu mengalami demam dengue biasanya gejala  dapat terlihat 4 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Gejala yang mungkin kamu alami yaitu  demam dengan suhu tubuh 38 derajat Celcius atau lebih, sakit kepala , mata terasa sakit, tubuh terasa nyeri (otot, sendi dan tulang), muncul ruam, perdarahan ringan  dari hidung dan gusi, lemas, serta mual dan muntah.

Menurut sebuah penelitian, kebanyakan ibu hamil yang mengidap dengue akan mengalami penurunan kadar trombosit. Nah, untuk memastikan hal tersebut, kamu bisa melakukan tes darah.

Risiko kamu mengalami komplikasi kehamilan seperti preeklampsia juga  akan meningkat jika mengalami demam dengue. Saat melahirkan, risiko kamu mengalami perdarahan juga tinggi, sehingga mungkin perlu dilakukan  transfusi darah

Selain hal  tersebut di atas, demam dengue bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius yakni demam berdarah dengue (DBD). Ibu hamil yang terjangkit demam dengue lebih sering untuk  berkembang menjadi DBD. Hal ini mungkin disebabkan karena menurunnya  sistem kekebalan tubuh yang terjadi selama kehamilan. DBD juga dapat berkembang apabila demam dengue tidak ditangani dengan baik. DBD yang tidak ditangani dengan benar dapat berakibat fatal. Meski begitu, kamu tidak perlu khawatir karena banyak, kok, ibu hamil yang mengidap demam dengue tapi tidak terjangkit DBD, asalkan kamu mengatasi demam dengue dengan baik.

Efeknya pada Bayi

Jika kamu mengidap demam dengue saat hamil, beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada bayimu antara lain:

Jika kamu mengidap demam dengue mendekati waktu persalinan, bayimu yang baru lahir mungkin bisa mengidap kondisi ini juga pada saat dua minggu pertama kehidupannya. Sementara, bayi yang terinfeksi dengan dengue berisiko tinggi mengalami kondisi penyakit yang lebih serius.

Cara Mengatasi Demam Dengue

Apabila kamu mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, disarankan untuk segera melakukan konsultasi  dengan dokter. Oia, terkadang gejala demam dengue hampir mirip ketika kamu mengalami flu atau infeksi virus lainnya. Jadi, harap waspada.

Hingga saat ini, belum ada obat-obatan khusus yang dapat membunuh virus dengue. Namun, kemungkinan dokter akan menyarankan untuk meredakan kondisi ini dengan melakukan cara-cara sederhana seperti berikut:

  • Banyak minum air untuk menghindari dehidrasi.
  • Minum obat penurun panas dan pereda nyeri seperti acetaminophen. Hindari mengonsumsi obat ibuprofen atau aspirin. Ibuprofen dapat mempengaruhi janin di saat kehamilan berusia trimester ketiga, sedangkan aspirin bisa memperburuk kondisi perdarahan.
  • Perbanyak istirahat.

Jika kamu merasa kondisimu memburuk seperti mengalami sakit perut parah atau muntah sehari setelah demam mereda, disarankan untuk segera ke rumah sakit untuk memastikan ada atau tidaknya komplikasi. Jika ternyata demam dengue telah berkembang menjadi DBD, kamu mungkin akan dirawat inap.

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang diperuntukkan untuk menjaga tubuh dari virus dengue.

Agar terhindar dari serangan tersebut, yang perlu kamu lakukan adalah mencegah dirimu digigit oleh nyamuk. Caranya bisa mengoleskan obat anti-nyamuk, (meski berada di dalam ruangan), gunakan pakaian yang menutupi kulitmu saat berada di luar ruangan, lebih disarankan untuk menyalakan pendingin udara saat di dalam ruangan, pastikan tidak ada lubang yang bisa memudahkan nyamuk masuk ke rumah, dan gunakan kelambu saat tidur juga bisa membantu.