Efek Kekerasan pada Anak Bisa Berlanjut Hingga Dewasa

Kekerasan pada anak tidak dapat dianggap remeh. Jika tidak ditangani dengan benar, efek sampingnya bisa berlanjut hingga korban mencapai usia dewasa.

Kekerasan terhadap kesejahteraan anak bisa berupa kekerasan seksual, fisik, psikologis, hingga pengabaian terhadap kesejahteraannya. Risiko terjadinya hal ini bisa di rumah, sekolah, komunitas dalam masyarakat, dan sebagainya.

Efek Kekerasan Pada Anak Bisa Berlanjut Hingga Dewasa - alodokter

Kabar buruknya, kasus kekerasan pada anak di Indonesia menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selama rentang 4 tahun mulai dari 2011, angka kekerasan pada anak terus meningkat. Dari sekitar 2 ribu kasus di tahun 2011, hingga pada tahun 2014 tercatat lebih dari 5 ribu kasus. Dengan lokasi kekerasan di lingkungan utama anak, yaitu di lingkungan keluarga dan sekolah.

Anak korban kekerasan tidak hanya memiliki bekas luka pada tubuhnya, namun juga dapat menyebabkan gangguan emosional. Misalnya, anak menjadi lebih sering sedih atau marah, sulit tidur, bermimpi buruk, rasa percaya diri yang rendah, atau bahkan ingin melukai diri sendiri hingga bunuh diri. Mereka juga menjadi sulit berinteraksi dengan orang lain atau memilih melakukan tindakan yang berbahaya.

Pengalaman sebagai korban kekerasan pada anak tidak dapat berlalu begitu saja ketika mereka dewasa. Beberapa risiko yang terus mengintai anak-anak korban kekerasan saat dewasa, antara lain:

  • Merasa tidak mudah memercayai orang lain.

Korban kekerasan pada anak merasakan pengalaman buruk mengenai penyalahgunaan rasa percaya dan rasa keamanan. Saat mereka dewasa bertahun-tahun kemudian, hal ini bisa terus memiliki dampak bagi mereka. Mereka kesulitan untuk kembali memercayai orang lain yang akan menyayangi secara tulus.

  • Memperoleh kesulitan mempertahankan hubungan pribadi

Pengalaman sebagai korban kekerasan pada anak dapat membuat mereka menjadi sulit memercayai orang lain, mudah cemburu, dan merasa curiga. Bahkan, ada yang merasa kesulitan mempertahankan hubungan pribadi untuk jangka waktu yang lama karena rasa takut. Saat dewasa, hal ini dapat mengganggu hubungan pribadi mereka. Padahal kondisi ini berisiko membuat mereka merasa kesepian.

  • Memiliki risiko gangguan kesehatan yang lebih tinggi

Korban kekerasan berisiko mengalami gangguan kesehatan yang lebih tinggi, baik secara psikis maupun fisik pada saat mereka tumbuh dewasa. Sebuah studi mengungkap, para korban lebih sering mengunjungi dokter, lebih banyak yang harus menjalani prosedur operasi hingga menderita kondisi penyakit kronis, bila dibandingkan yang tidak mengalami kekerasan.

  • Menjadi pelaku kekerasan pada anak atau orang lain.

Saat anak korban kekerasan menjadi orang tua atau pengasuh, mereka berisiko melakukan hal yang sama pada anak. Diperkirakan risiko ini terjadi cukup tinggi, yaitu pada sekitar tiga dari 10 orang anak korban kekerasan. Siklus ini dapat terus berlanjut jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat untuk mengatasi trauma.

Selain itu, ada pula risiko lain dari korban kekerasan pada anak ketika mereka beranjak dewasa seperti depresi, kelainan pola makan, serangan panik, keinginan bunuh diri, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang.

Tidak peduli seberapa lama pengalaman traumatis kekerasan pada anak sudah berlalu, tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat menimbulkan efek berkelanjutan. Penting bagi para korban kekerasan tersebut mendapat bantuan dari psikolog atau ahli lainnya.