Fakta-fakta di Balik Minum Susu Setelah Minum Obat

Obat dapat mengatasi masalah kesehatan yang kita alami. Namun, interaksi obat saat minum susu setelah minum obat juga perlu dipertimbangkan agar obat dapat diserap tubuh secara optimal.

Pada umumnya, obat mengandung bahan tertentu yang dapat berinteraksi secara berbeda-beda pada tubuh tiap orang. Bentuk interaksi ini dapat dipengaruhi akibat mengonsumsi obat-obatan lain, obat herba, bahkan nutrisi pada makanan atau minuman, termasuk susu.

[caption id="attachment_463510" align="alignnone" width="650"]pill and milk on white background pill and milk on white background[/caption]

Interaksi Obat dengan Makanan dan Susu

Interaksi obat dengan makanan dan susu dapat terjadi karena salah penggunaan yang tanpa disengaja atau ketidaktahuan tentang bahan aktif yang terkandung di dalamnya. Interaksi-interaksi tersebut dapat:
  • Menghalangi obat bekerja sebagaimana mestinya.
  • Mengakibatkan efek samping obat lebih ringan atau bahkan menjadi lebih buruk. Pada tingkatan yang lebih parah, dapat menimbulkan efek samping baru.
  • Obat juga dapat mengubah kinerja tubuh dalam menyerap nutrisi dari makanan.
Waspadai, semua bentuk perubahan reaksi ini berisiko membahayakan. Efektivitas kerja obat juga bergantung kepada usia, berat badan, kondisi medis seseorang, dosis obat, vitamin, obat herba, dan suplemen lain. Begitu pun halnya saat kita minum susu setelah minum obat. Cermati terlebih dahulu apakah kandungan susu dapat berdampak kepada kerja obat.

Kandungan Susu dan Pengaruhnya terhadap Fungsi Obat

Untuk obat-obat tertentu, minum susu setelah minum obat dapat dianggap aman. Alasannya bisa untuk mengurangi efek samping mual, muntah, gangguan lambung serta memastikan obat dapat terserap ke saluran darah secara semestinya. Obat-obatan yang dianjurkan dikonsumsi dengan susu:
  • Obat kortikosteroid, yaitu prednison dan hidrokortison yang dapat meningkatkan pembuangan kalium dan kalsium dari tubuh. Obat ini sebaiknya dikonsumsi dengan susu yang sarat kalium dan kalsium untuk mengatasi kekurangan kedua mineral ini.
  • Obat-obatan anti-inflamasi nonsteroid. Sebagian obat-obatan ini bisa dibeli secara bebas, seperti aspirin, diklofenak, ibuprofen dan naproksen.  Jika penggunaan mengganggu atau mengiritasi lambung, disarankan untuk dikonsumsi dengan makanan dan susu.
Beberapa obat lainnya tidak dianjurkan dikonsumsi dengan susu karena bahan yang terkandung di dalam susu dapat menghambat kerja obat yang dikonsumsi. Maka dari itu, konsumsi obat-obatan ini tidak disarankan dikonsumsi dengan susu:
  • Tetrasiklin. Obat antibiotik ini tidak bisa diminum dengan susu karena kalsium dalam susu mengikat antibiotik sehingga tidak bisa diserap usus.
  • Obat-obatan antibiotik golongan kuinolon, seperti ciprofloxacin, levoflaxcin, moxilfloxacin. Obat-obatan ini tidak bisa dikonsumsi dengan produk olahan susu seperti susu dan yogurt atau jus yang diperkaya dengan kalsium. Walau demikian, ciprofloxacin bisa dikonsumsi dengan makanan yang mengandung kalsium.
  • Obat antikejang atau antiepilepsi, seperti fenitoin. Obat antikejang akan mengganggu metabolisme vitamin D dan kalsium yang terkandung dalam susu. Demikian juga efek dari kalsium dan vitamin D yang mungkin bisa menetralkan efek dari obat antikejang tersebut. Oleh karena itu, diskusikan dengan dokter tentang konsumsi susu, suplemen kalsium dan vitamin D bila sedang berada dalam perawatan antiepilepsi jangka panjang.
Sebagai tindakan pencegahan, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau apoteker mengenai risiko minum susu baik setelah minum obat. Konsumsi susu perlu diawasi dan diperhatikan, terutama jika diimbangi dengan pemakaian antibiotik agar penyerapan obat tersebut dapat efektif. Tidak hanya itu, konsumsi makanan, suplemen, herba dan obat lainnya juga perlu didiskusikan dengan dokter.