Hamil Muda Akibat Hubungan Intim Dini

Fenomena hamil muda ternyata menjadi latar belakang kematian banyak remaja perempuan di dunia. Remaja perempuan yang melahirkan di bawah 15 tahun lima kali lebih berisiko meninggal dalam proses persalinan dibanding wanita usia 20 tahun ke atas.

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2012 menemukan bahwa angka kehamilan remaja usia 15-19 tahun mencapai 48 dari 1.000 kehamilan. Angka kematian ibu dan bayi yang pada pertengahan 2013 mencapai 359 untuk tiap 100.000 kelahiran hidup, dengan angka kematian bayi 32 per 1.000 kelahiran hidup.  Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia menempati urutan ke-8 terkait tingginya angka kematian pada kasus ini.

Hamil muda, Alodokter

Selain itu, survei Pusat Unggulan Asuhan Terpadu Kesehatan Ibu dan Bayi yang dikutip Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan bahwa tiap tahun ada sekitar 2,1-2,4 juta perempuan melakukan aborsi. Sebanyak 30 persen di antaranya adalah remaja.

Bahaya Hamil di Usia Terlalu Muda

Dibandingkan dengan yang hamil di usia 20-30 tahun, hamil dan melahirkan di bawah 18 tahun memang jauh lebih berisiko. Berikut ini beberapa risiko yang dapat terjadi:

Risiko kematian ibu dan bayi

Di seluruh dunia, terutama negara berkembang, ada sekitar 50.000 remaja perempuan usia 15-19 tahun yang meninggal tiap tahun pada masa kehamilan atau pada saat proses persalinan. Sekitar satu juta bayi yang lahir dari remaja perempuan juga meninggal sebelum usia mereka mencapai satu tahun. Bayi dari seorang ibu yang melahirkan di bawah usia 18 tahun 60 persen lebih berisiko meninggal sebelum satu tahun.

Makin muda remaja perempuan mengalami kehamilan, maka makin berisiko bagi persalinan dan anak yang dikandungnya. Hal ini dikarenakan tubuhnya secara umum belum siap untuk menjalani proses persalinan, seperti panggul mereka yang masih belum lebar. Ketiadaan pelayanan kesehatan yang memadai terkadang tidak memungkinkan ibu dan/atau bayi selamat dalam proses persalinan seperti ini. Apalagi kehamilan di bawah umur memang lebih banyak terjadi pada kalangan masyarakat tingkat ekonomi bawah.

Risiko kelainan pada bayi

Bagi para perempuan yang hamil muda, terutama mereka yang tidak mendapat dukungan dari keluarga dekat atau pasangannya, berisiko tinggi tidak mendapat perawatan yang memadai di masa kehamilan. Padahal masa kehamilan adalah periode krusial yang rawan komplikasi. Kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi dengan baik dapat menyebabkan kelainan atau cacat fisik sejak lahir.

Tekanan darah tinggi dan bayi lahir prematur

Perempuan yang hamil di masa remaja berisiko lebih tinggi mengidap tekanan darah tinggi dan preeklamsia dibandingkan mereka yang hamil di usia 20-30 tahun. Selain membahayakan ibu, kondisi ini juga dapat mengganggu perkembangan janin hingga mendatangkan komplikasi seperti bayi yang lahir prematur.

Remaja yang mengandung di bawah usia 18 tahun memang lebih berisiko untuk melahirkan bayi prematur dan mengalami komplikasi. Bayi yang lahir terutama sebelum 32 minggu akan dihadapkan kepada risiko gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, serta otak.

Bayi lahir dengan berat badan di bawah normal

Perempuan yang hamil di usia terlalu muda berisiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan sangat rendah, seperti kurang dari 1,5 kg. Bayi dengan berat badan kurang dari normal membutuhkan perawatan khusus, terutama untuk membantunya bernapas setelah dilahirkan. Hal ini bisa terjadi karena kelahiran prematur atau di bawah usia kehamilan 37 minggu.

Penyakit menular seksual

Remaja yang berhubungan seksual di usia muda lebih berisiko mengidap penyakit menular seksual, seperti HIV, klamidia, sifilis, dan herpes. Keengganan, ketidaktahuan, atau belum matangnya pola pikir membuat tidak sedikit remaja berhubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi seperti kondom.

Penyakit-penyakit tersebut dapat ditularkan bahkan melalui seks oral atau anal. Klamidia dan infeksi gonore pada wanita umumnya menyebabkan penyakit inflamasi panggul (pelvic inflammatory disease/PID) yang dapat memicu gangguan pada tuba falopi. Pada kondisi ini, pembuahan sel telur dapat terjadi di luar rahim atau disebut kehamilan ektopik.

Depresi pasca-melahirkan

Remaja perempuan lebih berisiko mengalami depresi pasca melahirkan karena merasa tidak siap, terutama jika tidak mendapat dukungan dari keluarga dan/atau pasangan. Depresi berisiko membuat remaja tidak mampu merawat bayinya dengan baik.

Remaja perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan juga sering menghadapi tekanan dari banyak pihak dalam berbagai bentuk. Misalnya desakan untuk menggugurkan kandungan, ketakutan akan penghakiman dari masyarakat, atau kekhawatiran akan kemampuan finansial mengurus bayi di masa depan.

Menghindar dari Risiko

Meski risiko mengandung dan melahirkan di usia muda sangat tinggi, namun ada cara yang dapat diusahakan agar ibu selamat dan bayi dapat lahir dengan sehat.

  • Berkonsultasi rutin ke dokter kandungan. Fasilitas Puskesmas dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang makin baik kini memungkinkan orang yang sudah mendaftar untuk memeriksakan kesehatan kandungan dan bayinya secara gratis.
  • Jauhi obat-obatan terlarang, minuman keras, dan rokok karena berisiko lebih membahayakan janin.
  • Konsumsi makanan sehat, terutama suplemen asam folat 0,4 mg tiap hari untuk perkembangan sistem saraf bayi.
  • Cari dukungan dari kerabat dan sahabat terdekat demi kesehatan mental.

Mencegah Hamil Muda

Bagaimanapun, selalu lebih baik untuk menghindari diri dari risiko tinggi akibat hamil di usia terlalu muda. Berikut ini beberapa cara yang dapat ditempuh.

Keluarga Berencana (KB)

Keluarga berencana merupakan solusi jangka panjang yang meliputi pencegahan agar tidak ada remaja perempuan di bawah 18 tahun yang memiliki anak. Merencanakan dan memutuskan untuk menikah dan berhubungan seksual setelah 18 tahun adalah salah satu langkah termudah yang dapat ditempuh. Sayangnya sebagian perempuan tidak menjalani kontrasepsi karena latar belakang pemahaman agama dan sosial. Dapat juga disebabkan karena kekhawatiran akan efek samping dan mitos tentang kontrasepsi.

Membuat keputusan untuk diri sendiri

Banyak remaja perempuan belum menyadari bahwa tubuh dan hidupnya adalah milik dan tanggung jawabnya sendiri. Sehingga langkah terpenting adalah jangan sampai orang lain yang membuatkan keputusan bagi hidup kita sendiri.

Selain itu masih banyak remaja perempuan yang tidak bisa membuat keputusan kapan mereka akan memiliki anak atau bagaimana menjaga sistem reproduksi mereka. Kemiskinan, ketiadaan pendamping orang tua, dan kekerasan seksual  menjadi faktor utama penyebab kehamilan di usia muda.

Sekitar 23 persen remaja yang menikah di usia 15-24 tahun dipaksa pasangannya untuk berhubungan seksual di saat dia sendiri tidak banyak tahu tentang seks dan kontrasepsi. Hindari hubungan seksual sebelum menikah, apalagi seks di bawah paksaan. Hindari juga aborsi yang tergolong ilegal di Indonesia, apalagi jika dilakukan bukan oleh tenaga medis.

Menggunakan kontrasepsi

Sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa sekitar 46 persen remaja perempuan berusia 15-19 tahun yang sudah menikah tidak pernah menggunakan kontrasepsi. Tekanan sosial untuk memiliki keturunan, ketidakmampuan untuk merencanakan kehidupan berkeluarga, ketakutan terhadap suami yang berusia lebih tua, dan kurangnya pengetahuan juga memicu kehamilan di usia muda. Padahal menggunakan kontrasepsi penting untuk mengurangi risiko penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak direncanakan.

Memberikan pendidikan yang memadai

Pendidikan yang baik akan membuat remaja lebih cermat mengambil keputusan dan menjaga dirinya sendiri. Pendidikan tentang seksualitas juga perlu diberikan sejak dini, tidak hanya bagi anak perempuan, tapi juga laki-laki. Remaja perempuan yang melahirkan di usia muda juga sebaiknya dapat terus melanjutkan pendidikan.

Jangan mudah percaya

Banyak mitos atau bujukan yang sering didengar remaja perempuan yang membuat mereka akhirnya bersikap permisif terhadap hubungan seksual di usia terlalu muda. Jangan mudah percaya pada hal-hal yang belum tentu benar semacam itu. Berikut ini beberapa mitos yang sering terdengar beserta faktanya.

Perempuan tidak akan hamil jika dia melompat-lompat setelah berhubungan seksual. Jika sperma sudah bertemu sel telur, lompatan setinggi dan sesering apa pun tidak akan menggagalkan terbentuknya janin.

Jika perempuan tidak mengalami orgasme, dia tidak akan hamil. Orgasme tidak ada hubungannya dengan proses pembuahan.

Berhubungan seksual di dalam air tidak akan menyebabkan hamil. Kontak vagina dengan sperma dalam kondisi apa pun berisiko menyebabkan hamil. Pada suhu yang sesuai, sperma dapat tetap hidup di luar tubuh pria selama beberapa menit.

Perempuan tidak dapat hamil jika berhubungan seks di masa menstruasi. Salah. Sperma dapat tetap hidup hingga seminggu dalam tubuh perempuan.

Membasuh vagina setelah berhubungan seksual dapat mencegah kehamilan. Membasuh vagina tidak akan mencegah sperma yang sudah masuk untuk membuahi sel telur.

Tidak akan terjadi kehamilan selama ejakulasi tidak dilakukan di dalam vagina atau jika penis hanya masuk beberapa saat sebelum ejakulasi. Salah. Terdapat cairan praejakulasi yang keluar sebelum ejakulasi utama terjadi. Cairan ini pun mengandung sperma yang dapat membuahi sel telur.  Pembuahan dapat terjadi kapan saja selama cairan mani menyentuh area vagina.

Jangan percaya juga jika ada yang mengatakan bahwa seorang perempuan tidak akan hamil jika baru melakukan hubungan seksual pertama kali atau melakukannya sambil berdiri. Sperma yang telah masuk ke dalam tubuh wanita berpeluang membuahi sel telur.

Di atas semuanya, menghargai tubuh dan diri sendiri adalah langkah awal terpenting untuk menghindari diri dari risiko-risiko mengalami hamil muda yang pada akhirnya mengancam nyawa ibu akibat mengandung di usia yang terlalu dini.