Hati-hati, Awalnya Stroke Ringan, Selanjutnya Stroke

Stroke ringan memiliki durasi serangan yang singkat dan dapat menghilang dalam beberapa menit. Namun meski gejalanya telah pergi, penyakit ini tetap menyimpan bahaya mematikan jika diabaikan, termasuk kematian.

Stroke ringan sendiri dalam bahasa medis dinamakan serangan iskemik transien atau transient ischaemic attack (TIA). Penyebab penyakit ini sama dengan stroke, yaitu terhalangnya aliran darah ke otak. Sehingga wajar jika gejala yang muncul mirip dan organ tubuh yang terlibat pun sama.

hati-hati awalnya stroke ringan selanjutnya stroke - alodokter

Gejala TIA atau stroke ringan sendiri biasanya mudah dilihat melalui wajah, lengan, dan kemampuan bicara. Stroke ringan dapat menyebabkan  kelemahan otot wajah sehingga wajah turun ke salah satu sisi, tidak bisa senyum, mata, atau mulut turun ke bawah.

Penderita stroke ringan kemungkinan takkan mampu mengangkat kedua lengan. Hal ini terjadi karena lengan mereka lemas atau mati rasa pada salah satu sisi.

Pada orang yang mengalami stroke ringan, kemampuan bicara mereka juga bisa terganggu. Mereka akan cadel, tidak beraturan, atau bahkan tidak mampu bicara sama sekali. Jika salah satu gejala yang telah disebutkan, maka segeralah menghubungi dokter.

Perbedaan mendasar antara stroke ringan dengan stroke adalah ukuran atau tingkat keparahan sumbatan yang menghalangi aliran darah ke otak. Pada stroke ringan, sumbatan tergolong kecil sehingga bisa diperbaiki kembali oleh sistem pertahanan dalam tubuh. Akibatnya, gejala stroke ringan tidak bersifat permanen dan segera hilang. Jika sumbatan tersebut lebih besar atau parah, maka bisa terjadi stroke sepenuhnya.

Bahaya yang Mungkin Muncul

Mini stroke, nama lain dari stroke ringan, meski gejalanya hanya berlangsung singkat, namun bisa menunjukkan bahwa tubuh seseorang yang diserangnya sedang terancam bahaya. Orang yang terkena stroke ringan pada sembilan tahun pertama diprediksi memiliki risiko harapan hidup lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalaminya.

Hal tersebut berdasarkan data bahwa sekitar 4 dari 10 orang yang terkena stroke ringan kemudian menderita stroke yang sebenarnya. Yang mengkhawatirkan adalah setengah dari kasus stroke sebenarnya itu terjadi dalam kurun waktu 48 jam setelah stroke ringan.

Meski stroke ringan menyerang hanya dalam waktu yang relatif singkat, kondisi ini bisa secara mudah berujung pada stroke sebenarnya sehingga berdampak permanen. Kondisi yang lebih parah bisa terjadi jika gejala stroke ringan tersebut tidak terdeteksi sehingga terjadi pembiaran. Maka kerusakan otak yang disebabkannya dapat memicu komplikasi berupa penglihatan yang kabur, gangguan kognitif dan demensia.

Persentase risiko di atas kemungkinan bertambah jika mengingat masih minimnya kewaspadaan masyarakat awam terhadap gejala serangan stroke mini. Lihat saja bagaimana tingkat kesadaran mengenai stroke ringan ini dalam sebuah penelitian. Ternyata terdapat lebih dari 68 dari 100 orang yang tidak mengenali seperti apa gejala stroke ringan. Ditambah lagi, menurut survei, hampir 75 persen dari mereka yang sadar akan gejala stroke ringan tidak akan langsung ke rumah sakit untuk diperiksa.

Yang lebih parah, lebih dari 65 persen orang belum pernah mendengar mengenai penyakit TIA atau stroke ringan sama sekali. Padahal banyak orang yang berisiko mendapatkan stroke ringan tanpa mereka sadari.

Orang-orang dengan kondisi tertentu juga wajib mewaspadai kemungkinan terkena stroke ringan. Mereka yang merokok, mempunyai tekanan darah tinggi atau hipertensi, dan berat badan berlebih memiliki risiko lebih besar terkena stroke ringan. Selain itu, mereka yang memiliki kadar kolesterol tinggi atau mengonsumsi alkohol berlebih secara rutin juga lebih berisiko terkena stroke ringan. Penderita fibrilasi atrium atau jenis denyut jantung tidak teratur serta diabetes juga lebih rentan terkena stroke ringan.

Mengingat dampaknya yang bisa mematikan, seseorang harus segera mendapatkan pemeriksaan medis jika terkena stroke ringan. Mintalah pengecekan menyeluruh terkait sistem peredaran darah untuk memastikan saluran darah mana yang menyempit. Dokter biasanya akan melakukan CT atau MRI scan untuk memeriksa sistem peredaran darah. Sebagai tambahan, EKG dan tes darah juga umumnya dilakukan.

Segera jalani gaya hidup sehat agar risiko terkena penyakit yang lebih berat kian minim. Berhenti merokok, batasi konsumsi makanan berkolesterol, tidak mengonsumsi alkohol, dan rutin berolahraga adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjauhkan diri dari stroke. Pastikan juga cukup mengonsumsi buah dan sayur, menjaga berat badan sehat, serta mengelola diabetes dengan baik untuk menghindari penyakit ini.