Hati-hati, Efek Gurih Vetsin Bukan Tanpa Risiko Kesehatan

Selain biasa ditambahkan ke dalam masakan rumahan untuk menyedapkan rasa, vetsin juga terdapat dalam banyak makanan kemasan olahan. Umumnya konsumsi makanan bervetsin tidak menyebabkan gejala apa pun pada manusia, tetapi sebagian kecil orang ternyata dapat merasakan efek negatif akibat vetsin.

Vetsin pertama kali diproduksi oleh seorang peneliti Jepang yang mencoba menduplikasi rasa gurih alami dari kombu, yaitu rumput laut yang menjadi bahan dasar sup Jepang pada umumnya. Berbeda dengan vetsin modern yang umumnya berasal dari fermentasi tepung, molasses, atau gula tebu yang dihasilkan melalui proses serupa dengan pembuatan yogurt dan minuman anggur (wine).

efek negatif vetsin-alodokter

Vetsin digunakan untuk menyedapkan makanan tanpa perlu menambahkan banyak bahan-bahan tambahan lain. Inilah mengapa bahan penyedap ini sering dianggap sebagai cara efektif dan efisien dalam memperkaya rasa suatu masakan. Selain pada masakan, vetsin juga kerap ditambahkan pada berbagai makanan olahan, seperti keripik kentang dan daging olahan. Kandungan vetsin pada makanan kemasan ini umumnya harus dicantumkan terkait kadar dan jenisnya pada label atau daftar bahan kandungan.

Sindrom Restoran Tiongkok akibat Vetsin

Pada kondisi normal, tubuh manusia sebenarnya dapat mengolah vetsin dalam kadar tinggi sekalipun karena vetsin sendiri secara alami juga diproduksi usus sebagai hasil hidrolisis protein. Meski begitu, konsumsi vetsin tetap tidak boleh berlebihan.

Membahas tentang kelebihan dosis vetsin, pada tahun 1960-an, terkuak sebuah kasus yang disebut sindrom restoran Tiongkok. Sekelompok orang merasakan gejala-gejala tertentu setelah mengonsumsi makanan dari restoran yang menyajikan masakan khas Tiongkok. Gejala ini diindikasikan sebagai akibat dari penambahan vetsin atau monosodium glutamate (MSG) secara berlebihan pada makanan.

Kurang lebih dua jam setelah mengonsumsi makanan yang mengandung vetsin, beberapa orang yang sensitif terhadap bahan ini dapat mengalami gejala-gejala, seperti berkeringat, sakit kepala, mual, kelelahan, kulit kemerahan, mulut dan/atau tenggorokan terasa perih, atau bahkan kebas pada tenggorokan. Pada kasus tertentu yang sangat jarang terjadi, sebagian orang lainnya bahkan merasakan gejala yang lebih serius, seperti sesak napas, bengkak pada wajah, bengkak pada tenggorokan, detak jantung tidak beraturan, atau nyeri dada. Pada tingkatan yang parah, gejala-gejala semacam ini membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Kurang Cukup Bukti

Sebuah penelitian menemukan adanya hubungan antara vetsin dengan reaksi alergi terhadap MSG pada sebagian orang, tetapi hanya ditemukan beberapa gejala ringan, seperti sakit kepala, nyeri dada, serta kulit yang terasa kesemutan. Sementara penelitian lain menemukan adanya hubungan antara konsumsi vetsin pada anak dengan penyakit dermatitis. Meski demikian, korelasi ini juga masih perlu diteliti lebih lanjut.

Kesimpulannya, hanya sebagian kecil orang yang diduga mengalami reaksi negatif ringan dan bersifat jangka pendek akibat konsumsi vetsin. Gejala-gejala ringan ini umumnya akan mereda dengan sendirinya atau bisa diatasi dengan cara-cara sederhana, seperti mengonsumsi beberapa gelas air putih atau meminum obat pereda nyeri untuk meringankan sakit kepala.

Jika Anda khawatir dengan efek vetsin, tidak ada salahnya memeriksa label pada kemasan makanan olahan sebelum membelinya. Kenali berbagai nama lain vetsin berikut untuk meminimalkan konsumsinya: sodium 2-aminopentanedioate, MSG monohydrate, UNII-W81N5U6R6U, sodium glutamate monohydrate, glutamic acid, monosodium salt, monohydrate, L-Glutamic acid, monosodium salt, monohydrate, L-Monosodium glutamate monohydrate, dan monosodium L-glutamate monohydrate.