Hati-hati Penyakit Komplikasi dari Obesitas

Obesitas ternyata bukan sekadar soal kelebihan berat badan. Lemak dalam kadar tinggi memberi beban berlebih pada tulang dan organ dalam tubuh serta berisiko menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah yang dapat menimbulkan penyakit. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko datangnya berbagai penyakit komplikasi kronis. 

Obesitas merupakan kondisi dimana terdapat jaringan lemak berlebih pada tubuh, dengan kata lain kegemukan. Hal ini disebabkan oleh tingginya asupan kalori terutama dari sumber makanan berlemak dan gula tinggi yang tidak diolah menjadi energi melalui aktivitas seperti olahraga. Ketika asupan makanan tinggi kalori berlebih, maka tubuh akan menyimpan kalori berlebih tersebut dalam bentuk jaringan lemak. Meski demikian, kondisi obesitas ini bersifat kompleks, artinya berbagai faktor dapat menjadi pencetus obesitas mulai dari faktor keturunan, pola makan kurang sehat, stres psikologis, konsumsi obat-obatan atau menderita penyakit tertentu, dan gaya hidup yang jarang berolahraga.

Komplikasi penyakit-alodokter (1)

Cara menentukannya cukup sederhana yaitu dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dalam satuan kilogram dibagi tinggi badan dalam satuan meter pangkat dua (BB/TB2). Untuk penduduk Indonesia rentang berat badan normal adalah 17,0-23,0 untuk perempuan dan 18,0-25,0 untuk laki-laki. Kegemukan ringan jika didapatkan angka IMT berkisar 23,0-27,0 untuk perempuan dan 25,0-27,0 untuk laki-laki. Dikatakan Obesitas apabila didapatkan IMT melebihi 27,0 bagi perempuan dan laki-laki. Jika dibiarkan, lama kelamaan penyakit ini akan menimbulkan berbagai komplikasi.

Dalam dunia medis, komplikasi adalah kondisi yang tidak diharapkan yang muncul setelah adanya situasi tertentu, seperti penyakit, perawatan, maupun prosedur medis. Kondisi ini memperumit situasi yang sudah ada. Maka penyakit komplikasi adalah penyakit yang dapat muncul akibat dari penyakit tertentu dan memperberat kondisi sebelumnya.

Beragam Penyakit yang Dapat Timbul

Secara umum, obesitas dan penyakit komplikasi obesitas ini memengaruhi kualitas hidup seseorang secara keseluruhan, bahkan dapat memperpendek usia harapan hidup. Tidak sedikit orang yang mengalami obesitas merasakan isolasi sosial, depresi, rasa malu, rasa bersalah, hingga rendahnya pencapaian kerja.

Salah satu penyakit yang banyak dikaitkan dengan obesitas yaitu diabetes tipe 2. Hubungan antara obesitas dengan diabetes terletak pada resistensi insulin, saat tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, kadar gula darah meningkat.

Selain itu, orang yang mengalami obesitas lebih berisiko mengalami berbagai penyakit komplikasi sebagai berikut :

  • Hipertensi.
  • Penyakit jantung.
  • Stroke.
  • Penyakit kandung empedu.
  • Osteoartritis.
  • Sakit punggung bawah yang kronis.
  • Periodontitis atau penyakit gusi.
  • Gangguan kulit seperti infeksi atau peradangan pada lipatan kulit.
  • Trigliserida tinggi dan tingkat high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik yang
  • Penyakit lemak hati nonalkoholik: penumpukan lemak pada hati.
  • Sindrom metabolik yaitu perpaduan hipertensi, kadar gula tinggi, trigliserida tinggi, dan kolesterol HDL rendah.

Bagi wanita yang mengalami obesitas, kemungkinan dapat mengalami menstruasi tidak teratur dan infertilitas. Sedangkan pria yang obesitas memiliki risiko mengalami gangguan kesehatan seksual dan disfungsi ereksi.

Bagi wanita hamil yang mengalami obesitas juga lebih berisiko mengalami preeklamsia, infeksi saluran kencing, kehamilan tua, infeksi pascapersalinan, komplikasi operasi Caesar, hingga gangguan saat persalinan.

Di samping itu, risiko operasi dan pascaoperasi pada orang dengan obesitas akan meningkat, seperti risiko pembekuan darah, infeksi pada luka operasi, dan emboli paru. Kondisi-kondisi ini merupakan komplikasi serius yang berisiko tinggi menyebabkan kematian terutama pada penderita obesitas.

Memicu Gangguan Pernapasan

Gangguan pernapasan pada penderita obesitas, seperti apnea tidur. Kondisi ini dapat membuat pernapasan beberapa kali terhenti saat tidur. Hal ini terjadi karena jaringan di bagian pangkal tenggorokan tidak bisa membuka saluran udara akibat obesitas. Kondisi ini dapat memicu beberapa penyakit seperti hipertensi, gagal jantung, penyakit jantung, aritmia, gangguan memori atau kognitif, depresi, kecemasan, GERD, dan komplikasi yang paling fatal yakni kematian.

Selain itu, gangguan pernapasan lain akibat obesitas termasuk sindrom hiperventilasi obesitas atau Obesity Hypoventilation Syndrome (OHS), yaitu ketidakmampuan tubuh untuk menarik napas dalam sehingga menyebabkan tingginya karbondioksida dan rendahnya kadar oksigen dalam darah. Situasi ini diakibatkan kelebihan berat badan yang menghimpit rongga dada serta gangguan pada kontrol otak terhadap pernapasan. Gejalanya dapat berupa kualitas tidur yang buruk, sering mengantuk di siang hari, depresi, nyeri kepala, dan mudah lelah.

Erat Dikaitkan dengan Kanker

Obesitas diasosiasikan dengan berbagai kanker seperti kanker endometrium, kanker usus besar dan anus, kanker payudara, kanker ginjal, kanker pankreas, kanker kerongkongan, kanker kandung empedu, dan kanker tiroid.

Kondisi ini diduga dilatarbelakangi berbagai kemungkinan di bawah ini:

  • Orang dengan obesitas umumnya memiliki kadar insulin tinggi yang dapat memicu beberapa jenis kanker.
  • Sel-sel lemak memproduksi estrogen dalam kadar tinggi yang mengakibatkan kanker jenis tertentu. Sel-sel ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tumor dan produksi hormon adipokin yang merangsang pertumbuhan sel.
  • Risiko kanker dapat meningkat karena orang dengan obesitas mengalami peradangan ringan yang bersifat kronis.

Apabila sudah menimbulkan komplikasi maka kondisi tersebut perlu segera diobati beserta obesitasnya. Mengurangi berat badan secara perlahan namun stabil merupakan cara yang direkomendasikan. Caranya bisa dengan mengubah pola makan dengan memperbanyak asupan biji-bijian, sayuran, buah, ikan, dan daging tanpa lemak. Batasi konsumsi lemak terutama lemak jenuh dan alkohol. Olahraga teratur dengan intensitas sedang seperti berenang, berjalan santai, atau bersepeda selama 20-30 menit perhari dan lakukan dengan rutin. Setelah berolahraga, tubuh akan terasa lapar, pada saat lapar pilihlah makanan dengan gizi seimbang yang rendah lemak. Dan makanlah dalam porsi secukupnya. Kombinasi diet sehat dan olahraga teratur adalah pilihan utama untuk menurunkan berat badan.

Penggunaan obat-obatan untuk mengurangi berat badan adalah langkah lain apabila dengan metode sebelumnya berat badan ideal sulit dicapai, atau jika penderita obesitas juga didapati kondisi seperti diabetes, sindrom metabolik, hipertensi, atau stroke. Penggunaan obat-obatan untuk mengurangi berat badan dalam tujuan kecantikan tidak disarankan.

Daftar penyakit komplikasi dari obesitas di atas membuktikan bahwa kondisi ini sebaiknya tidak dibiarkan. Obesitas dan penyakit yang muncul sebagai komplikasi dari kondisi ini perlu diobati, misalnya menjaga tekanan darah atau kadar gula darah agar tidak terlalu tinggi dengan pola makan sehat, olahraga teratur, dan obat-obatan jika diperlukan.

Konsultasikan kondisi Anda ke dokter untuk mendapat penanganan penurunan berat badan dengan konseling diet dan olahraga yang baik, obat-obatan penurun berat badan jika diperlukan, hingga operasi apabila terdapat indikasi. Salah satu indikasi operasi adalah IMT yang ekstrim (>40,0) atau jika cara lain sudah dicoba namun tidak dapat menurunkan berat badan. Teknik operasi untuk mengatasi obesitas yang biasa diakukan adalah operasi bariatrik, dengan tujuan operasinya adalah untuk mengecilkan ukuran lambung dan memperlambat proses pencernaan. Namun tindakan operasi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti trombosis, anemia, dan gangguan penyerapan gizi. Hal yang tak kalah penting adalah mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dengan memperbarui pola makan sehat, istirahat, dan olahraga teratur.