Ingin Donor Sperma? Perhatikan Hal Berikut

Salah satu prosedur yang bisa ditempuh dalam rangka membantu pasangan lain adalah dengan melakukan donor sperma. Donor sperma bisa diartikan sebagai tindakan seorang pria yang menyumbangkan cairan semen demi membantu sebuah pasangan dalam mendapatkan momongan.

Melakukan donor sperma untuk menolong pasangan lain mendapatkan keturunan bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan banyak sekali pertimbangan. Salah satu pertimbangan pentingnya adalah legalitas melakukan hal tersebut. Pasangan yang membutuhkan donor sperma dari orang lain harus ke luar negeri karena undang-undang di Indonesia tidak membolehkan pasangan menerima donor dari lelaki yang bukan pasangannya.

ingin donor sperma perhatikan hal berikut - alodokter

Melihat aturan tersebut, sulit bagi pria jika ingin mendonorkan spermanya di Indonesia. Namun, niat tersebut bukannya tidak bisa dilakukan sama sekali. Pria bisa melakukannya di luar negeri atau di negara yang membolehkan hal ini terjadi.

Beberapa Persyaratan yang Diperlukan Bagi Pendonor

Bagi pria, mendonorkan sperma untuk berbagi kebahagiaan kepada pasangan lain bisa dilakukan kapan saja selama spermanya sehat. Meski usia menjadi salah satu syarat, namun ada klaim yang menyatakan bahwa keberhasilan sperma membuahi rahim penerima donor tidak terkait usia. Karena klaim tersebut masih perlu pembuktian lebih lanjut, maka sebaiknya pria yang hendak mendonorkan spermanya mengikuti persyaratan umum yang saat ini berlaku.

Ada banyak pesyaratan yang harus dipenuhi seorang pria saat, akan mendonorkan spermanya. Salah satunya adalah adanya pemeriksaan secara menyeluruh terhadap sperma. Hal ini dilakukan demi menghindari penyakit keturunan, kelainan genetik, dan penyakit menular seksual yang mungkin ada.

Selain pemeriksaan sperma, kriteria-kriteria berikut biasanya perlu dipenuhi oleh pendonor:

  • Usia

Sperma yang didonorkan biasanya berasal dari pria yang berusia di antara 18-39 tahun. Sebagian klinik atau bank sperma menentukan 34 tahun sebagai usia maksimal pendonor.

  • Kesehatan fisik

Evaluasi terhadap kesehatan pendonor sperma akan dilakukan secara menyeluruh. Tes darah dan tes urine akan dilakukan demi memastikan pendonor bebas dari penyakit. Bahkan bagi pria yang rutin mendonorkan sperma mereka, pemeriksaan ketat tersebut tetap dilakukan minimal tiap 6 bulan.

  • Tes genetika

Tes ini dilakukan lewat sampel darah yang diberikan pendonor. Sampel darah kemudian akan dianalisis apakah pendonor memiliki cikal bakal penyakit bawaan atau tidak.

  • Riwayat penyakit keluarga

Untuk memastikan tidak ada penyakit atau kelainan genetik, pendonor juga wajib melampirkan riwayat penyakit keluarga. Saking ketatnya, pendonor harus melampirkan riwayat keluarganya selama minimal dua generasi.

  • Riwayat pribadi dan perilaku seksual

Perilaku pribadi juga akan ditelisik terkait perilaku yang berisiko dapat mengundang penyakit, misalnya HIV. Beberapa perilaku yang dinilai, di antaranya adalah penyalahgunaan narkoba dan perilaku seks. Gambaran pribadi lainnya yang juga diinformasikan menyangkut kebiasaan, hobi, pendidikan, dan minat.

Setelah melalui serangkaian tes, sperma yang lolos uji kelayakan kemudian akan dibekukan dan dikarantina dalam beberapa waktu, biasanya minimal enam bulan. Sperma akan melalui pemeriksaan untuk penyakit menular seksual kembali sebelum dikeluarkan dari karantina dan dipakai untuk terapi.

Hal yang Perlu Diperhatikan Pemberi Donor Sperma

Jika seorang pria benar-benar sudah siap melakukan donor sperma, ia bisa mendatangi klinik yang melayani hal tersebut. Pria tersebut bisa melakukannya secara anonim maupun terbuka alias bersedia menyebutkan identitasnya kepada penerima donor. Namun, pemberi donor sperma juga bisa langsung melakukannya pada pasangan yang membutuhkan. Hal terakhir terjadi biasanya ketika pendonor dan penerima donor sudah saling kenal.

Yang penting diperhatikan bagi siapa pun yang hendak mendonorkan sperma mereka adalah adanya perjanjian legal yang menghapuskan hak mereka pada anak biologis mereka nantinya. Namun bagi yang mendonorkan spermanya dengan orang yang sudah saling kenal, hak-hak kedua pihak bisa dituangkan dalam perjanjian yang dilakukan kedua pihak.

Selain harus siap secara hukum, pria yang mendonorkan spermanya juga harus memerhatikan beberapa masalah psikologis yang mungkin muncul. Kesiapan untuk menjadi bapak dari seorang anak atau malah mungkin beberapa anak yang mungkin tidak akan pernah bertemu perlu dipertimbangkan. Hal ini terjadi terutama jika donor sperma dilakukan secara anonim atau pendonor tak tahu siapa penerima donornya.

Selain itu, kesiapan untuk bertemu dengan mereka suatu saat nanti juga perlu diperhatikan. Pria pemberi donor sperma harus benar-benar yakin bahwa ia akan kuat bila beberapa orang menemuinya dan memanggilnya ayah.

Yang tak kalah penting adalah libatkanlah keluarga dalam mengambil keputusan untuk mejadi pendonor sperma. Ini penting terutama untuk menguatkan secara psikologis sekaligus memberi dukungan jika ada hal-hal yang tak diperkirakan terjadi di masa datang.

Terlepas dari polemik yang berada di belakang fenomena donor sperma, langkah ini mungkin saja menjadi solusi terakhir bagi pasangan yang terus mengalami kegagalan dalam mendapatkan anak secara normal.