Ini Buktinya Multitasking Tidak Efisien dan Mengganggu Kesehatan

Tidak hanya kamu yang bekerja di kantor, melakukan berbagai pekerjaan secara bersamaan atau multitasking, bisa diterapkan oleh siapa saja. Namun, bukan keuntungan yang bisa diperoleh, multitasking terbukti tidak efisien dan dapat membawa risiko untuk kesehatan.

Bukan tanpa alasan, hal ini didukung oleh beberapa penelitian yang menyatakan bahwa kesibukan multitasking justru hanya akan membuatmu bekerja tidak efektif.

Ini Buktinya Multitasking Tidak Efisien dan Mengganggu Kesehatan (2)

Multitasking akan Menurunkan Produktivitas Kerja

Saat kamu merasa sedang bekerja efektif dengan multitasking, kejadian yang sebenarnya dilakukan otak adalah mengganti fokus bolak-balik. Padahal korteks serebral pada otak hanya dapat fokus pada satu hal untuk satu waktu. Hasilnya, fokus bolak-balik dalam waktu yang cepat akhirnya memengaruhi kualitas dari pekerjaan yang dilakukan. Waktu yang diperlukan otak untuk berpindah fokus pun menjadikan proses bekerja tidak optimal.

Para ahli memperkirakan, melakukan pekerjaan secara multitasking akan menyebabkan penurunan produktivitas hingga 40 persen karena adanya kesalahan-kesalahan akibat berkurangnya tingkat konsentrasi.

Berlawanan dengan anggapan selama ini, multitasking sama sekali tidak bermanfaat dalam menghemat waktu. Mengerjakan dua pekerjaan secara bersamaan, justru akan memakan waktu lebih lama dibandingkan mengerjakan satu demi satu. Pada sisi keamanan, melakukan pekerjaan secara multitasking juga dapat mengundang bahaya. Misalnya, seseorang yang menyetir sambil berbicara melalui ponsel diibaratkan dengan seseorang yang menyetir dalam keadaan mabuk.

Pada Akhirnya Berakibat Buruk bagi Diri Sendiri

Jangan anggap multitasking akan mempermudah hidup, sebaliknya, efek melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan justru merugikan kesehatan.

  • Memicu stres

Penelitian menunjukkan, sekelompok pekerja yang diminta siap sedia menerima kiriman surel menjadi jauh lebih stres dibandingkan pekerja yang memeriksa surel pada waktu-waktu tertentu saja. Sama halnya bagi kamu yang seorang pelajar, multitasking menyimpan risiko komplikasi. Kebiasaan belajar sambil menonton televisi akan membuatmu mengalami stres terutama ketika tidak dapat maksimal menyelesaikan ujian tersebut. Selain itu, kamu bisa merasa tidak percaya diri atau bahkan depresi karena tidak bisa menyelesaikan ujian.

  • Mengganggu detak jantung dan tekanan darah

Stres yang disebabkan oleh menjalani pekerjaan secara multitasking berisiko menyebabkan stres. Stres jangka panjang dapat mengganggu detak jantung, meningkatkan tekanan darah, dan menurunkan daya tahan tubuh sehingga menjadikanmu lebih rentan terkena diabetes tipe 2.

  • Gangguan ingatan jangka pendek

Menjalani dua hal secara bersamaan, tidak hanya berisiko kehilangan detail penting di dalam tugas tersebut, tapi turut mengganggu ingatan jangka pendek. Hal ini berdasarkan hasil dari sebuah penelitian terhadap orang-orang yang berusia lebih tua.

  • Menurunkan kreativitas

Melakukan pekerjaan dengan multitasking menjadikan otak bekerja lebih berat. Sebuah studi menunjukkan, kondisi ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kreatif karena kapasitas otak yang sudah penuh. Bagi seorang pekerja yang membutuhkan kreativitas dan imajinasi, tentu saja hal ini dapat berdampak buruk kepada kemampuannya untuk bisa bekerja secara optimal.

  • Berbahaya

Beberapa pekerjaan yang dilakukan secara multitasking, seperti menyetir sambil berbicara atau mengetik SMS, dinilai sangat berbahaya. Hal yang sama turut berlaku bagi seorang pejalan kaki. Sebuah studi menunjukkan bahwa 20 persen remaja mengalami kecelakaan lalu lintas karena berjalan sambil mengoperasikan ponsel.

Kini, setelah kamu sudah memahami makna dari keburukan multitasking itu sendiri, ada baiknya bagimu untuk mulai membuat skala prioritas agar pekerjaan selesai tepat waktu dan kamu terbebas dari stres.