Ini yang Bisa terjadi pada Ari-ari Bayi Saat Melahirkan

Beragam masalah yang perlu diwaspadai pada saat melahirkan, satu di antaranya yaitu kesulitan keluarnya ari-ari bayi. Jika tidak ditangani dengan tepat, kejadian ini bisa mengancam nyawa ibu.

Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ari-ari bayi antara lain usia ibu hamil, penyakit tekanan darah tinggi, gangguan pembekuan darah, kehamilan kembar, riwayat operasi saluran kandung kemih, trauma pada perut, dan lain-lain.

Ini yang bisa terjadi pada ari-ari bayi saat melahirkan - alodokter

Risiko Perdarahan dan Infeksi

Ari-ari bayi atau plasenta memiliki fungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi pada janin, juga membuang zat sisa dari darah bayi. Plasenta juga menyesuaikan suhu yang tepat pada janin, menghalangi infeksi internal, dan memproduksi hormon pendukung kehamilan.

Pada kondisi ideal, ari-ari bayi akan menempel pada dinding dalam rahim, yaitu di bagian atas atau samping rahim. Dari plasenta kemudian akan muncul tali pusar atau umbilical cord yang menghubungkan ibu dan bayi.

Umumnya, setelah persalinan normal, rahim ibu akan kembali mengalami kontraksi dan mengeluarkan plasenta serta jaringan lain melalui vagina. Dikenal juga sebagai proses persalinan tahap ketiga. Sayangnya, sebagian ibu mengalami kesulitan dalam proses tersebut.

Kesulitan mengeluarkan ari-ari bayi setelah melahirkan dalam batas waktu tertentu, disebut juga retained placenta. Ari-ari bayi seharusnya keluar dari rahim tidak lebih dari 30 menit setelah bayi lahir.

Ari-ari bayi yang sulit keluar dari rahim bisa sebagian atau keseluruhan. Waspadai jika ari-ari bayi belum keluar seluruhnya. Apabila hal ini terjadi, gejala yang akan dirasakan ibu setelah sampai di rumah  berupa perdarahan hebat, kram perut, cairan berbau dari vagina, demam, dan jumlah ASI yang sedikit. Kondisi ini juga berisiko menimbulkan infeksi pada ibu yang dapat mengancam jiwa.

Tindakan yang Diperlukan

Menyusui segera setelah persalinan, merupakan salah satu cara yang dianggap dapat merangsang kontraksi rahim sehingga mendorong ari-ari bayi keluar. Selain itu, cara-cara lain yang mungkin dilakukan seperti meminta ibu untuk mengubah posisi duduk atau jongkok (squat).

Jika ari-ari tidak juga keluar, maka kemungkinan tim dokter akan memberikan suntikan syntometrine atau ergometrine di sekitar pangkal paha. Suntikan ini diharapkan akan membuat rahim berkontraksi kuat untuk mengeluarkan plasenta, sekaligus mencegah perdarahan.

Apabila ari-ari bayi masih belum keluar, maka dokter akan mencoba mengeluarkannya dengan tangan. Untuk mengurangi rasa sakit, maka ibu akan diberikan anastesi spinal atau epidural yang efeknya meliputi area tubuh bagian bawah.

Selain itu, ada juga kemungkinan dokter melakukan anastesi umum dengan tindakan yang dilakukan di ruang operasi.  Dokter dan asisten kemudian akan mencoba mengambil plasenta dari rahim.

Pada tindakan ini, ibu akan memerlukan antibiotik intravena untuk mencegah infeksi, dan obat lain untuk membuat rahim kembali berkontraksi kuat setelah tindakan ini selesai. Efek lain yaitu ibu tidak dapat segera menyusui bayi, karena ada kemungkinan tersisanya obat anastesi pada air susu ibu.

Jika perlu, konsultasikan tahap-tahap persalinan dengan dokter sejak masa kehamilan agar Anda dan pasangan lebih memahami tentang ari-ari bayi dan masalah yang bisa menyertainya. Dan segera kunjungi dengan dokter jika Anda mengalami gejala-gejala di atas.