Jangan Gegabah, Perhatikan Cara Menolong Korban Kesetrum yang Benar

Kesetrum adalah kecelakaan yang dapat terjadi pada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Kesetrum terjadi ketika tubuh teraliri listrik akibat kontak bagian tubuh manusia, misalnya rambut atau kulit, dengan sumber aliran listrik.

Arus listrik yang sangat rendah mungkin tidak akan terasa oleh tubuh manusia. Akan tetapi, arus listrik yang lebih besar dapat menyebabkan korban yang kesetrum tidak mampu untuk melepaskan diri dari media perantara aliran listrik. Oleh karena itu, dibutuhkan pertolongan orang lain untuk melepaskan korban dari sengatan.

kesetrum - alodokter

Cara Menolong Korban Sengatan Listrik

Sebelum menolong korban kesetrum listrik, kita harus pahami dulu mengenai tekniknya. Hal ini untuk menghindari penolong yang justru akhirnya menjadi korban juga. Satu hal yang pasti, jika memungkinkan dan Anda paham caranya, matikan aliran listrik. Temukan panel listrik atau kotak sekering untuk memadamkan listrik.

Untuk menjamin keselamatan pribadi ketika menolong korban kesetrum, ikutilah langkah-langkah berikut.

Amankan area di sekitar tempat kejadian

Sebelum benar-benar menolong korban kesetrum, perhatikan lingkungan sekitar Anda. Pastikan Anda tidak berisiko turut tersengat listrik. Periksa sumber sengatan listrik. Jika korban masih bersentuhan dengan sumber sengatan listrik, hindari menyentuh dirinya. Jika Anda menyentuhnya, aliran listrik juga dapat mengaliri tubuh Anda. Waspadai kubangan air atau peralatan yang tergeletak di lantai yang basah. Air adalah penghantar listrik yang baik sehingga dapat membuat Anda kesetrum juga. Apabila terdapat api, padamkan dahulu menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berkode C, BC atau ABC.

Hubungi IGD

Segera hubungi Instalasi Gawat Darurat atau ambulans agar korban dapat cepat tertangani.

Jangan menyentuh korban

Hindari menolong korban dengan cara menyentuhnya meskipun menggunakan alat bantu jika Anda belum yakin aliran listrik sudah diputus. Jika Anda ingin menyentuh korban pun pastikan tidak menggunakan alat bantu yang bersifat konduktor (penghantar listrik) yang baik, misalnya besi, tembaga, atau alumunium. Contoh bahan konduktor yang buruk untuk listrik yang dapat digunakan adalah kaca, plastik dan porselen.

Pindahkan korban dan tutupi badannya dengan selimut thermal

Setelah berhasil mengamankan korban dari sengatan listrik, pindahkan ke tempat yang aman. Buatlah tubuh korban dalam posisi yang benar agar jalan napasnya tidak terhalang. Posisi tersebut yaitu:

  • Baringkan korban dengan posisi miring ke kanan.
  • Posisikan lutut kiri ke arah kanan sehingga kaki kiri terlipat di atas kaki kanan.
  • Letakkan lengan kanan di bawah kepala. Dengan kata lain, posisikan lengan kanan sebagai bantal dengan posisi lengan menyentuh pipi korban.
  • Posisikan tangan kiri seakan-akan memeluk lengan kanan.
  • Angkat dagu korban untuk memberikan jalan napas dan periksa jalan napasnya.
  • Setelah berada pada posisi ini, jangan ubah lagi posisi korban untuk menghindari terjadinya cedera tambahan.

Jika diperlukan, tutupi badan korban dengan selimut, terutama selimut thermal. Tujuannya adalah mencegah penurunan suhu tubuh korban. Namun, jika pada tubuhnya terdapat luka bakar yang besar, hindari menutupinya.

Periksa tubuh korban

Periksa tubuh korban dengan teliti dan berurutan mulai dari kepala, leher, hingga kaki. Apabila terdapat luka, hindari menyentuhnya. Apabila petugas medis sudah tiba, jelaskan kondisi korban, termasuk jika ada luka di tubuhnya.

Hentikan perdarahan

Jika korban mengalami perdarahan, cobalah bantu menghentikan aliran darah pada area luka. Caranya, tekan bagian yang berdarah dengan menggunakan kain bersih. Jika kain yang digunakan sebelumnya basah dengan darah, jangan diangkat, tetapi tambahkan kain bersih lainnya dan tekan di area yang sama.

Lakukan CPR

Lakukan pernapasan buatan (CPR/RJP) kepada korban, jika diperlukan. Napas bantuan atau resusitasi diberikan jika korban tidak bernapas atau denyut nadi korban tidak teraba. Pastikan Anda memahami cara melakukan pernapasan buatan untuk menghindari salah penanganan.

Korban kesetrum dievaluasi sebagai pasien trauma. Oleh karena itu, korban harus tetap diawasi dan dijaga terkait kondisi sistem pernapasan, tulang belakang, jantung, dan pembuluh darahnya. Selain itu, evaluasi perlu dilakukan untuk berjaga-jaga jika terdapat cedera tersembunyi. Jadi, pastikan korban ditangani oleh tenaga medis yang ahli.