Jenis Kelainan Tulang Belakang yang Perlu Anda Ketahui

Kelainan tulang belakang adalah kondisi di mana tulang belakang mengalami kelainan dan/atau gangguan dari hal pembentukan, keselarasan, dan bentuk tulang belakang itu sendiri. Berikut beberapa jenis kelainan tulang belakang yang perlu Anda ketahui.

Tulang belakang disusun atas tulang-tulang kecil yang berfungsi mendukung seluruh tubuh bagian atas. Tulang belakang yang sehat bila dilihat dari samping akan terlihat lengkungan yang lembut. Lengkungan tersebut membantu tulang menyerap tekanan dari gerakan tubuh dan gravitasi. Bila dilihat dari belakang, tulang belakang yang normal akan terlihat lurus hingga punggung. Kelainan tulang belakang sendiri terjadi ketika lengkungan tulang belakang nampak tidak sejajar atau berlebihan di daerah tertentu seperti yang terjadi pada kondisi lordosis, kiposis, dan skoliosis. Penyebab utama kelainan tulang belakang sangat beragam, bisa karena faktor genetik atau keturunan, bisa pula karena gangguan atau kondisi tertentu. Umumnya, gejala kelainan tulang belakang sulit terdeteksi pada anak usia dini.

Berikut ini adalah berbagai jenis kelainan tulang belakang yang perlu Anda ketahui:

Lordosis

Lordosis merupakan kelainan tulang belakang yang merujuk pada kondisi di mana tulang punggung bagian bawah seseorang melengkung atau bengkok ke depan. Spondilolistesis atau pergeseran ruas tulang belakang menjadi penyebab lordosis yang paling umum. Kondisi tersebut dapat terjadi karena bawaan lahir atau terjadi setelah melakukan aktivitas olahraga tertentu seperti senam. Pada kasus tertentu, lordosis juga bisa timbul bersamaan dengan terjadinya arthritis atau radang sendi pada tulang belakang.

Penyebab lordosis yang tidak umum, antara lain achondroplasia, yakni gangguan pada pertumbuhan tulang yang selama ini juga dikenal sebagai penyebab umum dwarfisme atau kekerdilan, dan distrofi otot. Di sisi lain, lordosis kerap dikait-kaitkan dengan sikap tubuh yang buruk, terutama saat duduk dan berdiri. Sikap tubuh yang dimaksud adalah sikap duduk atau yang terlalu sering membusungkan dada ke depan. Kondisi ini akan membuat pantat terlihat lebih menonjol, dan saat berbaring akan terlihat di bawah punggung ada ruang kosong, meski seharusnya punggung bisa menempel sempurna di permukaan yang datar seperti lantai.

Kebanyakan kasus lordosis bersifat ringan, artinya akan hilang dengan sendirinya saat seorang anak tumbuh dewasa. Namun bila kasusnya lebih parah, dokter akan memberikan penanganan sesuai usia, riwayat kesehatan anak, dan juga penyebab lordosisnya. Biasanya, tujuan penanganan adalah untuk menghentikan perkembangan lengkungan dan mencegah deformitas.

Kifosis

Kifosis merupakan kelainan tulang belakang berupa tulang punggung bagian atas yang melengkung ke belakang. Biasanya, dengan tingkat kelengkungan lebih dari 50 derajat. Itulah mengapa penderita kifosis biasanya terlihat seperti memiliki punuk di punggungnya. Kifosis dapat terjadi pada semua usia, namun kerap terjadi pada wanita lanjut usia.  Penderita kifosis ringan tidak akan merasakan gejala apa pun, namun pada kasus yang parah dapat memicu nyeri, punggung terasa kaku, bahkan penurunan nafsu makan karena perut tertekan.

Kifosis juga dapat disebabkan karena berbagai hal, di antaranya osteoporosis; arthritis; tuberkulosis dan infeksi tulang belakang lain yang dapat memicu kerusakan sendi; kanker atau tumor jinak yang menimpa tulang belakang dan memaksa tulang keluar dari posisi semula; spina bifida, kondisi yang dapat menyebabkan paralisis atau kelumpuhan seperti cerebral palsy dan polio; penyakit Scheuermann yang terjadi sebelum masa pubertas, terutama pada anak laki-laki. Seiring pertambahan usia, pembungkukan pada pasien penyakit ini biasanya akan makin buruk. Penyebab lainnya yaitu cacat lahir, kondisi ketika tulang belakang bayi tidak terbentuk sempurna sejak dalam kandungan. Sindrom-sindrom tertentu, seperti sindrom Marfan atau Prader-Willi juga bisa menyebabkan kondisi ini.

Penanganannya pun didasarkan pada usia, penyebab kifosis, serta dampaknya pada postur tubuh. Dokter biasanya akan menyarankan untuk mengonsumsi obat penghilang rasa sakit seperti paracetamol, ibuprofen, atau naproxen. Pada orang tua yang menderita osteoporosis, kifosis dapat diatasi dengan mengonsumsi obat osteoporosis. Selain obat-obatan, kifosis juga dapat diatasi dengan olahraga, menerapkan gaya hidup sehat, mengonsumsi vitamin D dan berbagai makanan yang mengandung kalsium tinggi. Namun pada kasus yang buruk, di mana lekukannya sampai memengaruhi saraf di tulang belakang, operasi bisa jadi solusi untuk setidaknya mengurangi tingkat kelengkungan pada tulang belakang penderita. Prosedur yang paling sering dipakai disebut dengan 'spinal fusion'.

Skoliosis

Skoliosis merupakan jenis kelainan tulang belakang di mana kondisi tulang belakang melengkung ke samping secara tidak normal. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak sebelum masa pubertas dengan kisaran usia 10 hingga 15 tahun. Gejala skoliosis meliputi salah satu pinggul tampak lebih menonjol, tubuh penderita skoliosis mungkin condong ke satu sisi, salah satu bahu lebih tinggi, salah satu tulang belikat tampak lebih menonjol, dan panjang kaki tidak seimbang.

Penyebab skoliosis sering kali tidak dapat ditentukan, namun umumnya, dokter dapat mengidentifikasi pada orang penderita cerebral palsy, gangguan sistem saraf, distrofi otot, kelainan genetik yang menyebabkan kelemahan otot, cacat lahir yang memengaruhi tulang belakang bayi, spina bifida, cedera tulang belakang, atau infeksi. Orang dengan riwayat skoliosis pada keluarganya akan lebih mungkin untuk menderita skoliosis. Anak perempuan bahkan lebih cenderung memiliki skoliosis yang lebih parah dibandingkan anak laki-laki.

Skoliosis juga dapat menyebabkan nyeri punggung dan cenderung dialami oleh orang dewasa. Untuk mendiagnosis skoliosis, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan melalui X-ray. Penanganan skoliosis tergantung kepada tingkat keparahan, usia, lokasi dan pola lengkungan, serta jenis kelamin penderita. Penanganan skoliosis umumnya berupa observasi atau pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali, menggunakan penyangga untuk menghentikan lengkungan tulang belakang bertambah parah.

Peradangan Tulang Belakang

Sejumlah masalah lain seperti infeksi, cedera, tumor, dan lain-lain juga dapat mengubah struktur dan mencederai tulang belakang dan jaringan sekitarnya. Penyakit atau kelainan pada tulang belakang umumnya menyebabkan rasa sakit dan kesulitan bergerak seiring perubahan yang terjadi, hal ini disebabkan oleh tekanan pada saraf tulang belakang.  Kondisi seperti di bawah ini juga diketahui sebagai sumber penyebab peradangan tulang belakang.

  • Angkylosing spondylitis atau rematik sistemik merupakan kondisi arthritis pada tulang belakang. Akibat kondisi ini, sendi pada punggung bagian bawah dapat menyatu dan mengakibatkan postur membungkuk. Gejalanya adalah nyeri dan kaku pada punggung bawah, dada, dan leher, serta sendi lainnya termasuk pinggul, bahu, lutut, dan pergelangan kaki.
  • Arachnoiditis, kondisi yang disebabkan oleh infeksi yang terjadi pada salah satu membran yang mengelilingi dan melindungi saraf tulang belakang. Tidak ada gejala yang jelas dari kondisi ini, namun pada kebanyakan orang gejala yang muncul memengaruhi punggung bawah dan kaki.
  • Discitis adalah inflamasi dan iritasi pada ruang antara diskus tulang belakang. Peradangan ini akan memberikan tekanan pada diskus dan memicu rasa sakit. Kondisi ini umumnya terjadi pada remaja dan anak-anak. Gejala utamanya adalah rasa sakit pada tulang belakang, serta memengaruhi punggung atas dan bawah.
  • Sacroilitis adalah radang sendi yang terjadi di antara punggung bawah dan panggul. Gejala yang muncul biasanya memengaruhi bokong dan juga punggung bawah.
  • Stenosis spinal, adalah kondisi di mana terjadi penyempitan di bagian celah terbuka pada tulang belakang. Kondisi ini menyebabkan sumsum tulang belakang yang berisi saraf tertekan. Beberapa gejala umum stenosis spinal adalah rasa nyeri pada kaki dan pada punggung bagian bawah.
  • Spina bifida, adalah cacat lahir yang mana ditandai dengan terbentuknya celah pada tulang belakang bayi. Kelainan ini dipicu oleh pembentukan tulang belakang yang tidak sempurna pada bayi selama dalam kandungan. Gejala umum spina bifida adalah kelemahan pada otot, persarafan, hingga bisa terjadi hidrosefalus.

Jika terjadi gejala-gejala tersebut Anda harus segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat. Biasanya dokter akan mendiagnosis dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi. Sedangkan pengobatan cenderung bervariasi tergantung penyebab kelainan itu sendiri.  Jika Anda atau keluarga Anda tampak memiliki beberapa gejala kelainan tulang belakang, segeralah memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.