Jika Antioksidan Tercukupi, Maka Oksidasi Pun Aman

Reaksi oksidasi dapat menghasilkan radikal-radikal bebas. Radikal bebas ini kemudian dapat menyebabkan reaksi berantai yang dapat merusak sel-sel tubuh. Untuk menghentikan reaksi berantai yang bersifat merusak tersebut, diperlukan adanya antioksidan.

Agar proses oksidasi berjalan seimbang, kelompok makhluk hidup tertentu, seperti tanaman dan hewan secara alami memelihara sebuah sistem yang kompleks, salah satunya dengan mengandalkan antioksidan yang bisa berasal dari dalam tubuh maupun dari makanan yang dikonsumsi. Antioksidan sendiri merupakan senyawa yang menghambat proses oksidasi.

jika antioksidan tercukupi, maka oksidasi pun aman - alodokter

Seperti Apa Oksidasi yang Berbahaya?

Tubuh terus-menerus berinteraksi dengan oksigen. Aktivitas ini memunculkan radikal bebas. Stres oksidatif terjadi bilamana jumlah radikal bebas dan pertahanan tubuh (antioksidan) tidak seimbang dan cenderung lebih banyak radikal bebas.

Radikal bebas merupakan molekul yang sangat reaktif dalam berinteraksi dengan molekul-molekul lain di dalam sel tubuh. Karena terlalu reaktif, intervensi radikal bebas bisa menyebabkan kerusakan oksidatif pada membran sel, berbagai protein, dan gen. Kerusakan yang ditimbulkan disebut dengan kerusakan oksidatif. Jika kerusakan ini terjadi, maka kemungkinan tubuh berisiko terserang berbagai penyakit.

Selain karena interaksi yang konsisten antara tubuh dengan oksigen, kemunculan radikal bebas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar tubuh manusia. Polusi, paparan sinar matahari, limbah industri, dan merokok merupakan faktor pemicu munculnya radikal bebas di dalam tubuh.

Bahaya Oksidasi Berlebihan di Dalam Tubuh

Keberadaan radikal bebas berlebihan dalam tubuh sering kali dikaitkan dengan aneka penyakit yang menyerang tubuh. Banyak pihak yang menduga stres oksidatif memegang peranan penting kepada kemunculan penyakit neurodegeneratif, yaitu penyakit progresif dari sistem saraf.

Penyakit-penyakit neurodegeneratif yang sering dikaitkan dengan adanya stres oksidatif, antara lain parkinson, Alzheimer, dan multiple sclerosis. Penyakit lainnya yang juga sering dikaitkan dengan stress oksidatif dalam tubuh adalah penyakit Lou Gehrig (ALS) dan penyakit Huntington.

Stres oksidatif juga diduga terkait dengan kemunculan penyakit kardiovaskular tertentu. Hal ini biasanya akan terjadi jika kolesterol jahat (LDL) yang menumpuk di dinding arteri mengalami oksidasi, mengawali terjadinya pembentukan plak di dinding arteri.

Penyakit lain yang juga sering dikaitkan dengan stres oksidatif adalah kanker. Jenis kanker yang dimaksud adalah yang terkait dengan penuaan. Kemampuan radikal bebas yang bisa menyebabkan kerusakan langsung pada DNA menyebabkan tubuh mengalami mutasi genetik. Radikal bebas juga dapat menghalangi kematian sel, memicu pertumbuhan sel, membuat kanker menyerang jaringan sekitar serta menyebar ke area lain di dalam tubuh. Jika stres oksidatif berkolaborasi dengan infeksi H. pylori, maka kemungkinan besar bisa mempercepat perkembangan kanker lambung.

Kemungkinan lain yang bisa timbul akibat stres oksidatif adalah munculnya penyakit stroke, serangan jantung, kelelahan kronis, dan diabetes.

Merealisasi Langkah-langkah Penghambatan

Agar proses oksidasi tidak membahayakan tubuh, maka cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencukupi kebutuhan antioksidan tubuh. Sejatinya, tubuh sudah memproduksi senyawa penetral radikal bebas tersebut secara mandiri. Hanya saja, produk internal tubuh tidak sanggup menetralkan semua radikal bebas pada tubuh. Apalagi jika gaya hidup yang dijalani berisiko memperbanyak radikal bebas dalam tubuh.

Kemampuan tubuh dalam menghasilkan senyawa ini dikendalikan oleh faktor genetik seseorang dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, seperti kondisi lingkungan, diet makanan tertentu, dan kebiasaan rokok. Untuk memperbaikinya, perubahan gaya hidup harus dilakukan, termasuk meningkatkan kualitas lingkungan dan asupan makanan yang dikonsumsi.

Beruntung, beberapa makanan yang mengandung antioksidan mudah didapatkan dalam bentuk suplemen maupun makanan sehari-hari. Suplemen antioksidan yang bisa dikonsumsi, misalnya suplemen vitamin E, vitamin C, dan beta karoten. Sementara untuk makanan, antioksidan banyak terkandung di dalam buah-buahan dan sayur-sayuran, seperti tomat, wortel, dan jeruk. Teh hijau, hitam, dan oolong juga mengandung antioksidan yang baik untuk Anda konsumsi.

Mengingat bahaya proses oksidasi yang berlebihan, maka sudah saatnya mengubah pola makan dan gaya hidup kita. Hal ini mutlak diperlukan mengingat kita tidak bisa menghindari proses oksidasi dalam tubuh yang menghasilkan radikal bebas tersebut.