Kanker Anus

Pengertian Kanker Anus

Ditinjau oleh: dr. Marianti

Kanker anus merupakan jenis kanker yang terjadi di bagian anus atau saluran anus. Saluran anus merupakan saluran pada ujung rektum yang berfungsi untuk melakukan pembuangan feses dari usus. Kanker anus umumnya jarang terjadi. Kanker anus terjadi ketika sel-sel di daerah anus tumbuh dengan tidak terkontrol. Kondisi ini menyebabkan sel-sel tersebut berubah menjadi kanker.

Kanker Anus - Alodokter

Kebanyakan kanker anus berasal dari sel di lapisan mukosa, terutama sel kelenjar pada lapisan mukosa anus. Fungsi kelenjar pada anus adalah untuk menghasilkan mukus atau lendir sebagai pelicin agar feses lebih mudah melewati anus. Jenis kanker anus yang berasal dari kelenjar ini disebut adenokarsinoma. Selain adenokarsinoma, kanker anus juga dapat meliputi jenis karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel basal dan melanoma. Seringkali kanker anus menyebar dari satu bagian anus ke bagian lain sehingga sulit untuk mengetahui daerah asal kanker anus.

Selain tumor ganas (kanker), pada anus juga dapat muncul tumor jinak dan tumor pra-kanker, yaitu tumor yang berawal dari jinak namun dalam perjalanannya dapat berubah menjadi ganas. Displasia merupakan contoh tumor pra-kanker. Displasia yang terjadi di anus dikenal dengan anal intraepithelial neoplasia (AIN) dan anal squamous intraepithelial lesions (SILs).

Gejala Kanker Anus

Gejala yang dapat muncul pada penderita kanker anus, antara lain adalah:

  • Perdarahan dari rektum atau anus.
  • Gatal atau nyeri di daerah anus.
  • Muncul pembengkakan atau benjolan pada anus.
  • Keluar cairan yang tidak biasa dari anus.
  • Gangguan buang air besar (BAB) salah satunya adalah kesulitan menahan buang air besar.

Seperlima dari penderita kanker anus tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik). Jika muncul gejala-gejala di atas, dianjurkan untuk segera konsultasikan kepada dokter.

Penyebab Kanker Anus

Kanker anus disebabkan oleh mutasi genetik pada sel anus yang menyebabkan sel normal berubah menjadi abnormal. Sel anus yang abnormal tumbuh dan berkembang biak tanpa terkendali dan membentuk tumor. Sel kanker tersebut dapat menyerang jaringan sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis).

Kanker anus seringkali dikaitkan dengan infeksi virus, yaitu Human Papilloma Virus (HPV). Meskipun demikian, tidak setiap orang yang menderita infeksi HPV akan mengalami kanker anus. HPV menghasilkan protein yang dapat menonaktifkan tumor suppressor proteins dalam sel normal. Ketika protein ini tidak aktif, sel dapat berubah menjadi kanker.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena kanker anus, antara lain adalah:

  • Usia. Seringkali kanker anus muncul pada lansia.
  • Melakukan seks anal. Para pelaku seks anal akan lebih mudah terkena kanker anus dibanding dengan orang yang tidak melakukan seks anal.
  • Sering berganti pasangan seksual. Orang yang sering berganti pasangan seksual lebih mudah terkena kanker anus dibanding orang yang tidak pernah berganti pasangan seksual.
  • Memiliki riwayat menderita kanker. Penderita kanker serviks, kanker vulva, atau vagina memiliki risiko lebih tinggi menderita kanker anus.
  • Merokok. 
  • Kondisi sistem imun yang lemah. Sistem imun yang lemah, misalnya karena infeksi HIV atau karena penggunaan obat imunosupresan seperti kortikosteroid, dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena kanker anus dibandingkan orang yang sistem imunnya dalam kondisi baik.
  • Menderita kutil pada anus. Kutil pada anus yang disebabkan oleh infeksi HPV meningkatkan risiko seseorang terkena kanker anus.
  • Wanita. Wanita lebih mudah terkena kanker anus dibandingkan pria. Namun untuk kelompok usia di bawah 35 tahun, kanker anus lebih sering terjadi pada pria dibanding pada wanita.

Diagnosis Kanker Anus

Untuk menentukan apakah seseorang terkena kanker anus atau tidak, pemeriksaan berikut ini akan dibutuhkan, di antaranya:

  • Pemeriksaan fisik anus dan rektum. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa kondisi rektum dan anus, terutama untuk menemukan adanya benjolan pada jaringan anus sebagai tanda kanker. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan colok dubur dan dilanjutkan dengan bantuan alat anuskop, yaitu alat berbentuk tabung keras untuk melihat kelainan di saluran anus dan rektum dengan lebih jelas.
  • Endoskopi. Pemeriksaan menggunakan endoskopi dilakukan dengan memasukkan tabung fleksibel tipis dengan kamera kecil di ujungnya, ke dalam anus. Dalam prosedur pemeriksaan ini, dapat juga diambil sampel jaringan anus yang diduga mengalami kanker (biopsi anus).
  • Biopsi. Biopsi bertujuan untuk mengambil sampel jaringan anus yang diduga mengalami kanker untuk diperiksa menggunakan mikroskop. Selain biopsi langsung pada jaringan anus, biopsi juga dapat dilakukan dengan menggunakan jarum tipis (fine needle aspiration) pada kelenjar getah bening bila terdapat pembesaran kelenjar getah bening.
  • USG Transrektal. Pada tindakan USG Transrektal, transducer langsung diletakkan pada rektum. Pemeriksaan ini dapat melihat seberapa dalam kanker telah menyerang jaringan anus.

Selain keempat pemeriksaan tersebut, kanker anus juga dapat dideteksi mengunakan pemeriksaan di bawah ini, terutama untuk menentukan stadium kanker:

  • MRI. Pemindaian ini menggunakan gelombang magnet untuk mendapatkan gambar kondisi organ dalam tubuh, dalam hal ini bagian dalam anus. MRI dapat digunakan untuk mendeteksi pembesaran kelenjar getah bening di sekitar lokasi kanker, yang dicurigai sebagai penyebaran.
  • CT scan. Pemindaian ini dapat memetakan kondisi kanker anus dengan menggunakan sinar-X. Selain dapat mendeteksi kanker, CT scan juga dapat mendeteksi jika kanker sudah menyebar, baik itu ke kelenjar getah bening ataupun ke organ lain.
  • PET scan. Pemindaian ini dapat menggambarkan letak kanker dan penyebarannya di seluruh tubuh dengan menggunakan analisis penyerapan gula radioaktif oleh sel kanker. Umumnya dokter akan mengombinasikan PET scan dengan CT scan atau MRI agar gambar yang dihasilkan lebih jelas.

Sebagai ukuran tingkat keganasan dan penyebaran kanker anus, digunakan tingkatan berikut:

  • Stadium I. Kanker anus berukuran kurang dari atau sama dengan 2 cm (berukuran sebesar kacang atau lebih kecil).
  • Stadium II. Kanker anus berukuran lebih besar dari 2 cm namun belum menyebar ke organ tubuh lain.
  • Stadium III A. Kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening di dekat anus atau ke organ tubuh lain dekat anus, seperti kandung kemih, saluran kemih (uretra), dan vagina.
  • Stadium III B. Kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening dekat anus dan organ tubuh dekat anus; atau kanker anus sudah menyebar ke kelenjar getah bening lain di daerah panggul.
  • Stadium IV. Kanker anus sudah menyebar ke bagian tubuh lain di luar daerah panggul.

Pengobatan Kanker Anus

Pengobatan kanker anus yang diberikan kepada pasien akan bergantung kepada stadium kanker penderita. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendiagnosis stadium kanker sebelum dilakukan pengobatan untuk pasien. Jenis-jenis pengobatan yang dapat dilakukan, antara lain adalah:

  • Radioterapi. Pengobatan radioterapi dilakukan dengan cara menembakkan sinar berkekuatan tinggi seperti sinar X dan proton ke daerah yang mengalami kanker. Selama radioterapi, pasien akan ditempatkan di meja, kemudian sinar ditembakkan secara spesifik ke daerah anus. Perlu diingat bahwa pemberian radioterapi dapat juga merusak sel-sel sehat di sekitar kanker, sehingga dapat menimbulkan efek samping tertentu. Beberapa efek samping yang dapat muncul, antara lain yaitu:
    • Rasa terbakar pada kulit.
    • Iritasi dan nyeri pada anus.
    • Diare.
    • Mual.
    • Kelelahan.
    • Merasa tidak nyaman pada saat buang air besar.
    • Iritasi vagina pada wanita yang menyebabkan tidak nyaman dan keluarnya cairan dari vagina.
  • Kemoterapi. Kemoterapi merupakan metode pengobatan untuk membunuh sel-sel kanker dengan menggunakan obat-obatan kimia dalam bentuk pil atau larutan infus. Kemoterapi dapat membunuh sel yang tumbuh dengan cepat, seperti sel kanker. Oleh karena itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan kematian pada sel sehat yang tumbuh dengan cepat seperti rambut dan sel saluran pencernaan sehingga menimbulkan efek samping pada pasien. Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat kemoterapi, antara lain adalah:
    • Mual dan muntah.
    • Rambut rontok.
    • Sariawan
    • Diare.
    • Kehilangan nafsu makan.
    • Penurunan jumlah sel darah.

Kemoterapi seringkali diberikan secara sinergis bersama dengan radioterapi agar didapat hasil pengobatan yang lebih efektif.

  • Pembedahan jaringan kanker. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat jaringan kanker pada anus. Pembedahan dapat dilakukan pada stadium awal kanker maupun pada stadium lanjut. Pembedahan kanker stadium awal biasanya dilakukan dengan cara mengangkat jaringan kanker dan sedikit jaringan sehat di sekitarnya. Pada pembedahan kanker stadium awal, dokter akan mengusahakan untuk tidak merusak otot sfingter anus karena otot ini berfungsi untuk mengatur buang air besar. Sedangkan pada pembedahan kanker stadium lanjut, dilakukan pada penderita kanker yang sudah tidak memberikan respon terhadap kemoterapi dan radioterapi. Pembedahan kanker stadium lanjut ini dilakukan dengan memotong anus, rektum serta sebagian dari usus besar. Sisa rektum dan usus besar kemudian disambungkan dengan dinding perut dan dibuat lubang (stoma) agar feses dapat dibuang melalui lubang tersebut. Kemudian feses akan ditampung di kantung (colostomy bag) yang tersambung dengan usus pada bagian stoma, sebelum dibuang.

Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dalam mencegah dan mengatasi gejala dari penyakit serta efek samping yang ditimbulkan akibat pengobatan kanker, pasien dapat diberikan terapi paliatif atau terapi pendukung. Tujuan dari terapi paliatif bukan untuk menyembuhkan kanker.

Pencegahan Kanker Anus

Kanker anus tidak bisa dicegah sepenuhnya, namun dapat dilakukan langkah-langkah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kanker anus pada seseorang. Beberapa langkah untuk menurunkan risiko terjadinya kanker anus antara lain adalah:

  • Vaksinasi HPV. Untuk mencegah infeksi HPV yang dapat memicu kanker anus, dapat dilakukan vaksinasi HPV, baik pada laki-laki maupun pada perempuan.
  • Melakukan aktivitas seksual yang lebih aman dan sehat. Untuk melakukan aktivitas seksual yang aman dan sehat, sebaiknya hindari melakukan hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan. Menghindari hubungan seks anal juga merupakan langkah baik untuk mencegah infeksi HPV pada anus. Namun, jika berkeinginan untuk melakukan seks anal, sebaiknya gunakan kondom.
  • Berhenti merokok.

Sources