Kelainan pada Telinga yang Umum Menimpa Bayi Baru Lahir

Microtia dan telinga besar atau protruding ear adalah kelainan pada telinga yang kerap dijumpai pada bayi baru lahir.

kelainan pada telinga yang umum menimpa bayi baru lahir - alodokter

Sebuah data menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 360 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan pendengaran dengan 32 juta di antaranya adalah anak-anak. Terdapat beberapa faktor penyebab, di antaranya adalah kelainan telinga bawaan, komplikasi saat lahir, penyakit menular, infeksi telinga kronis, hingga efek samping obat-obat tertentu.

Adapun gangguan pendengaran yang dialami oleh anak, khususnya bayi baru lahir, umumnya disebabkan oleh kelainan telinga bawaan. Faktor genetik dan komplikasi tertentu saat kehamilan ditengarai menjadi penyebab kelainan pada telinga bayi baru lahir, seperti:

  • Ibu hamil mengidap rubella, sifilis, atau infeksi lainnya.
  • Bayi mengidap penyakit kuning parah yang dapat merusak saraf pendengaran bayi baru lahir.
  • Ibu hamil menggunakan obat-obatan tertentu, seperti antibiotik golongan aminoglikosida, obat yang bersifat sitotoksik (sering digunakan pada kemoterapi), obat diuretik (mempercepat pembentukan urine, banyak dipakai pada kasus hipertensi), dan obat antimalaria.
  • Bayi sempat mengalami kekurangan oksigen pada saat dilahir
Memang ada beragam jenis kelainan yang dapat terjadi pada telinga, namun sebagian kelainan lebih mudah dikenali keberadaannya karena memengaruhi bentuk dari telinga bagian luar. Kondisi ini selain kerap menjadi masalah dalam segi estetika dan kepercayaan diri penderitanya, juga dapat memengaruhi fungsi pendengaran.

Kelainan pada Telinga Berdasarkan Bentuknya

Pada bayi baru lahir, kelainan telinga dengan bentuk telinga yang tidak normal umumnya berupa kelainan telinga microtia dan protruding ear. Adapun kedua kelainan ini menjadikan bentuk daun telinga tidak tampak seperti pada umumnya.
  • Microtia

Tergolong kasus yang jarang terjadi. Diketahui dari setiap 10.000 kelahiran, 1-5 bayi di antaranya mengalami kelainan telinga ini, dan kerap dialami oleh bayi laki-laki yang tinggal di daerah dataran tinggi. Umumnya terjadi pada salah satu telinga. Microtia merupakan kelainan pada telinga yang terjadi akibat pertumbuhan pinna atau aurikula atau daun telinga tidak sempurna, sehingga menyebabkan kecacatan yang tidak hanya pada bentuk telinga bagian luar, namun juga bagian lain pada telinga. Hal ini menyebabkan penderita microtia umumnya juga mengalami gangguan pada fungsi pendengarannya.

Bayi yang lahir dengan kelainan microtia akan memiliki daun telinga kecil dan tidak berkembang, yaitu berukuran 50-66 persen lebih kecil dari rata-rata ukuran telinga, sehingga daun telinga terlihat menyerupai kacang.

Ibu hamil yang menderita diabetes, menggunakan obat jerawat yang mengandung isotretinoin, memiliki asupan nutrisi yang tidak mencukupi kebutuhan asam folat dan karbohidrat, penyalahgunaan obat-obatan dan minuman beralkohol, serta pernah terinfeksi rubella di trimester pertama kehamilan, dapat berisiko memiliki bayi lahir dengan kelainan telinga microtia. Kondisi ini juga tergolong kelainan bawaan yang dapat diturunkan dan berkaitan dengan mutasi genetik.

  • Protruding ear atau telinga berukuran besar

Kondisi ini memengaruhi 1 hingga 2 persen populasi, dapat terjadi pada salah satu maupun kedua telinga, dan dipengaruhi oleh adanya gangguan pembentukan tulang rawan saat dalam kandungan. Pada kelainan telinga protruding ear yang kerap dikenal juga sebagai prominent ear, daun telinga tumbuh dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan proporsi kepalanya maupun ukuran telinga pada umumnya, sehingga cenderung tampak lebih mengarah ke luar.

Meski begitu, bayi yang mengalami protruding ear masih memiliki fungsi pendengaran yang baik. Hanya saja, bentuknya yang tampak tidak lazim kerap menjadi masalah bagi perkembangan rasa percaya diri anak. Pasalnya, ukuran telinga yang besar atau kerap disebut caplang, mungkin terlihat aneh bagi anak-anak lain yang memiliki telinga dengan ukuran normal, sehingga saat memasuki masa sekolah, anak yang memiliki kelainan telinga ini kerap mendapatkan ejekan dari teman-temannya.

Kelainan telinga microtia dan protruding ear menjadikan bentuk daun telinga bayi yang baru lahir terlihat tidak lazim. Karena itu, terlepas dari biaya yang cukup mahal, sebagian besar orangtua dari anak-anak dengan kelainan ini memilih agar anaknya menjalani tindakan operasi untuk memperbaiki bentuk telinga menjadi normal.

Melakukan konsultasi kepada dokter sebelum menjalani tindakan apa pun, sangat disarankan kepada tiap orangtua yang memiliki bayi dengan kelainan telinga, agar tindakan yang ditempuh dapat disesuaikan dengan kondisi fisik dan penyebab dari kelainan telinga itu sendiri. Selain itu, dukungan keluarga dalam menjaga dan meningkatkan rasa kepercayaan diri anak yang lahir dengan kelainan ini, sangatlah penting bagi tumbuh kembangnya.