Kenali Penyebab Infeksi Otak, Faktor Risiko dan Jenisnya

Sistem saraf pusat kita sebenarnya sangat kuat menahan serangan kuman patogen yang menyebabkan infeksi otak. Namun, area ini juga bisa menjadi sangat rentan ketika kuman akhirnya berhasil menembus mekanisme pertahanannya dan infeksi dimulai.

Sistem saraf pusat terdiri dari otak, saraf tulang belakang, dan saraf optik yang mengendalikan proses berpikir, pergerakan, dan sensasi di seluruh tubuh. Sistem saraf pusat Anda dilindungi oleh tengkorak, tulang belakang, meninges (selaput otak), dan penyaring kapiler atau sawar darah otak (blood brain barrier) yang bertugas menghalangi zat-zat tertentu ikut terbawa ke jaringan otak maupun tulang belakang sehingga menyebabkan infeksi otak.

brain infection - alodokter

Walau demikian, sistem saraf pusat sebenarnya tidak memiliki jumlah antibodi yang cukup untuk melawan kuman dan mencegah terjadinya infeksi otak, jika dibandingkan dengan area lain di tubuh Anda. Inilah sebabnya begitu kuman patogen (mikroorganisme penyebab penyakit seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur) berhasil menembus mekanisme pertahanan sistem saraf pusat, penyakit dapat segera berkembang. Di antara kuman patogen penyebab infeksi otak yang ada, kuman yang paling umum ditemui adalah Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis dan Haemophilus influenza tipe b (Hib).

Tidak hanya itu, beberapa penyakit yang sudah dimiliki sebelumnya dan menurunnya kondisi tubuh juga merupakan faktor risiko dari infeksi kuman yang bertambah parah. Misalnya akibat infeksi saluran pernapasan atau infeksi berat pada organ tubuh lain, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, melemahnya sistem kekebalan tubuh, riwayat cedera kepala atau operasi pada otak, dan kanker otak.

Tiga Jenis Infeksi Otak yang Utama

Infeksi kuman patogen pada sistem saraf pusat bisa melibatkan berbagai bagian di dalamnya, sehingga akan menghasilkan gejala fisik dan perjalanan penyakit yang berbeda-beda. Berikut adalah tiga jenis infeksi otak utama berdasarkan lokasi terjadinya infeksi kuman dan peradangan.

Meningitis – Peradangan atau pembengkakan yang terjadi pada meninges, yaitu tiga lapisan pelindung yang mengelilingi otak, saraf tulang belakang, serta cairan serebrospinal yang ada di sekitar keduanya.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi kuman, virus, atau jamur. Meningitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri penyebab tuberkulosis. Sakit kepala, perubahan status mental seperti kebingungan hingga penurunan kesadaran, mual muntah, sensitif terhadap cahaya, demam dan leher terasa kaku adalah beberapa gejala yang umum ditemui pada kasus meningitis. Pada meningitis akibat infeksi virus dapat terjadi gejala awal seperti nyeri otot, lemas, dan penurunan berat badan sebelum muncul gejala utama. Gejala meningitis pada bayi dapat berupa penonjolan fontanel (bagian lunak di kepala) jika tidak mengalami dehidrasi, bayi lemas, kurang atau tidak mau minum, rewel, dan demam. Kondisi ini harus segera ditangani baik pada orang dewasa maupun anak-anak karena dapat menyebabkan kecacatan dan kematian.

Ensefalitis – Peradangan yang terjadi di jaringan otak itu sendiri oleh karena infeksi virus dan meskipun jarang, bakteri dan jamur.

Infeksi virus penyebab ensefalitis sering disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks, varisela atau cacar air, virus Epstein-Barr, dan campak. Selain itu meskipun relatif jarang, penyakit ini juga bisa disebabkan oleh gigitan nyamuk yaitu pada penyakit Japanese encephalitis, gigitan kutu dapat menyebabkan tick-borne encephalitis, dan rabies pada gigitan hewan liar.

Sementara, myelitis adalah istilah untuk peradangan serupa yang terjadi di saraf tulang belakang misalnya pada polio. Ensefalitis biasanya dialami bersamaan dengan meningitis dan dikenal dengan kondisi meningoensefalitis. Penyakit ini sering terjadi pada bayi dan orang tua atau pada kondisi melemahnya sistem kekebalan tubuh. Gejalanya dapat menyerupai gejala radang selaput otak (meningitis), namun pada ensefalitis dapat disertai adanya kejang, kelemahan anggota gerak, dan kesulitan bicara.

Abses otak – Infeksi yang terjadi akibat akumulasi dari infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme maupun sumber lain. Abses bisa terjadi di area manapun yang masih berada di dalam sistem saraf pusat. Abses yang terjadi di otak biasanya ditangani dengan pemberian antibiotik untuk membunuh bakteri dan pengeringan atau penyedotan cairan abses melalui prosedur operasi.

Untuk menentukan diagnosis dan penyebab infeksi otak, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan darah lengkap, cairan serebrospinal, kultur sampel cairan serebrospinal untuk menentukan bakteri, jamur, atau virus penyebab infeksi serta pemindaian otak (MRI atau CT-scan kepala), dan EEG. Pemeriksaan serologi parasit Toxoplasma juga penting dilakukan. Infeksi otak, seperti meningitis yang disebabkan oleh bakteri, umumnya menyerang bayi dan anak kecil. Kelompok lain yang juga berisiko adalah orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah seperti pengguna obat-obatan kortikosteroid jangka panjang, menjalani kemoterapi, penderita HIV/AIDS, lansia yang berusia lebih dari 60 tahun, dan penyalahguna obat terlarang. Penderita infeksi sinus (sinusitis) atau infeksi telinga tengah serta pada infeksi berat seperti pneumonia atau abses paru-paru, riwayat trauma kepala, dan operasi otak berisiko menimbulkan abses otak atau infeksi otak lainnya.

Pengobatan pada infeksi otak bertujuan untuk membasmi penyebab, memperbaiki kondisi umum, dan mencegah komplikasi. Apabila terdapat gejala-gejala infeksi otak, maka Anda perlu segera mendapat penanganan. Infeksi otak adalah kondisi serius yang dapat menyebabkan kecacatan dan tak jarang, kematian. Penderita infeksi otak perlu dirawat di rumah sakit agar mendapat cairan infus untuk mencegah dehidrasi, antibiotik suntikan untuk membasmi kuman penyebab infeksi, antivirus untuk kasus infeksi otak akibat virus, serta oksigenasi yang baik. Pada kasus berat dimana penderita infeksi otak mengalami penurunan kesadaran dan kejang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan intubasi untuk mempertahankan jalan napas, serta pemantauan dan evaluasi ketat. Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi otak yaitu kelumpuhan, kejang atau epilepsi, hilang memori, perubahan kepribadian atau status mental, dan kematian.

Untuk mencegah infeksi otak dan susunan saraf pusat yang berbahaya ini terdapat beberapa vaksin seperti Hib, MMR, polio, varisela, meningokokus, pneumokokus atau PCV,  dan Japanese encephalitis. Imunisasi dengan vaksin-vaksin tersebut bertujuan untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap kuman atau virus patogen yang dapat menyerang otak dan sususan saraf pusat lain. Pada anak-anak vaksinasi tersebut dapat diberikan sesuai jadwal imunisasi. Pada orang dewasa yang belum pernah mendapat vaksin sebelumnya atau menderita kondisi tertentu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat informasi yang lebih baik mengenai perlu tidaknya imunisasi pada orang dewasa.

Segera temui dokter jika Anda atau terdapat orang lain di sekitar yang merasakan gejala yang telah disebutkan di atas untuk mendapatkan penanganan medis secepatnya.  Semakin lambat penanganan maka risiko komplikasi akan semakin tinggi. Meskipun demikian, pada beberapa kasus infeksi otak yang berat, kematian atau kecacatan permanen dapat terjadi pada 48 jam pasca munculnya gejala.