Tanya Dokter

  • Penyebab kejang pada anak

  •  Bun Ika
    Anggota
    Dokter, saya ingin konsultasi. Sebagai 2nd oppinion yg kesekian kalinya mengingat kasus anak sy sdh ditangani oleh beberapa dokter anak konsultan, dg diagnosa yg berubah ubah sesuai klinisnya. Akhir agustus anak sy (usia 3 thn) pingsan pertama kalinya, kondisi saat itu H-1 sempat panas tinggi tp pagi hari sdh turun, super aktif seharian tdk tidur siang, sempat terjatuh terpeleset tp tanpa kena kepala, tidur malam jam 12 dan bangun pagi sekitar jam 7, nafsu makan menurun karena batuk. Bangun pagi, langsung BAB encer cukup banyak kemudian mandi berendam air hangat. Perut kosong dan juga blm mau minum air putih. Setelah mandi agak rewel karena kedinginan, setelah pakai baju beberapa saat kemudian berlari spt takut memanggil saya kemudian terjatuh lemas, badan tdk kaku tp bola mata terlihat putih dan bibir putih pucat :( sy bopong hanya beberapa detik saja sdh sadar merengek sakit sakit dan berkeringat dingin. Sy bawa ke ugd dg dokter umum disarankan rawat inap & CT scan, akan tetapi bertemu dg dokter Sp.A(k)-1 diperiksa fisik tdk apa2 dan disuruh pulang, jika terulang kemungkinan epilepsi, begitu dugaannya. Karena ragu besoknya sy kontrol kan dg dokter alerginya Sp.A(k)-2 cek tdk ada masalah, sehat. Selang 2 minggu bulan September, anak sy pingsan lagi dg kondisi yg mirip. Sebelumnya tdk mau makan karena radang, batuk nya jg blm sembuh. Beberapa menit sebelum pingsan ke-2 ini diluar rumah bermain main lari2, H-1 sebelumnya juga panas tinggi. Waktu pingsan suhu badannya ssh normal, beberapa detik sebelum jatuh lemas memanggil sy dg keluhan perutnya lapar. Selang 4 hari badannya panas lg, sy minta rujukan cek Lab dan hasilnya LED tinggi. Sy periksakan kembali dg dokter Sp.A(k)-3 karena dokter yg biasa menangani sdg day off. Dianjurkan cek darah lagi, hasilnya CRP tinggi 43, kondisi msh batuk dan ada luka infeksi di kakinya. Info dokter infeksinya sdh menyebar dan harus opnam. 2 hari opnam dg dokter sebelumnya Sp.A(k)-2 tdk ada penanganan khusus hanya minum antibiotik. 1 malam opnam dinyatakan sehat meski CRP nya masih tinggi. Esok harinya pagi dirumah, pingsan yg ke-3 kalinya mengeluh juga sakit sambil memegang bagian perut. Kemudian jatuh lemas mirip spt sebelumnya. Sy bawa kembali ke ugd, dan opnam total 16 hari dg diagnosa infeksi bakteri akut + bronchopneumonia. Selama opnam dilakukan screening total termasuk jantung & EEG dan hasilnya normal. Tp diagnosa epilepsi masih ditegakka dan minum depakene + neurotam, info dokter Sp.A(k)-3 masih observasi dan setidaknya 6 bulan minum obat. Sy ragu akhirnya ke Profesor Sp.A(k)-4 konsultan respiratory dirujuk ke konsultan neurologi Sp.A(k)-5 sampai saat ini lanjut dg dokter ke-5 tsb. Awalnya setelah tau riwayatnya terdiagnosa syncope non epileptik sh dosis depakene diturunkan 1ml per minggu. Setelah 5 mnggu dr 5 ml menjadi 2 ml, anak sy pingsan sewaktu sekolah.. hampir mirip tetapi tanpa pucat jd lemas saja karena belum makan. Dokter pun menaikkan lg dosisnya menjadi 3.5 ml dan mengeakkan diagnosa epilepsi idiopatik level ringan yg tdk diketahui sebabnya. Sdh sekitar 2 ln dg dosis tsb tdk pernah pingsan, cek tumbuh krmbang semua jg normal. Disarankan lanjut obat s/d 1 th dan kontrol setiap bulan. Pertanyaan sy, sejujurnya masih ragu dokter...krn dokter yg sama diagnosa berubah dr syncope non epileptik menjadi idiopatik, karena awalnya yakin kejang karena infeksi spt yg dijelaskan dr Sp.A(k)-3 saat opnam meski dg observasi epilepsi. Apakah sy perlu mencari dokter lain utk memastikan kondisi anak sy? Mengingat MRI dan CT scan menurut dokter saat ini tdk perlu krn yakin hasilnya jg normal. Apa tindakan terbaik yg seharusnya sy lakukan dokter? Mohon saran & petunjuknya. Terima kasih byk Dok..

    Halo Bun Ika,

    Sebelumnya kami sangat mengerti akan kekhawatiran Anda mengenai kondisi yang dialami oleh anak Anda.

    Penyakit epilepsi didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang akan mengalami kejang secara berulang. Di mana kerusakan atau perubahan di dalam otak diketahui sebagai penyebab pada sebagian kecil kasus epilepsi. Namun pada sebagian besar kasus yang pernah terjadi, penyebab masih belum diketahui secara pasti.

    Pada epilepsi idiopatik atau dikenal sebagai epilepsi primer, kondisi ini merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui. Sejumlah ahli menduga bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). Sedangkan epilepsi simptomatik atau disebut dengan epilepsi sekunder, hal ini  merupakan jenis epilepsi yang dapat diketahui penyebabnya.

    Cukup sulit memang untuk mengetahui apakah kondisi yang dialami oleh anak Anda sehingga dari beberapa Sp.A yang menangani masih memberikan diagnosis dengan kecurigaan epilepsi sendiri, namun apabila kejang yang dialami oleh anak Anda disebabkan oleh infeksi, artinya harus ada sumber infeksi yang jelas yang bisa dilihat salah satunya dengan pemeriksaan darah.

    Apabila kondisi kejang yang dialami oleh anak Anda disebabkan karena infeksi, umumnya seiring dengan membaiknya infeksi yang dialami, maka tidak ada lagi bangkitan kejang.

    Tetapi pada kasus anak Anda sepertinya masih dijumpai bangkitan kejang walaupun infeksinya telah tertangani, hal ini lah yang kemudian bisa dijadikan dasar untuk mengarahkan pada epilepsi idiopatik. Untuk saat ini, karena sudah tidak dijumpai bangkitan kejang, baiknya Anda melanjutkan pengobatan anak Anda pada Sp.A konsultan neurologi karena dokter pasti telah melakukan berbagai pemeriksaan dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak Anda.

    Karena saat ini Anda masih merasa ragu, Anda bisa meminta penjelasan terlebih dahulu mengenai perubahan diagnosis yang diberikan, dan apabila Anda masih ragu juga, Anda juga bisa mengkonsultasikan hal ini dengan Sp.A yang lain.

    Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk mengatasi keluhan Anda.

    dr Taneya Putri Zahra