Tanya Dokter

  • Benjolan pada lidah anak

  • Assalamualaikum.

    Dokter, saya memiliki anak usia 5 tahun dengan kondisi lidah sejak lahir seperti ini papila/bintil merah terlihat lebih menonjol, kalau sedang sakit panas/demam warnahnya merah. Bintil ini juga terlihat dipinggir dan diujung lidah. Terkadang keluar darah tidak banyak mungkin dari bintil yang warna merah itu. Terus ada selaput lendir warna coklat yang mengelupas dengan sendirinya. Setelah itu lidah bersih bintil-bintil/papila tidak lagi memerah (warna normal). Makannya banyak juga minumnya tapi tidak mau makanan yang pedas dan asam. Ia suka makan yang gurih dan manis. Lidahnya agak tebal dan lebih suka menekuk keatas. Ini bawaan sejak lahir.saat usia 7 bulan pernah operasi di leher higroma colli hasil pemeriksaan  tidak ditemukan keganasan. Dok apa gejala tsb termasuk kanker lidah? Kedokter apa saya harus memeriksakan anak saya? makasih ya

    Erni Rahmawati  Tim Alodokter
    Dokter

    Hi, Saya dapat katakan bukan kanker lidah. Pada umumnya kanker lidah tidak berubah secepat itu dan tidak terkait dengan demam. Kondisi anak anda kemungkinan demam scarlet yang merupakan infeksi bakteri. Demam ini memiliki gejala lidah merah seperti stroberi, sakit tenggorokan, ruam kulit, dan demam tinggi. Penyebab lain yang mungkin saja terjadi adalah:

    • infeksi bakteri lain terhadap lidah
    • penyakit kawasaki
    • defisiensi vitamin B atau asam folat
    • gangguan pembekuan darah
    • penyebab lain (kanker masih mungkin tapi sangat kecil)
    Saya sarankan anda cek anak anda ke dokter gigi spesialis penyakit mulut. Pemeriksaan mulut dan tes laboratorium akan dilakukan untuk memastikan penyakit yang diderita. Sementara waktu anda dapat melakukan hal berikut:
    • memberikan minum air putih yang cukup (1 liter per hari)
    • memberikan makanan yang mengandung banyak vitamin B dan asam folat seperti sayur, buah, daging, dan kacang-kacangan
    • memberikan obat pereda panas sesegera mungkin sebelum muncul gejala lidah seperti paracetamol
    Semoga membantu, dr. Dennis Jacobus