Tanya Dokter

  • Trakeostomi pada penderita miastenia gravis

  • Selamat siang dok. saya hanya ingin minta pendapat saja. ayah saya penderita miastenia gravis, sudah 4 bulan ini. awalnya baik2 saja, gejala yang timbul hanya di suara sengau, kelopak mata sering menutup sendiri, serta otot wajah sebelah kaku. pengobatannya dengan obat mestinon. sampai pada akhirnya MG ini menyerang otot pernafasan, sehingga ayah saya sekarang dalam keadaan koma karena gagal nafas, dan dipasang ventilator. it's been about 2 weeks my dad in ICU, dan skrg sudah sadar, tapi masih kesulitan nafas walaupun sudah dipakaikan ventilator. dokter menyarankan untuk trakeostomi untuk memperlancar nafasnya. apakah itu perlu? memang saya pernah baca di artikel yayasan MG, ada memang bbrapa pasien dilakukan operasi trakeostomi untuk membantu bernafas. apa dampak baik & buruk dari trakeostomi ini? apa selamanya akan terpasang alat lubang di leher ayah saya? apa ayah saya masih bisa bicara walaupun sudah terpasang trakeostoma tsb? perawatannya gimana? trims dok.

    Terima kasih Wadira Syabilla Utami atas pertanyaannya. Miastenia gravis (MG) merupakan suatu penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang suatu daerah tempat hubungan saraf dan otot. Hal ini akan menyebabkan orang dengan MG mengalami kelemahan fungsi otot. Kelamahan fungsi otot ini paling sering pertama kali dirasakan pada otot mata sehingga mata sulit untuk dibuka / cenderung menutup. Tidak hanya otot mata, lama kelamaan otot-otot lain pun akan mengalami kelemahan termasuk otot pernafasan. Mestinon berisi piridostigmin yang merupakan obat untuk mengatasi MG. Memang yang dikhawatirkan dari MG adalah kelemahan otot-otot pernafasan sehingga pasien kesulitan bernafas. Trakeostomi merupakan tindakan membuat lubang untuk langsung dimasukan selang ke dalam saluran pernafasan. Hal ini bertujuan agar oksigen dapat masuk dengan cukup ke saluran pernafasan pasien. Trakeostomi ini tidak hanya dilakukan pada kasus MG. Keputusan untuk melakukan trakeostomi harus berdasarkan penilaian langsung dokter khususnya dokter spesialis saraf (yang menangani MG pada Ayah Anda) dan juga dokter spesialis anastesi (dokter ini yang bertanggung jawab pada pasien-pasien ICU). Dampak baik dari trakeostomi tentu saja agar oksigen yang masuk ke dalam tubuh Ayah Anda cukup, karena jika oksigen tidak cukup, maka akan terjadi gangguan metabolisme dalam tubuh yang dapat berbahaya. Hal ini dapat diketahui dengan pemeriksaan analisa gas darah pasien, yaitu berupa pH, kadar oksigen, dan lainnya. Dampak buruk dari trakeostomi berupa infeksi (karena setiap prosedur invasif pasti mempunyai risiko), selama di trakeostomi juga Ayah Anda akan tidak dapat mengeluarkan suara, dan tidak nyaman. Perawatan trakeostomi nantinya akan diajarkan oleh dokter spesialis anastesi yang bertugas, yang terpenting adalah menjaga kebersihannya. Alat tersebut akan dilepas jika memang pasien sudah dapat kembali bernafas dengan baik. Karena itu, pemasangan alat tersebut bisa selamanya, bisa juga dilepas (tergantung kondisi pasien). Anda dapat berdiskusi dengan dokter spesialis saraf serta dokter spesialis anastesi mengenai hal ini. Tentu saja dokter mempunyai pertimbangan tersendiri sehingga akhirnya memutuskan untuk melakukan trakeostomi. Anda juga dapat membaca artikel terkait: Miastenia gravis Demikian jawaban dari saya, semoga membantu dr. Andika Surya