Tanya Dokter

  • Apakah pengobatan TBC boleh ditunda?

  •  DE LOTZ
    Anggota

    PaK Dokter, Saya mau tanya. tentang TBC. Mendadak saya diinformasikan oleh Dokter Paru atas Masalah Bunda Saya terkena TBC. Sebenarnya Awalnya Bunda Masuk RS karena badan kecapean lemas dan diinfus yang saya yakin adalah pertolongan paling cepat mengingat kondisi bunda melemah sekali karena kecapean. Ibunda sering melakukan pengecekan ke dokter untuk hypertensi dan Diabetes secara rutin dengan mengkonsumsi obat Dokter.  Sekarang Bunda di rawat di RS dan sudah mulai membaik dalam arti bisa berbicara tapi masih tidak bisa jalan dan dirawat oleh Dokter Internal. dan kadang makan obat muntah. dikarenakan pas dirawat saya melihat dia masih batuk walaupun dari yang biasa kami kunjungi sudah berikan obat. saya memberitahu Dokter di RS. akhirnya di recomendasi Ke Dokter Paru dan Dokter Paru menganjurkan segera melakukan perawatan untuk 4 macam obat TBC setelah melihat hasil scan. yang saya sendiri syok kok bisa nyokap saya terkena positif TBC. Sesuai yang saya baca efek samping untuk obat TBC ada yaitu bisa menyebabkan mual, demam nafsu makan. jadi kondisi bunda umur 70 tahun yang masih belum fit dengan kadang gula darah naik turun mencapai 204 jam 24.10 pm  dan sudah dipakai perawatan insulin  dan juga tekanan darah sampai 160,90 apakah saya harus melakukan perawataan TBC yang saya khawatirkan akan menghasilkan kondisi dia yang masih lemah. apakah resikonya tinggi Dokter mengingat kondisi dia sekarang, dan juga apakah Perawatan obat TBC bisa ditunda sampai Bunda Bisa berjalan dengan normal baru dilakukan. Langkah apa yang saya harus ikuti. Anjuran Dokter Paru segera harus kondisi di Scan. Paru kanan terkena virus dan paru kiri masih ok. Semoga bisa mendapatkan jawaban secepatnya mengingat saya harus memutuskan yang terbaik. Terima kasih sebelumnya PAK DOKTER

    Hai.. Jika memang positif terkena TBC, memang harus segera dilakukan pengobatan intensif selama minimal 6 bulan dengan obat-obatan seperti Rifampicin, INH, Etambutol dan Pirazinamid. Pengobatan tersebut tidak boleh putus ditengah jalan, dikarenakan akan mengakibatkan kuman TBC menjadi kebal dan lebih kuat sehingga menyulitkan untuk pengobatan selanjutnya. Pada diabetes memang sering tidak ada gejala TBC sama sekali, batuk mungkin hanya sesekali, lebih sering gejala seperti lemas, meriang-meriang saja. Jadi sering seseorang dengan diabetes kaget ternyata juga terkena TBC. Diabetes dapat mengakibatkan rendahnya daya tahan tubuh dan terjadi kadar gula yang tinggi, sehingga mudah terkena infeksi, salah satunya infeksi TBC, dimana gula pada darah merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman TBC. Dengan adanya diabetes, TBC dapat lebih menjadi mudah komplikasi karena daya tahan tubuh yang menurun tadi. Pada penderita DM biasanya pengobatan TBC diperlukan waktu lebih lama karena kuman TBC lebih kuat dan lebih sering kebal terhadap obat. Oleh sebab itu dibutuhkan pengobatan bersamaan antara DM dan TBC. Dengan kadar gula darah yang turun otomatis daya tahan tubuh membaik sambil pengobatan TBC nya tetap berjalan. Salah satu efek samping obat TBC memang dapat menyebabkan mual, gangguan fungsi hati, dan lemas. Namun harus dipertimbangkan lebih besarnya manfaat pengobatan daripada efek samping. Anda dapat melakukan konsultasi lebih lanjut untuk penyakit DM, hipertensi pada dokter penyakit dalam dan TBC pada dokter paru. Di bawah ini bisa dibaca ulasan mengenai Diabetes mellitus (DM) dan Tuberkulosis. Diabetes melitus Tuberkulosis Semoga membantu ya. Sehat selalu dan lekas sembuh. Terima kasih. dr.Yan william