Tanya Dokter

  • Apakah saya menderita ADHD atau gangguan hiperaktif?

  • Saya sekarang sudah berumur 20 tahun. Pertama kali mendengar tentang ADHD sekitar 3 tahun yang lalu. Awalnya yang saya tahu adalah penderita ADHD adalah orang yang hyperaktif dan susah belajar, sehingga saya menuduh adik saya sebagai penderita ADHD (karena dia sangat hyperaktif dan susah belajar, sehingga saya ingin membantu dia). Namun seiring waktu, saya terus menerus melakukan research tentang apa itu ADHD dan bagaimana menyembuhkannya, saya mulai terekspos dengan pengertian ADHD lebih dalam dan curiga saya juga memilikinya. Tapi apapun itu, saya merasa sangat susah untuk konsentrasi dan sangat cenderung procrastinate.

    Beberapa simptom yang saya alami antara lain :

    1. saya sangat mudah lupa apa yang sedang saya lakukan sekarang. Misalnya ketika saya ingin masak, saya akan menyipakan bahan2 masak, lalu menyiapkan alat2, lalu masak seperti itu, namun ditengah2 memasak itu saya kaget kalau aku sedang masak ("sejak kapan aku masak ya? perasaan tiba2 udah dalam posisi memasak")

    2. Sangat susah bagi saya untuk membaca, terutama bacaan yang panjang ataupun bacaan yang desainnya rumit. Saya senang sekali membaca novel. sudah banyak novel yang saya baca. Namun misalnya ketika saya sedang membaca, saya membaca setiap kata yang tertera dalam halamn tersebut tapi pikiran entah kemana, jadi tahu tahunya, saya sudah membaca 5 halaman novel tanpa sadar "tadi aku sudah baca apa ya". jadi jika sebuah novel berisi 100 halaman, kemungkinan besar yang saya benar2 baca hanya 60 halaman saja.

    3. Saya sangat suka menunda2 waktu. Seolah-olah saya tidak bisa langsung mengerjakan apa yang seharusnya saya lakukan. tetapi jika sudah mendekati deadline, saya bisa mengerjakannya dengan nonstop.

    saya ada baca kalau ADHD itu ngefek sama prestasi sekolah, namun nyatanya sejak kecil hingga sekarang di perkuliahan nilai saya bagus semua.

    4. Saya ada beberapa kebiasaan yang repetitif dan tidak bisa hilang. contohnya adalah saya suka menggigit lidah saya sampai berdarah, dan saya suka menggaruk2 kepala dan mencabut rambut dari akar 9padahal tidak gatal sama sekali, tp jadi kebiasaan)

    5. saya suka lupa kosa kata ketika sedang berbicara. dan ini sangat sering sekali terjadi. Misalnya saya tahu ada kata "pinggir pantai", tetapi ketika saya sedang berbicara kepada temanku, tiba2 kata pinggir pantai itu hilang dari otak saya. Ini sangat menyebalkan karena di perkuliahan ini saya sangat sering melakukan banyak presentasi, dan setiap kali presentasi saya bisa bengong didepan dosen karena lupa kata2nya.

     

    sebenarnya masih ada banyak lagi tapi sekian dulu deh :D saya sih maunya nanya apakah ada home terapi yang bisa dilakukan, karena ini sangat menyusakan kegiatan perkuliahan saya. saya merasa tidak bisa mengontrol diri saya. Saya seharusnya melakukan presentasi UAS saya namun malah ke website ini :'D

    sekian, terima kasih :D

    Hai ,   Untuk mendiagnosa ADHD dibutuhkan pemeriksaan dan penilaian terpadu dari kebiasaan anak di rumah yangbisa didapat dari orang tua dan kakak, ahli psikolog/ psikiater, pemeriksaan fisik dan psikis dari dokter anak serta melibatkan pihak lain seperti sekolah / guru. ADHD tidak bisa didiagnosa hanya berdasarkan pengamatan 1 pihak saja. Pada umumnya ADHD diketahui saat anak mulai masuk sekolah atau berada pada 1 lingkungan baru yang asing. Anak yang menderita ADHD akan mengalami susah konsentrasi, susah diam bahkan bisa sampai mengganggu dan sulit fokus pada 1 hal. Mereka akan diam saat ditegur namun biasanya tidak akan bertahan lama dan karena sulit berkonsentrasi maka akan melakukan kegiatan lain / menganggu orang lain. Mendiagnosa ADHD pada orang dewasa sangatlah sulit untuk dilakukan bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa tidak mungkin terjadi ADHD pada dewasa tanpa adanya keluhan yang terdiagnosa saat masih kecil. ADHD tidak bisa disembuhkan namun bisa dikontrol agar anak mampu produktif. Beberapa pendekatan akan diperlukan mulai dari rumah, sekolah sampai masyarakat sekitarnya dengan cara :

    1. Obat-obatan.
    2. Terapi prilaku dan terapi prilaku kognitif.
    3. Terapi psikologis.
    4. Homeschooling.
    5. Latihan interaksi sosial.
      Semoga membantu.   Dr. Yusi