Tanya Dokter

  • Apakah wajib khitan/sunat bagi penderita fimosis?

  •  Unzilatul Ula
    Anggota

    Halo dok, saya ingin bertanya. Satu minggu yang lalu saya pergi ke dsa karena anak saya yang berusia 10 bulan sakit batuk dan pilek. Dokter tersebut juga memeriksa bagian kelamin anak saya dan memberitahukan bahwa anak saya menderita fimosis. Dokter tersebut menyarankan untuk khitan. Yang ingin saya tanyakan apakah khitan adalah jalan satu-satunya bagi penderita fimosis? Mengingat anak saya tidak mengalami masalah saat BAK dan tidak ada gejala yang timbul akibat fimosis. Anak tidak menangis dan tidak mengejan saat BAK. Terima kasih.

    Hai Unzilatul,

    Terimakasih telah bertanya ke Alodokter.

     

    Fimosis merupakan suatu kondisi dimana kulup penis (preputium) melekat kencang di kepala penis dan tidak dapat ditarik ke belakang. Kondisi ini paling sering dialami oleh balita dan anak-anak.

    Fimosis yang muncul pada usia 10 bulan bisa jadi merupakan hal yang ringan. Seiring dengan bertambahnya usia anak, diharapkan perlekatan ini akan merenggang dengan sendirinya. Meski demikian, pada sebagian kasus, fimosis bisa bertahan hingga usia remaja atau bahkan dewasa. Jika tidak ditangani dengan baik, maka fimosis bisa menyebabkan berbagai komplikasi, di antaranya:

    • Meningkatnya risiko infeksi kelamin
    • Penis membengkak, nyeri, kemerahan
    • Gangguan buang air kecil
    • Gangguan ereksi dan hubungan seksual, serta lain sebagainya

    Maka dari itu, meski belum tampak adanya keluhan (seperti gangguan BAK, gangguan ereksi, dan sebagainya), guna mencegah kemungkinan komplikasi di atas, perlu dilakukan prosedur sirkumsisi (sunat). Tujuannya adalah untuk melepaskan perlekatan di kulit penis tersebut. Tidak ada batasan minimal pada usia berapa anak boleh disunat. Karenanya, jika sunat bisa dilakukan lebih dini sejak diagnosis fimosis ditegakkan, maka kemungkinan komplikasi di atas pun bisa semakin cepat dicegah.

    Di samping mengatasi fimosis dan mencegah komplikasinya, sunat juga memiliki berbagai fungsi lainnya, di antaranya yakni menurunkan risiko penularan infeksi (termasuk infeksi menular seksual), menurunkan risiko infeksi saluran kemih, kanker penis, dan sebagainya.

    Sebaiknya, Anda berkonsultasi langsung pada dokter spesialis anak Anda ya.. Jika Anda masih merasa ragu, Anda bisa mencari second opinion dengan memeriksakan kembali anak Anda ke dokter spesialis anak lainnya.

    Sementara itu, ajari anak Anda untuk tidak menarik-narik atau mengulur-ulur kulit penisnya. Selain itu, biasakan anak selalu menjaga kebersihan organ intimnya.

    Semoga membantu ya..

     

    dr. Nadia Nurotul Fuadah