Tanya Dokter

  • Aturan minum obat tbc kelenjar

  • Hallo, saya rizky 21th 2 hari yg lalu saya di diagnosa tbc kelenjar. Saya diberi resep obat sebelum dan sesudah makan. Saya ingin bertanya, 1. apakah aturan yg tepat untuk minum obat harus di waktu yg sama setiap hari? 2. Berapa jeda waktu meminum obat tsb atau bisa di waktu bersamaan? *(Misal: sblm makan minum rifampicin (1×1) & isoniasid (1×1), kemudian sesudah makan langsung minum ethambutol hci (1×1 1/2), pyrazinamide (1×2), vitamin curcuma fct (2×1) diwaktu sesudah makan bersamaan) 3. Sedangkan saya punya pekerjaan dengan sistem 2 shift, bolehkah waktu minumnya berubah setiap minggu karna untuk kerja pasti badan lemas, mual, pusing .saya antisipasi minum obat pas istirahat di rumah, waktu makan jeda sebelum tidur? Terimakasih.

    Hai,

    TBC kelenjar merupakan salah satu penyakit kelenjar getah bening yang diakibatkan oleh kuman tuberkulosis. Kuman tuberkulosis utamanya masuk ke dalam tubuh melalui saluran napas dan kemudian berkembang di dalam paru-paru sebelum menyebar ke organ tubuh lain seperti kelenjar getah bening setempat. Kuman ini memiliki dinding yang tebal dan relatif sulit diberantas, karena itu pengobatan perlu dilakukan sekurangnya 6 bulan untuk memastikan ketuntasan berobat dan mencegah kekambuhan.

    Obat anti-TBC yang biasa diberikan ialah isoniazid (INH), rifampisin, etambutol dan pyrazinamide. Keempat obat ini dapat diberikan sendiri-sendiri atau dalam kombinasi dosis tetap (KDT), yaitu satu tablet yang telah mengandung 4 komponen obat tersebut. Idealnya, obat ini diminum setiap hari pada waktu yang sama untuk menjaga kadar obat tetap sama dalam darah sepanjang hari dan mencegah kelupaan minum obat. Tidak ada anjuran khusus apakah obat perlu dijeda setiap kali minum; yang penting ialah obat tersebut diminum semuanya setiap hari tanpa terlupakan sampai sekurangnya 6 bulan.

    Jika selama pengobatan muncul efek samping seperti mual, lemas, tak enak badan, muntah-muntah, kebas, rasa terbakar di tungkai dan kuning, kunjungilah Dokter secepatnya untuk menentukan apakah gejala tersebut betul disebabkan oleh efek samping obat TBC. Dengan demikian, penanganan segera bisa dilakukan dan hal ini mencegah putus berobat karena dihentikan oleh pasien sendiri.

    Sekian, semoga bermanfaat.

    dr. Radius Kusuma