Tanya Dokter

  • BAB tidak tuntas dan maag

  • Hai dok, saya perempuan usia 22th. Sejak kecil BAB saya tidak setiap hari, seminggu sekitar 2-3x. Apakah itu normal dok? Selain itu, sekitar selama 2 minggu ini BAB saya tidak tuntas dok, seperti ada yg tersisa (maaf) di dubur. Saya menderita magh, apakah BAB saya yg keras ini ada kaitannya dengan magh dok? Bagaimana cara mengatasinya ya dok? Terimakasih atas jawaban dokter :)

    Dear Fitri, Buang air besar dikatakan normal bila feses yang keluar dengan konsistensi normal atau lunak, tidak encer atau setengah encer, dengan frekuensi 3 hari sekali hingga 3 kali sehari. Lebih dari 3 hari sekali dengan feses keras disebut konstipasi, lebih dari 3 kali sehari dengan feses cair atau setengah cair disebut diare. Konstipasi adalah sulit buang air besar karena konsistensi feses yang keras dan padat. Penyebabnya bisa bermacam-macam seperti:

    • kurang minum
    • kurang makan makanan yang mengandung serat
    • kebiasaan menunda buang air besar
    • sumbatan di usus
    • gangguan saraf di usus
    • diabetes
    • gangguan hormon tiroid
    • kanker usus
    • stres psikologis seperti cemas dan depresi
    • dsb.
    Tidak ada kaitan langsung antara sakit maag dengan sulit buang air besar. Sebaiknya konsultasikan keluhan sulit buang air besar dan sakit maag ini kepada dokter dimana dokter akan menelusuri riwayat keluhan Anda secara rinci dan melakukan pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan perut. Pemeriksaan penunjang seperti USG mungkin akan dianjurkan untuk membantu menegakkan diagnosis. Berikut tips yang dapat Anda lakukan di rumah untuk membantu meringankan gejala konstipasi Anda:
    • minum air putih dalam jumlah cukup sekitar 8 gelas perhari. Air akan membantu melunakkan konsistensi feses
    • perbanyak makan sayuran karena serat yang ada di dalam sayuran dapat memperlancar buang air besar
    • olahraga secara teratur
    • kelola stres dengan baik
    Berikut laman yang dapat Anda baca: Konstipasi Sakit maag Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat. Terima kasih dan salam, dr. Rony Wijaya