Tanya Dokter

  • Benjolan di vagina dan semakin membesar

  • Penyakit apa benjolan pada pinghir vagina sebelah kanan. Semakin hari semakin besar. Cara mengobatinya gimana, dan di sebabkan oleh faktor apa saja ?

    Hai Diky,

    Terimakasih telah bertanya ke Alodokter.

     

    Mendiagnosis suatu benjolan memerlukan inspeksi (pengamatan), palpasi (perabaan), dan berbagai pemeriksaan lainnya, misalnya biopsi jaringan. Jadi, tidak cukup hanya berdasarkan keterangan singkat seperti ini ya..

    Ada berbagai kondisi yang bisa menyebabkan benjolan di pinggir vagina, di antaranya yakni:

    • Kista Bartholin (kantung berisi cairan di kelenjar Bartholin)
    • Vulvovaginitis (radang bibir vagina)
    • Abses Bartholin (kantung berisi nanah di kelenjar Bartholin)
    • Chancroid (infeksi Haemophyllus ducreyi)
    • Kista duktus Gartner (kantung berisi cairan di duktus Gartner)
    • Kutil kelamin (infeksi Human Papilloma Virus)
    • Lipoma (tumor jinak dari sel lemak kulit)
    • Kista sebasea (kantung berisi cairan di kelenjar minyak)
    • Kista duktus Skene (kantung berisi cairan di duktus Skene)
    • Sifilis (infeksi Treponema pallidum)
    • Mioma geburt (tumor jinak sel otot rahim)
    • Keganasan (kanker), dan sebagainya

    Perlu diperjelas lagi, bagaimana karakteristik benjolan yang Anda maksud, mulai dari ukurannya, warnanya, konsistensinya, mobilitasnya, dan berbagai keluhan lain yang menyertainya. Pengobatan dan faktor apa saja yang mempengaruhinya tentu bisa sangat bervariasi tergantug dari penyebab benjolannya.

    Karenanya, kami sarankan, periksakan langsung keluhan Anda ke dokter guna memperoleh penanganan yang tepat.

    Sebagai langkah awal, hindari memanipulasi benjolan secara berlebihan, misalnya memencet, mencungkil, apalagi mengoleskan obat tanpa petunjuk dokter. Tidak lupa, jaga kesehatan organ intim dengan cara berikut:

    • Bersihkan setiap habis buang air
    • Jauhi seks bebas
    • Kompres benjolan dengan air hangat
    • Gunakan celana yang bersih, tidak ketat, berbahan lembut, dan menyerap keringat
    • Jangan gunakan sabun pewangi vagina

    Semoga membantu ya..

     

    dr. Nadia Nurotul Fuadah

    Hai Diky,

    Terimakasih telah bertanya ke Alodokter.

     

    Mendiagnosis suatu benjolan memerlukan inspeksi (pengamatan), palpasi (perabaan), dan berbagai pemeriksaan lainnya, misalnya biopsi jaringan. Jadi, tidak cukup hanya berdasarkan keterangan singkat seperti ini ya..

    Ada berbagai kondisi yang bisa menyebabkan benjolan di pinggir vagina, di antaranya yakni:

    • Kista Bartholin (kantung berisi cairan di kelenjar Bartholin)
    • Vulvovaginitis (radang bibir vagina)
    • Abses Bartholin (kantung berisi nanah di kelenjar Bartholin)
    • Chancroid (infeksi Haemophyllus ducreyi)
    • Kista duktus Gartner (kantung berisi cairan di duktus Gartner)
    • Kutil kelamin (infeksi Human Papilloma Virus)
    • Lipoma (tumor jinak dari sel lemak kulit)
    • Kista sebasea (kantung berisi cairan di kelenjar minyak)
    • Kista duktus Skene (kantung berisi cairan di duktus Skene)
    • Sifilis (infeksi Treponema pallidum)
    • Mioma geburt (tumor jinak sel otot rahim)
    • Keganasan (kanker), dan sebagainya

    Perlu diperjelas lagi, bagaimana karakteristik benjolan yang Anda maksud, mulai dari ukurannya, warnanya, konsistensinya, mobilitasnya, dan berbagai keluhan lain yang menyertainya. Pengobatan dan faktor apa saja yang mempengaruhinya tentu bisa sangat bervariasi tergantug dari penyebab benjolannya.

    Karenanya, kami sarankan, periksakan langsung keluhan Anda ke dokter guna memperoleh penanganan yang tepat.

    Sebagai langkah awal, hindari memanipulasi benjolan secara berlebihan, misalnya memencet, mencungkil, apalagi mengoleskan obat tanpa petunjuk dokter. Tidak lupa, jaga kesehatan organ intim dengan cara berikut:

    • Bersihkan setiap habis buang air
    • Jauhi seks bebas
    • Kompres benjolan dengan air hangat
    • Gunakan celana yang bersih, tidak ketat, berbahan lembut, dan menyerap keringat
    • Jangan gunakan sabun pewangi vagina

    Semoga membantu ya..

     

    dr. Nadia Nurotul Fuadah