Tanya Dokter

  • Anak tidak mau tengkurap setelah suntik imunisasi

  • Dok saya mau tanya 2 hari yang lalu anak saya suntik dpt hb 2 . anak saya sudah pandai tengkurap. Setelah di suntik dia tidak mau terkurap apa alasan nya dok

    Hai Ariyana,

    Terimakasih telah bertanya ke Alodokter.

     

    Jika menilik pada kurva perkembangan Denver, normalnya, bayi akan bisa telungkup mulai dari usia 2 hingga 6 bulan. Karenanya, perlu diperjelas dulu berapa usia anak Anda saat ini?

    Bayi tidak mau telungkup bisa terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya adalah karena rasa tidak nyaman di tubuhnya. Keluhan ini mungkin juga diakibatkan oleh KIPI, yakni kejadian ikutan pasca imunisasi

    Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan KIPI, KIPI merupakan semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Penyebabnya bisa bervariasi, di antaranya:

    • Kesalahan teknik pelaksanaan
    • Reaksi suntikan
    • Induksi vaksin
    • Koinsiden (kejadian yang terjadi secara kebetulan setelah imunisasi, namun sesungguhnya penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan imunisasinya), dan sebagainya

    Gejala KIPI bisa bervariasi, di antaranya:

    • Demam
    • Rasa tidak nyaman di lokasi bekas suntikan (kemerahan, nyeri, bengkak, bernanah)
    • Gangguan sistem syaraf pusat, misalnya kelumpuhan, meningitis, ensefalitis
    • Alergi, misalnya berupa ruam kulit kemerahan, bengkak-bengkak tubuh, syok, dan sebagainya

    Namun, selain karena KIPI, tidak mau telungkup yang anak Anda alami mungkin juga disebabkan oleh hal lain, misalnya lemas karena lapar, kondisi alas yang tidak nyaman (seperti terlalu dingin, terlalu empuk), dan sebagainya.

    Sebaiknya, Anda memeriksakan anak Anda langsung guna memperoleh penanganan yang tepat ya..

    Sementara itu, Anda sebaiknya beri anak Anda ASI eksklusif untuk membantu menjaga stamina dan meningkatkan saya tahan tubuhnya. Tidak lupa, jaga lingkungan sekitar anak agar senantiasa bersih dan nyaman.

    Semoga membantu ya..

     

    dr. Nadia Nurotul Fuadah