Tanya Dokter

  • Pengobatan penyakit TB kelenjar di leher

  •  datin
    Anggota
    Dokter... Saya mau tanya Saya punya penyakit kelanj tb di leher Waktu itu pernah saya berobat ke dokter dan di suruh minum obat selama 9 bulan tapi saya merasa gak kecil kecil kelenjarnya Jadi aaya berhenti berobat 2015 Setelah 2 tahun ini saya baru merasakan sakit di pernafasan dan di leher Apakah saya harus berobat kembali?? Dan haruskah saya ceritakan keronologi pengobatan saya di awalnya Minta pendapat dokter,terima kasih

    Hai Datin. Terimakasih untuk pertanyaan yang anda berikan.

    Penyakit kelenjar TB disebabkan karena adanya infeksi bakter Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis dapat mengenai paru- paru ataupun ekstraparu (tulang, kelenjar getah bening, otak, ginjal). TB kelenjar dapat mengenai kelenjar getah bening pada daerah leher, ketiak, ataupun selangkangan. selain pembesaran kelenjar getah bening juga disertai keluhan khas TB lainnya yaitu penurunan berat badan, keringat malam, demam.

    Pengobatan untuk TB kelenjar ini berkisar antara 9-12 bulan. Yang akan diberikan ialah obat anti tuberkulosis yaitu rifampicin, isoniazid, pyrazinamide, dan ethambutol.. Pemberian obat ini dosisnya disesuaikan dengan usis, berat badan, dan keadaan klinis penderita.

    Dalam pengobatan TB kelenjar harus secara rutin dan tidak boleh terputus. Jika terputus maka ditakutkan pasien belum sembuh benar dan bakter masih dapat menginfeksi dan menularkan ke orang lain. Selain itu ketaatan berobat juga menghindari dari resistensi (kekebalan) bakteri terhadap obat antituberkulosis. 

    Sebaiknya anda kembali memeriksakan diri ke dokter dan menjelaskan kronologis penyakit anda dari awal dulu hingga keadaan saat ini. Tidak lupa untuk menceritakan bahwa anda sudah pernah berobat tetapi tidak tuntas karena pengobatan yang diberikan akan berbeda. Periksakan diri anda ke dokter spesialis paru atau dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan TB lainnya seperti pemeriksaan dahak, USG, dan rontgen paru untuk melihat adakah penyebaran ke paru atau tempat lain.

    Semoga bermanfaat

    dr. Iriyanti