Tanya Dokter

  • Mengenai ilmu psikiatri

  •  Razi Muhara Z
    Anggota

    apakah benar dok ilmu Psikatri itu termasuk pada "pseudo science" ? karena pembuktian dignosanya sampai sekarang ini, tidak  ditunjang oleh pemeriksaan penunjang seperti  laboratorium, EEG, MRI dll, Diagnosa psikiatri itu hanya berdasarkan anamnesa/alloanamnesa terhadap gejala dan tanda yang ada kemudian dicocokan dengan buku DSM (DIAGNOSIS STATISTIC MANUAL yang merupakan "Bible" nya psychiatry yang disusun berdasarkan voting/konsensus para ahli di Assosiasi Psikiatri Amerika) yng ditunjang oleh perusahaan-perusahaan farmasi, .yang semua diagnosanya pakai kata disorders dibelakangnya. Bahkan anak anak yang kesulitan dalam menghitung dikategorikan kedalam gangguan kejiwaan dengan diagnosa mathematical, disorders, aneh rasanya. bisa-bisa orang yang normal dicap ada gangguan kejiwwan lagipula dalam buka tesebut tidak ada guide untuk therapy. oleh karena itu banyak yang menyangsikan hasil therapy psikiatri tersebut, coba ditanya apakah ada yang sembuh total dari gila setelah ditangani oleh psikiater ? pasti akan tergantung terus dengan obat ? Tentu hal inilah yang disenangi oleh perusahaan farmasi. hal ini yang menimbulkan kontroversi dalm ilmu  Psikiari ini , sehingga ada yang mengusulkan agar psichitry ini dihapus saja sebagai ilmu kedokteran bahkan ada organisasi komisi hak azai manusia UNCHR jelas jelas anti terrhadap  psikiatri ini  

    Salam,

    Psuedoscience menurut Oxford dictionaries adalah  A collection of beliefs and practices mistakenly  regarded as being based on scientific method. Atau psuedoscience merupakan suatu kumpulan keyakinan atau praktek yang dianggap salah karena tidak berdasarkan metode ilmiah.

    Dimana metode ilmia merupakan observasi sistemik, penilaian, dan penelitian, serta formulasi, pengujian dan modifikasi dari hepotesa.

    Dengan demikian, melihat definisi diatas, psikitrik  menurut pertanyaan Anda merupakan suatu psesudoscience karena tidak berdasar dan hanya berdasarkan kesepakatan para ahli psikiterik. Kondisi ini sudah lama menjadi isu di kalangan para ahli keilmuan berkaitan metodologi keilmuan, seperti yang disampaikan oleh Karl Popper berkaitan tentang teori relativitas, teori Freud.

    Berkaitan dengan psuedoscience ilmu psikitri, tergantung dari mana Anda melihat. Apakah melihat dari adanya ekonomi kapitalis yang menguasai industri obat, dalam hal ini obat psikiatri ataukah sudut pandang kita terhadap perkembangan ilmu psikitri di dunia. 

    Para ahli psikitri pun memahami banyaknya kekurangan dalam penggolongan gangguan kesehatan jiwa dalam DSM IV, namun kondisi ini merupakan suatu bentuk usaha dalam memberikan suatu gambaran psikiatrik yang lebih baik.

    Bila kita mempunyai definisi dan penggolongan psikiatrik yang lebih baik, maka keilmuan yang kita tentang psikiatrik mungkin akan di terima dan digunakan di dunia medis bidang psikitrik. Masalahnya adalah kita tidak dapat berkutat dalam bentuk sudut pandang science dan pseudo ataupun non science. Namun kita harusnya  perbanyak peran kita dalam membantu saudara kita yang mempunyai gangguan kesehatan jiwa, dimana saat ini dasarpemikiran  masih menggunakan konsensus dari DSM IV dengan prosedur klinis yang tetap digunakan dalam pembelajaran di kedokteran ataupun dalam praktek sehari-hari. Dengan keilmuan inipun, kita melihat, bagaimana masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan mental dapat kembali ke keluarga dengan senyum serta bahagia.

    Dengan demikian, menurut saya, saya akan menolak DSM IV bila saya mempunyai keilmuan yang lebih baik dari Freud atau konsensus ahli jiwa sedunia. Namun bila saya tidak mempunyai keilmuan yang lebih baik dari konsesnsus yang ada, maka saya akan berusaha membantu manusia dengan keilmuan yang sudah ada demi manfaat yang lebih baik. Sehingga ini adalah peluang semua orang dari sudut pandang yang posistif untuk menyempurnakan keilmuan psikitri demi manfaat yang lebih baik.

    Demikian info yang bisa kami sampaikan, baca juga  mental illness and diagnostic.

    dr. Ulfi