Kontroversi Kacang Kedelai Terkait Alergi Bayi dan Kemandulan

Sebagai bahan makanan dengan komposisi protein lengkap, kacang kedelai kerap dijadikan sumber alternatif asupan dalam bentuk susu formula untuk bayi hingga makanan untuk orang dewasa. Tetapi di balik manfaatnya, ternyata kacang kedelai memiliki sejumlah kontroversi.

Terdapat berbagai klaim manfaat dan efek samping yang sering didengar terkait konsumsi kacang kedelai, sebagai bahan dasar makanan maupun susu. Meski sebagian besar belum mendapat pengesahan secara klinis, tapi Anda sebaiknya perlu mencermati semua kontroversi tersebut.

kontroversi kedelai-alodokter

Susu Formula Kacang Kedelai untuk Bayi

Susu formula berbahan dasar kacang kedelai sering digunakan sebagai pengganti ASI, terutama pada bayi yang alergi terhadap susu formula berbahan dasar susu sapi, atau saat bayi kesulitan mencerna laktosa. Alergi ini biasanya ditandai dengan diare atau menangis setelah menyusu karena perutnya yang menjadi tidak nyaman.

Meski begitu, Anda sebaiknya tidak segera mengganti pemberian ASI dengan susu formula kacang kedelai kecuali telah direkomendasikan oleh dokter. Bagaimanapun, pada enam bulan pertama kehidupannya, paling baik bagi bayi untuk mendapatkan ASI sebagai asupan nutrisi utama.

Selain itu, terdapat beberapa alasan mengapa pemberian susu formula kacang kedelai perlu diberikan dengan berhati-hati. Pertama, karena susu formula berbahan dasar kacang kedelai tidak lebih unggul dibandingkan susu formula berbahan dasar lain. Kedua, susu formula berbahan dasar kacang kedelai juga mengandung glukosa yang dapat lebih berbahaya terhadap kesehatan gigi bayi dibandingkan laktosa yang terdapat pada susu formula berbahan dasar susu sapi.

Kacang Kedelai dan Alergi pada Bayi

Protein pada kacang kedelai turut menyebabkan alergi pada bayi. Bahkan banyak bayi yang alergi terhadap protein susu sapi ternyata juga alergi terhadap protein susu kacang kedelai. Alergi kacang kedelai dapat terjadi segera setelah bayi lahir dan dapat mereda pada usia sekitar tiga tahun. Alergi ini terjadi saat sistem kekebalan tubuh menganggap protein dalam kacang kedelai sebagai bahan berbahaya dan menciptakan kekebalan untuk melawannya.

Selain menjadi susu, kacang kedelai juga banyak digunakan sebagai bahan dasar berbagai makanan, seperti tahu, tempe, kecap, dan beberapa jenis selai kacang serta sereal. Terkadang pengidap alergi kacang kedelai sering kesulitan menghindari makanan dengan bahan dasar tersebut. Sakit perut, mual, muntah, diare, demam, gatal, bengkak, eksim, dan konjungtivitis adalah beberapa gejala alergi terhadap kacang kedelai.

Kacang Kedelai terhadap Perkembangan dan Kemampuan Reproduksi Pria

Sebagian orang menduga-duga bahwa kandungan phytoestrogens di dalam susu kacang kedelai dapat berdampak kepada perkembangan organ reproduksi, terutama pada bayi lelaki. Struktur kimia pada phytoestrogens diprediksi serupa dengan hormon estrogen pada perempuan.

Sebuah penelitian memunculkan anggapan bahwa pria yang mengonsumsi makanan berbahan dasar kacang kedelai terlalu banyak akan cenderung memiliki konsentrasi sperma yang lebih rendah dibandingkan yang lebih sedikit mengonsumsinya. Meski demikian, penelitian ini tetap tidak membuktikan bahwa kacang kedelai merupakan penyebab rendahnya konsentrasi sperma. Hal ini dikarenakan faktor-faktor lainnya, termasuk obesitas, juga dapat mempengaruhi jumlah sperma. Direktur eksekutif asosiasi makanan berbahan dasar kedelai Amerika menyatakan bahwa, pria dengan kadar lemak tubuh yang tinggi kemungkinan menghasilkan estrogen lebih banyak dibandingkan pria yang kurus.

Selama belum ada penelitian yang mengonfirmasi hal tersebut, pria yang ingin mendapatkan keturunan tidak perlu membatasi konsumsi kacang kedelai. Gaya hidup yang buruk, seperti kebiasaan merokok berat dan mengonsumsi minuman keras berlebihan, lebih berisiko menyebabkan gangguan organ reproduksi dibandingkan dengan asumsi efek negatif kacang kedelai.

Kacang Kedelai dan Kesuburan Wanita

Beberapa penelitian menemukan bahwa mengonsumsi produk berbahan dasar kacang kedelai dapat menghambat kesuburan wanita. Ini dikarenakan kandungan isoflavon dalam kacang kedelai diduga dapat berdampak buruk kepada siklus menstruasi.

Namun seorang peneliti mengungkap bahwa wanita yang mengonsumsi makanan kaya kacang kedelai atau mengonsumsi suplemen berbahan dasar kacang kedelai mungkin tidak akan mengalami gangguan kesuburan. Bahkan penelitian lain menemukan bahwa diet kaya phytoestrogens, bahan yang terkandung dalam kacang kedelai, dapat menurunkan risiko kanker payudara. Meski demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi manfaat ini.

Pada akhirnya, seperti bahan makanan dan suplemen lain yang tidak 100 persen bebas risiko, Anda disarankan mengonsumsi kacang kedelai dalam porsi yang wajar agar tetap mendapat manfaat positif bagi kesehatan.