Manusia Harus Mulai Menghargai Manfaat Seledri

Di Indonesia, seledri umumnya dikenal sekadar sebagai paduan/taburan dalam makanan berkuah, seperti bakso atau sup, padahal sebenarnya manfaat seledri terhadap kesehatan telah lama ditemukan dan hingga kini kerap digunakan dalam berbagai obat-obatan untuk menangani berbagai penyakit.

Seledri adalah tanaman yang buah dan bijinya digunakan untuk obat-obatan. Tanaman seledri umumnya berukuran 60-90 cm dengan biji seledri kecil berwarna cokelat gelap dan berbau sedap yang dapat ditemukan di dalam bunga.

manfaat seledri-alodokter

Orang Yunani di masa lampau menggunakan seledri untuk membuat minuman anggur (wine) yang diberikan kepada pemenang kejuaraan atletik.  Kini, di beberapa daerah, jus seledri diproduksi sebagai obat dan minyak seledri diproduksi ke dalam bentuk kapsul.

Di masa kini, ada berbagai klaim tentang manfaat seledri selain sebagai paduan makanan. Sebagian telah terbukti positif dan sementara sebagian lain masih perlu penelitian lebih lanjut. Berikut beberapa dugaan manfaat seledri bagi kesehatan.

  • Biji seledri kemungkinan efektif untuk memperlancar dan meringankan ketidaknyamanan saat menstruasi. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian klinis menggunakan biji seledri, bunga lawing, dan saffron yang dikonsumsi selama tiga hari.
  • Mungkin efektif sebagai lotion pengusir nyamuk. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa produk lotion antinyamuk mengandung setidaknya 5 persen ekstrak seledri di samping kandungan bahan lain.
  • Bahan kimia dalam seledri dipercaya menyebabkan rasa kantuk, menurunkan tekanan darah tinggi, kadar gula darah, pembekuan darah, penumpukan cairan, serta gejala artritis. Sebagian orang percaya bahwa seledri dapat digunakan untuk menangani rematik/nyeri sendi, gout, sakit kepala, hilang nafsu makan, kelelahan, dan penurunan berat badan karena malanutrisi, membantu tubuh untuk tidur dan relaksasi, meningkatkan gairah seksual, membunuh bakteri dalam saluran kencing, serta membantu mengelola sistem kerja dalam usus. Namun belum cukup bukti medis dari manfaat ini sehingga masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
  • Sebuah penelitian menyebutkan bahwa seledri mengandung antioksidan bernama luteolin yang dapat meningkatkan daya ingat. Bahan ini juga diduga dapat mengurangi risiko yang terjadi saat penuaan, seperti peradangan pada otak dan gangguan ingatan. Namun penelitian tersebut ternyata baru diujicobakan kepada tikus. Sehingga belum dapat disimpulkan bahwa luteolin berperan meningkatkan daya ingat pada manusia.
  • Para peneliti menemukan bahwa seledri mengandung lutein. Studi yang dilakukan mengemukakan bahwa bila seledri dikombinasikan dengan bahan makanan lain yang juga kaya antioksidan (seperti bayam, brokoli, selada, tomat, jeruk, dan wortel), lutein dalam seledri dapat berperan menunurunkan risiko kanker.
  • Biji seledri mengandung berbagai kandungan, seperti flavonoids, coumarins, dan asam linoleat yang merupakan asam lemak omega-6. Biji seledri telah lama digunakan dalam dunia medis sebagai obat untuk menangani flu, demam, hingga gangguan pencernaan. Kini biji seledri umumnya digunakan sebagai bahan obat untuk melancarkan buang air kecil. Sementara belum ada bukti medis yang cukup untuk mengonfirmasi manfaat seledri untuk menangani penyakit lain, tapi penelitian menemukan bahwa biji seledri bertindak sebagai pengusir nyamuk.

Seledri bisa jadi aman dikonsumsi oleh sebagian besar orang dan diaplikasikan pada kulit sebagai pengobatan jangka pendek. Namun seledri berkemungkinan menjadikan kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari dan menyebabkan peradangan. Perhatikan bahwa biji seledri dan minyak seledri mungkin tidak aman bagi wanita menyusui dan ibu hamil.

Dalam jumlah yang sangat banyak, seledri mungkin dapat menyebabkan rahim berkontraksi.  Oleh karena belum ada penelitian tentang efek biji seledri terhadap anak, maka konsumsi biji seledri juga tidak direkomendasikan untuk anak di bawah usia 18 tahun. Selain itu, biji seledri disarankan untuk tidak dikonsumsi secara langsung setelah diambil dari tanamannya karena berisiko mengandung pestisida.

Namun meski mengandung manfaat, ternyata konsumsi seledri dalam jumlah tinggi dalam bentuk obat-obatan berisiko menyebabkan beberapa gangguan, seperti gangguan ginjal, perdarahan, tekanan darah rendah, dan gangguan sistem saraf.