Mastektomi Preventif untuk Mencegah Kanker Payudara Genetik

Mastektomi preventif merupakan prosedur medis yang bertujuan mengurangi risiko kanker payudara. Sebagaimana secara medis prosedur ini terbukti sangat bermanfaat, namun tetap dianggap sebagai prosedur bedah invasif tinggi. Dalam arti, pembedahan ini menyimpan risiko tinggi terhadap kesehatan pasien secara umum. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan dan dikonsultasikan kepada dokter secara terperinci sebelum memutuskan untuk menjalaninya.

Berdasarkan data dari Agen Riset Kanker GLOBOCAN pada tahun 2012, tercatat data wanita yang menderita penyakit kanker payudara di Asia Tenggara adalah 240 ribu jiwa. Dari angka tersebut, sekitar 110 ribu di antaranya tidak berhasil diselamatkan. Dengan harapan bisa menghindari penyakit berbahaya tersebut, operasi mastektomi preventif bisa menjadi salah satu pilihan yang dapat diandalkan. Tujuan dari operasi ini adalah menghilangkan semua jaringan payudara yang berpotensi berkembang menjadi kanker payudara.

 

Mastektomi Preventif untuk Mencegah Kanker Payudara Genetik

Kanker payudara dapat tumbuh dalam jaringan kelenjar payudara, terutama pada saluran dan lobus (kantung) air susu. Keduanya terletak di seluruh jaringan payudara dari tulang selangka hingga ke bawah iga serta dari tengah dada hingga ke bagian sisi dan bawah lengan. Pada operasi mastektomi, seluruh jaringan dari bawah kulit di daerah dinding dada dan batas pinggir dada akan dihilangkan. Namun, mustahil menghilangkan seluruh saluran susu dan lobus mengingat lokasi dan luasnya jaringan payudara.

Siapa yang Disarankan untuk Menjalani Operasi Mastektomi Preventif?

Pada umumnya, risiko wanita mengalami kanker payudara akan lebih tinggi jika:
  • Memiliki ibu, kakak/adik, anak dengan riwayat kanker payudara.
  • Berusia lebih dari 40 tahun.
  • Adanya hasil yang tidak normal pada biopsi payudara sebelumnya.
  • Melakukan terapi pengganti hormon lebih dari lima tahun setelah menopause.
  • Pemilik kromoson yang berisiko mengalami mutasi gen BRCA 1 atau BRCA 2. Ini adalah indikasi utama untuk dilakukan operasi mastektomi preventif bilateral.
  • Melakukan terapi radiasi pada daerah dada sebelum usia 30 tahun.
Risiko tambahan juga dimiliki wanita yang belum pernah hamil setelah usia 30 tahun serta mengalami menstruasi sebelum umur 12 tahun atau menopause setelah umur 55 tahun.

Tindakan mastektomi preventif ini merupakan operasi pilihan bagi individu yang berisiko tinggi mengalami perkembangan kanker payudara.

Yang Perlu Diperhatikan sebelum Operasi Mastektomi Preventif?

Sebelum menjalani operasi mastektomi, pasien harus menjalani pemeriksaan secara intensif, termasuk mammogram, MRI payudara untuk mendeteksi jika ada sel kanker yang berkembang. Selain itu, mastektomi preventif ini baru bisa dipertimbangkan setelah kita melakukan pemeriksaan genetik dan konseling psikologi untuk membahas dampak psikososial dari prosedur tersebut.

Bagi wanita yang memilih menjalani mastektomi preventif, kini dimungkinkan melakukan mastektomi yang dipadukan dengan prosedur rekonstruksi payudara secepatnya. Banyak wanita merasa senang setelah memilih mastektomi dengan perbaikan tersebut. Operasi bukanlah pendekatan yang dianjurkan bagi semua orang yang berisiko tinggi, tapi itu bisa sangat berarti bagi sebagian orang.

Berdasarkan riset tentang dampak psikososial mastektomi preventif, sebagian besar wanita berisiko tinggi yang melakukan prosedur ini mengalami pengurangan kadar stres serta tidak mengalami kesulitan psikososial. Secara umum, para wanita yang telah menjalani mastektomi preventif merasa puas dengan keputusan mereka atas tindakannya tersebut.

Di sisi lain, prosedur mastektomi memiliki beberapa risiko. Pasien mastektomi akan dihadapkan kepada efek samping dari pembiusan, pendarahan, rasa sakit karena infeksi, serangan kecemasan, dan kekecewaan. Setelah operasi dilakukan, pemeriksaan payudara secara rutin tetap disarankan.

Ada beberapa pilihan lain guna mengurangi risiko kanker payudara di masa mendatang, antara lain:

Pemeriksaan dini

Cocok bagi seorang wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara sebagaimana upaya ini dinilai efektif dalam mendeteksi kanker pada stadium awal sehingga kanker tersebut masih dapat diobati.

Penggunaan obat-obatan

Terdapat obat-obatan tertentu yang berfungsi menghalangi efek estrogen, seperti tamoxifen. Obat-obatan tersebut dapat mengurangi risiko kanker payudara hingga 50 persen.

Menjalani pola hidup yang lebih sehat

Perubahan gaya hidup yang bisa dilakukan adalah menjalani diet khusus untuk mendapatkan berat badan yang ideal. Menghindari kebiasaan merokok dan membatasi konsumsi minuman beralkohol juga diyakini dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara.

Pada dasarnya, tiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda. Maka dari itu, demi bisa memutuskan langkah yang terbaik bagi diri sendiri, penting untuk membicarakan hal ini kepada dokter guna membahas semua kemungkinan yang tersedia.