Melatih Anak Punya Empati agar Lebih Sukses dan Bahagia

Di dunia yang makin intoleran dan penuh prasangka ini, penting untuk mengajari anak-anak memiliki rasa empati. Dalam hal ini, orang tua adalah teladan di dalam keseharian mereka.

Sejak lahir, anak-anak ternyata memiliki kemampuan alami untuk menyayangi orang lain dan benda-benda di sekitarnya. Selanjutnya, kemampuan ini dipengaruhi oleh perkembangan kemampuan lain, seperti rasa ingin tahu dan hasrat untuk memenuhi kebutuhannya nanti. Ada kalanya pula dia marah saat seorang teman memegang mainan kesayangannya. Di sinilah peran orang tua direalisasikan dalam mengarahkan anak untuk pandai mengelola emosi dan belajar untuk bersikap positif.

empati-alodokter

Empati sebagai Bagian Keseharian

Secara alami, sebagian anak lebih mudah merasakan empati kepada orang lain, sementara sebagian lain kurang peka. Bagaimanapun juga, hal ini masih dapat dilatih lewat keseharian. Berikut panduan umum yang dapat dipilih sesuai usia Si Kecil. Umumnya, seorang anak baru dapat sepenuhnya memahami konsep empati pada kisaran usia 8-9 tahun. Tetapi pada usia lima tahun pun, dia sudah dapat menyatakan perasaan tentang bagaimana dirinya ingin diperlakukan, sekaligus bagaimana sebaiknya memperlakukan orang lain.

Mengenali dan mengelola emosi sendiri

Empati membutuhkan pengelolaan emosi diri sendiri.

  • Ajak dia untuk mengenali emosi yang sedang dirasakannya agar lebih mudah merasakan yang mungkin dirasakan orang lain. Anda dapat melakukannya dengan berbagai cara, seperti menyediakan kumpulan stiker bergambarkan ekspresi emosi dasar, mencakup wajah sedih, marah, dan senang. Tiap hari minta dia memilih salah satu stiker yang bisa menggambarkan perasaannya. Jika memungkinkan, bujuk dia untuk menceritakan alasan kesedihan, kesenangan, atau kemarahannya.
  • Ajari dia untuk dapat mengelola emosinya sendiri. Ajak dia berlatih menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. Kemarahan yang menguasai sering membuat orang tidak dapat berempati.

Latihan mengelola emosi merupakan proses jangka panjang dan bahkan bisa terus berlanjut hingga dewasa.

Interaksi dengan orang lain

Bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain menjadi petunjuk apakah dia telah mengembangkan sikap empatinya.

  • Tegur anak jika melakukan hal-hal yang menjurus kepada sikap kasar atau tidak sopan, seperti meludahi temannya. Ingatkan dia juga untuk jangan meniru perbuatan tidak sopan orang lain. Menurut seorang psikoterapis, jangan pernah membuat pengecualian atas tindakan-tindakan yang sangat tidak dapat diterima, seperti memukul, apa pun alasannya atau di mana pun lokasinya.
  • Jadikan pekerjaan rumah tangga sebagai bagian dari aktivitas keseharian seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Berikan dia tanggung jawab ringan, seperti membereskan tempat tidur dan mainannya sendiri, mengelap kaca, atau menyiram tanaman di kebun.
  • Jelaskan pekerjaan orang-orang yang berada di sekelilingnya, terutama yang sering dianggap tidak terlalu penting, seperti tukang sapu jalan atau pengangkut sampah. Jelaskan bahwa jika mereka tidak ada, sampah akan menumpuk di jalanan dan berisiko menimbulkan penyakit. Dari sini dia akan belajar menghargai kehadiran orang lain yang sering dipandang sebelah mata.
  • Ingatkan Si Kecil untuk tidak menyapa teman-temannya dengan panggilan yang tidak menyenangkan, apalagi dengan kata-kata yang cenderung mengolok-olok. Ajak dia membayangkan bagaimana jika situasi tersebut terjadi pada dirinya.
  • Beri konsekuensi saat dia melanggar ketentuan atau peraturan tertentu. Beberapa hukuman yang dapat diterapkan antara lain, tidak boleh bermain dengan mainan favoritnya selama satu hari. Sesuaikan konsekuensi ini dengan usianya.
  • Berikan pujian atas adanya sikap dan tindakan yang baik, meski bukan dia yang lakukan. Ucapkan seperti, “Wah, baik sekali orang yang membantu nenek tadi menyeberang jalan.” Ini juga dapat dilakukan saat menonton TV atau membacakan cerita di rumah. Anda dapat menunjuk karakter yang sedang bersedih, lalu tanyakan kepadanya, “Apa yang harus dia lakukan supaya nggak sedih lagi?” Lama-kelamaan dia akan memahami bahwa perbuatan baik adalah tindakan yang terpuji.
  • Mengikutsertakannya ke dalam olahraga beregu dapat membuat anak belajar untuk mau bekerja sama, menunggu giliran, belajar untuk berusaha menang, sekaligus belajar menerima kekalahan.

Selain langkah di atas, Anda juga dapat mengajaknya melakukan hal-hal sederhana untuk orang lain, seperti membawakan makanan untuk tetangga yang sakit, mendonasikan pakaian, mainan bekas untuk korban bencana alam, atau sekedar mempersilakan orang lain untuk berjalan lebih dulu keluar dari pintu.

Anak akan mencontoh orang tua

Anda adalah teladan anak dalam berempati. Cermati apakah keseharian Anda sudah mencerminkan hal-hal di bawah ini.

Bicaralah dengan tenang menggunakan pilihan kata yang baik kepada anak. Ini akan menjadi contoh utama bagi anak untuk bersikap di masa mendatang. Saat dia berbuat salah atau marah, bersikaplah tegas. Ingatlah bahwa sikap tegas berbeda dengan kasar.

Meski mungkin terasa sulit, segera minta maaf kepadanya saat Anda bersalah. Anak akan belajar untuk menyadari bahwa siapa pun bisa berbuat salah, tetapi yang terpenting adalah memberanikan diri untuk meminta maaf.

Anda juga dapat membicarakan perasaan Anda sendiri, seperti, “Mama sedih kalau kamu membentak Mama,” atau, “Mama juga pernah marah sama teman Mama, tapi besoknya kita sudah main sama-sama lagi.” Kalimat seperti ini akan membuatnya berintrospeksi.

Oleh karena anak-anak belum memiliki ingatan jangka panjang, maka langkah terbaik adalah dengan mengulang teladan yang ingin Anda berikan sesering mungkin. Empati bukanlah sesuatu yang bisa dibentuk secara instan, tapi merupakan hasil pilihan-pilihan kecil tiap hari.